AI untuk Jawaban Agama: Tabayyun Muhammadiyah di Era Digital

Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Pencarian “AI untuk tanya agama” melonjak seiring publik makin akrab dengan chatbot dan mesin pencari berbasis kecerdasan buatan. Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad mengingatkan, AI itu netral, tetapi jawaban agama tetap wajib ditabayyun dan diverifikasi.

Di ruang digital, AI kini bukan sekadar alat mencari informasi umum, tetapi juga menjadi “ruang tanya” tentang fikih, akidah, dan rukun-rukun dasar. Pergeseran ini membuat otoritas pengetahuan keagamaan berpotensi bergeser dari guru dan kitab ke layar dan algoritma.

Dadang Kahmad menyebut AI dapat menjawab pertanyaan agama, tetapi terbatas oleh input data yang masuk. Karena itu, ia menegaskan perlunya bimbingan pakar untuk memeriksa akurasi dan kedalaman jawaban.

Peringatan ini disampaikan dalam Catatan Akhir Pekan (CAP) TvMu Channel, Sabtu (31/10). Pesannya sederhana, kecepatan AI tidak boleh mengalahkan kehati-hatian dalam menyimpulkan kebenaran.

AI bekerja sebagai algoritma yang memprediksi keluaran dari pola data, bukan sebagai “subjek beriman” yang memahami makna. Ketika data yang dilatih atau dirujuk tidak lengkap, bias, atau keliru, jawaban yang muncul bisa terdengar meyakinkan tetapi rapuh.

Di sinilah prinsip Qs al-Hujurat (49) ayat 6 tentang tabayyun menjadi relevan dalam konteks teknologi. Verifikasi bukan sekadar etika bermedia, tetapi metodologi untuk mencegah kebohongan tampil sebagai kebenaran.

Dadang menekankan, “Tidak semua informasi dari AI itu akurat,” dan muatan jawabannya sering tidak mendalam. AI bisa menyebut “berapa rukun iman” atau “berapa rukun Islam,” tetapi kedalaman dalil, konteks, dan disiplin istinbath tidak otomatis hadir.

Dalam tradisi keilmuan Islam, jawaban agama idealnya bertumpu pada sanad pengetahuan, ketepatan rujukan, dan penguasaan ushul. Ketika AI merangkum tanpa mengikat diri pada otoritas kitab yang jelas, risiko “jawaban serampangan” meningkat.

Fenomena ini juga menyentuh persoalan literasi digital umat. Banyak pengguna menilai jawaban berdasarkan kelancaran bahasa, bukan kualitas rujukan, padahal AI mampu menyusun kalimat yang sangat persuasif.

Riset dan laporan global tentang model bahasa besar juga berulang kali menyinggung risiko “hallucination,” yakni keluaran yang tampak benar namun tidak memiliki dasar faktual yang kuat. Dalam isu agama, satu kekeliruan kecil bisa memicu salah paham besar, bahkan pembenaran tindakan yang keliru.

Karena itu, “guidance” dari ulama, kiai, dan akademisi menjadi pagar epistemik. Verifikasi dapat dilakukan dengan membandingkan jawaban AI pada kitab mu’tabar, fatwa resmi, dan pendapat ahli yang kompeten di bidangnya.

Peringatan Dadang Kahmad sebetulnya bukan anti-teknologi, melainkan pro-ketelitian. AI boleh menjadi pintu awal mencari gambaran, tetapi tidak layak menjadi palu terakhir yang mengetuk vonis kebenaran agama.

Netralitas AI justru membuatnya berbahaya bila dipakai tanpa kompas nilai dan disiplin ilmu. Ia tidak punya “emosi iman,” tidak punya rasa takut salah, dan tidak punya tanggung jawab moral atas dampak jawaban yang disebarkan.

Di titik ini, publik perlu membedakan “informasi keagamaan” dan “bimbingan keagamaan.” Informasi bisa disajikan mesin, tetapi bimbingan memerlukan keteladanan, niat, dan pertanggungjawaban yang melekat pada manusia.

Jika umat menjadikan AI sebagai rujukan tunggal, yang terjadi adalah pemiskinan tradisi dialog dan talaqqi. Agama lalu dipersempit menjadi daftar jawaban cepat, padahal iman bertumbuh lewat proses, pergulatan batin, dan pembelajaran yang berlapis.

Yang dibutuhkan bukan larangan menyeluruh, melainkan etika penggunaan. Jadikan AI sebagai asisten ringkas, lalu naikkan standar dengan tabayyun, cek dalil, dan bertanya pada ahli ketika menyentuh wilayah akidah, ibadah, dan muamalah yang kompleks.

AI memang canggih, tetapi ia hanya sekuat data dan desain yang membentuknya. Agama menuntut lebih dari sekadar keluaran teks, ia menuntut ketepatan, kejujuran ilmiah, dan kedalaman makna.

Tabayyun adalah rem yang membuat manusia tidak terjerembap oleh kecepatan. Pertanyaannya kini, saat jawaban ada dalam hitungan detik, apakah kita masih bersedia meluangkan waktu untuk memastikan kebenaran sebelum mengamalkan dan menyebarkannya.

(Orbit dari berbagai sumber, 4 November 2026)