Pendidikan Keuangan Anak Sebelum 12 Tahun: Bekal Literasi Uang

TODAY.com

TODAY.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Pendidikan keuangan anak sebelum 12 tahun kini makin dianggap mendesak, setelah sebuah survei terbaru menyebut lebih dari 60% orang tua berencana mulai mengajarkan uang sejak dini. Di layar TODAY, Yanely Espinal dari Next Gen Personal Finance menegaskan, kebiasaan uang bukan sekadar hitung-hitungan, melainkan latihan karakter sehari-hari.

Di banyak rumah, uang masih jadi topik yang canggung, bahkan tabu, padahal anak melihat transaksi setiap hari. Mereka menyaksikan orang tua berbelanja, membayar tagihan, dan berdebat soal prioritas, lalu menyerapnya sebagai “normal”.

Masalahnya, sekolah sering baru menyentuh literasi finansial ketika remaja, sementara kebiasaan konsumsi terbentuk lebih awal. Ketika gawai memudahkan belanja impulsif, anak bisa tumbuh dengan pola “ingin sekarang” tanpa peta konsekuensi.

Survei yang dikutip TODAY pada 6 Juli 2026 menunjukkan perubahan sikap: mayoritas orang tua ingin memulai sebelum usia 12 tahun. Ini menandai kekhawatiran baru bahwa keterampilan mengelola uang sama pentingnya dengan membaca dan berhitung.

Angka “lebih dari 60%” bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahwa keluarga mulai mengisi kekosongan yang ditinggalkan kurikulum. Di banyak negara, literasi keuangan masih tidak merata, sementara akses kredit dan iklan digital makin agresif.

Espinal, direktur educational outreach di Next Gen Personal Finance dan penulis “Mind Your Money,” mendorong percakapan uang yang praktis. Ia menekankan alat sederhana untuk memantik dialog tentang kebiasaan, seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memberi ruang anak untuk bertanya tanpa dihakimi.

Secara psikologis, usia sekolah dasar adalah fase ketika anak mulai memahami pertukaran nilai dan menunda kepuasan. Jika pada fase ini mereka dilatih menabung untuk tujuan kecil, mereka belajar bahwa waktu dan pilihan punya harga.

Namun, pendidikan keuangan anak sering keliru dibingkai sebagai “cara cepat jadi kaya”. Padahal inti yang lebih relevan adalah ketahanan finansial: mengelola uang saku, memahami batas, dan menghindari jebakan konsumsi yang dibungkus tren.

Orang tua juga perlu sadar bahwa contoh lebih keras daripada nasihat. Anak yang melihat orang tuanya transparan soal anggaran dan disiplin belanja cenderung menangkap pola yang sama, meski tidak pernah diberi ceramah panjang.

Di sisi lain, transparansi punya batas etis. Membebani anak dengan kecemasan ekonomi keluarga justru bisa melahirkan rasa takut, bukan keterampilan, sehingga percakapan harus disesuaikan usia dan konteks.

Gelombang minat mengajarkan uang sebelum 12 tahun terasa seperti respons terhadap dunia yang makin “berbayar”. Hampir semua aktivitas anak kini bersentuhan dengan transaksi, dari gim, langganan, hingga donasi kreator.

Karena itu, literasi uang seharusnya dipahami sebagai literasi hidup. Anak yang paham uang bukan hanya lebih cakap menabung, tetapi juga lebih sulit dimanipulasi oleh diskon palsu, paylater, dan budaya pamer.

Namun ada risiko baru: pendidikan keuangan berubah menjadi proyek prestise orang tua. Ketika targetnya adalah anak “lebih unggul” dibanding teman, pelajaran uang bisa kehilangan empati dan berubah menjadi kompetisi.

Yang perlu dikejar justru kebiasaan kecil yang konsisten. Membuat pilihan, menanggung konsekuensi ringan, dan belajar menyumbang adalah latihan moral yang mengikat uang dengan nilai.

Di titik ini, pesan Espinal terasa penting: percakapan uang bukan satu kali, melainkan berulang dan bertahap. Anak tidak butuh istilah rumit, mereka butuh contoh yang jujur dan bahasa yang membumi.

Pendidikan keuangan anak sebelum 12 tahun pada akhirnya adalah upaya menyiapkan generasi yang tidak mudah terseret arus konsumsi. Survei yang menunjukkan lebih dari 60% orang tua ingin memulai lebih awal memberi harapan bahwa rumah kembali menjadi sekolah pertama soal uang.

Tetapi pertanyaan reflektifnya tetap tajam: apakah kita mengajarkan anak “cara memakai uang”, atau “cara mengambil keputusan” yang akan menentukan hidupnya? Jika uang selalu bicara tentang nilai, maka pelajaran terbaik mungkin dimulai dari nilai apa yang ingin kita wariskan. (Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)