Singapura Membagi Armada F-35: 12 Jet Siluman di Amerika, 8 di Tanah Air
ORBITINDONESIA.COM - Singapura sedang membangun kekuatan udara generasi kelima dengan cara yang tidak biasa. Dari 20 jet tempur F-35 yang dipesannya, sebagian besar F-35B akan menjalani kehidupan operasional dan pelatihan di Amerika Serikat, sementara F-35A akan ditempatkan di Singapura.
Sekilas, keputusan itu tampak janggal.
Mengapa negara kecil di Asia Tenggara membeli 20 pesawat tempur siluman paling canggih di dunia, tetapi tidak menempatkan seluruh armadanya di wilayah sendiri?
Jawabannya justru memperlihatkan bagaimana Singapura memandang perang udara modern.
Singapura telah mengonfirmasi pembelian 20 F-35, terdiri atas delapan F-35A dan 12 F-35B. Delapan F-35A ditujukan untuk memperkuat kemampuan tempur dari pangkalan udara di Singapura, sedangkan F-35B akan memiliki detasemen pelatihan di Ebbing Air National Guard Base, Fort Smith, Arkansas.
Ebbing bukan pangkalan biasa. Fasilitas tersebut sedang dikembangkan sebagai pusat pelatihan F-35 bagi sejumlah negara pengguna, termasuk Singapura, Finlandia, Polandia, Jerman dan Swiss. Para penerbang dan personel pemeliharaan dari berbagai negara akan berlatih dalam lingkungan yang sama, menggunakan fasilitas dan infrastruktur yang memang dirancang untuk operasi F-35.
Dengan demikian, yang sedang dibangun Singapura sebenarnya bukan sekadar armada 20 pesawat.
Yang dibangun adalah ekosistem F-35 lintas benua.
Mengapa harus Amerika?
Jawabannya sederhana: Singapura kekurangan ruang.
Negara itu memiliki wilayah daratan dan ruang udara yang sangat terbatas. Latihan tempur udara modern membutuhkan wilayah latihan yang luas, kompleksitas medan yang memadai, fasilitas simulasi, pengujian persenjataan, pelatihan peperangan elektronik, serta kesempatan menghadapi negara pengguna F-35 lainnya.
Semua itu sulit diperoleh jika seluruh aktivitas latihan dipusatkan di Singapura.
Karena itu, sejak awal Singapura memang memandang Amerika Serikat sebagai bagian penting dari program F-35. Ketika empat F-35B pertama dipesan pada 2020, Kementerian Pertahanan Singapura sudah menyatakan bahwa pesawat-pesawat tersebut akan ditempatkan di Amerika Serikat untuk pelatihan dan evaluasi mendalam.
Pada perkembangan berikutnya, Singapura memutuskan menambah delapan F-35B dan kemudian membeli delapan F-35A. Totalnya menjadi 20 pesawat. F-35B pertama dijadwalkan diterima pada akhir 2026, disusul delapan F-35B berikutnya pada 2028. F-35A diperkirakan mulai tiba di Singapura sekitar 2029–2030.
Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing bahkan menggambarkan program tersebut sebagai “one step in a long journey”—sebuah langkah dalam perjalanan panjang yang melibatkan Lockheed Martin, pemerintah Amerika Serikat, Angkatan Udara AS dan komunitas Ebbing.
Artinya jelas: bagi Singapura, membeli F-35 bukan transaksi membeli pesawat semata.
F-35 bukan sekadar pesawat tempur
Ada alasan lain mengapa Ebbing begitu penting.
F-35 dirancang bukan hanya sebagai pesawat yang sulit dideteksi radar. Nilai utamanya terletak pada kombinasi sensor, data fusion, peperangan elektronik, komunikasi, kemampuan berbagi data dan jaringan komando.
Karena itu, kualitas penerbangannya sangat bergantung pada kualitas lingkungan pelatihannya.
Di Ebbing, personel Singapura dapat berlatih bersama pengguna F-35 dari negara lain dan memperoleh pelatihan dari instruktur Angkatan Udara Amerika Serikat yang berkualifikasi. MINDEF menyebut kemampuan tersebut sebagai bagian penting dari pembangunan kapasitas F-35 Singapura.
Dengan kata lain, Singapura mendapatkan sesuatu yang tidak mudah dibangun sendiri: pengalaman operasional dalam komunitas global F-35.
Di sinilah strategi Singapura menjadi menarik.
Delapan F-35A memberikan kekuatan generasi kelima yang berada di dekat pusat pertahanan negara.
Sementara F-35B di Amerika memberikan kedalaman strategis, sekaligus lingkungan pelatihan yang jauh lebih luas.
F-35A dan F-35B juga memiliki karakter berbeda. F-35A merupakan varian conventional take-off and landing yang memiliki daya jelajah dan kapasitas muatan lebih besar. F-35B memiliki kemampuan short take-off and vertical landing atau STOVL—kemampuan yang sangat menarik bagi negara dengan keterbatasan lahan seperti Singapura. (F-35 Lightning II)
Maka pembagiannya dapat dibaca sebagai sebuah kombinasi:
F-35A untuk daya pukul dari pangkalan utama.
F-35B untuk fleksibilitas, pelatihan dan kedalaman operasional.
Tetapi apakah 12 F-35B benar-benar “diparkir permanen” di Amerika?
Di sinilah diperlukan sedikit kehati-hatian.
Laporan terbaru mengenai program F-35 Singapura menyebutkan penempatan 12 F-35B di Ebbing sebagai bagian dari struktur jangka panjang program tersebut. Namun, MINDEF pada Februari 2026 masih menyatakan bahwa rincian local delivery timeline and basing belum difinalkan karena proses perencanaan dan produksi masih berlangsung.
Karena itu, istilah yang lebih tepat bukan bahwa Singapura “kehilangan” 12 pesawatnya di Amerika.
Lebih tepat melihatnya sebagai detasemen F-35B yang berpusat di Amerika untuk pelatihan dan pembentukan kemampuan, dengan kemungkinan penggunaan operasional sesuai kebutuhan dan keputusan Singapura di kemudian hari.
Ini penting karena sebuah pesawat yang berada di Arkansas tentu tidak dapat tiba-tiba muncul di langit Singapura ketika perang pecah.
Pemindahan satu skuadron tempur lintas Pasifik membutuhkan pesawat tanker, dukungan logistik, suku cadang, personel pemeliharaan, persenjataan, komunikasi, perizinan diplomatik serta pangkalan transit.
Jadi, keberadaan F-35B di Amerika bukan pengganti kekuatan udara yang tersedia langsung di Singapura.
Ia lebih tepat dipandang sebagai lapisan kedalaman strategis.
Mengapa tidak menaruh semua F-35 di Singapura?
Justru karena Singapura sangat kecil. Bayangkan seluruh 20 pesawat siluman generasi kelima dikonsentrasikan di satu wilayah geografis yang sangat terbatas. Dalam perang modern, konsentrasi semacam itu menciptakan risiko.
Satu serangan presisi terhadap pangkalan udara, landasan, fasilitas bahan bakar, pusat komando atau infrastruktur pendukung dapat mengganggu sebagian besar kekuatan udara sekaligus.
Menyebarkan kekuatan berarti mengurangi risiko tersebut. Prinsipnya sederhana: jangan menaruh seluruh aset paling berharga di satu keranjang.
Singapura sudah lama menerapkan logika serupa dengan mempertahankan berbagai fasilitas dan detasemen latihan di luar negeri. Pada 2020, misalnya, Menteri Pertahanan Ng Eng Hen menjelaskan bahwa detasemen tempur di luar negeri juga memberi kemampuan untuk melakukan latihan lebih besar sekaligus memungkinkan pesawat dikerahkan kembali ke Singapura bila diperlukan.
Bagi negara kecil, geografi bukan sekadar persoalan peta. Geografi adalah persoalan kelangsungan hidup.
Singapura membayar bukan sekadar untuk membeli 20 pesawat
Program F-35 Singapura juga menunjukkan bahwa harga sebuah pesawat tempur modern tidak dapat dihitung hanya dari harga badan pesawat.
Nilai program FMS Singapura yang dilaporkan dalam dokumen Amerika mencapai sekitar US$4,059 miliar. Angka tersebut tidak tepat jika langsung dibagi 20 lalu disebut sebagai harga satu F-35.
Paket FMS mencakup berbagai komponen pendukung seperti mesin, sistem elektronik, pelatihan, dukungan logistik, suku cadang, perangkat pendukung dan elemen lain yang diperlukan agar pesawat benar-benar dapat dioperasikan.
Itulah sebabnya harga “pesawat” dan biaya membangun kemampuan tempur F-35 merupakan dua hal yang berbeda.
Sebagai gambaran, program Amerika sendiri membedakan F-35A, F-35B dan F-35C berdasarkan konfigurasi serta kemampuan masing-masing. F-35B, dengan kemampuan STOVL, memang merupakan varian yang lebih kompleks dibanding F-35A.
Ada pesan strategis yang lebih besar
Yang menarik dari keputusan Singapura bukan semata-mata jumlah F-35 yang dibeli. Pesannya adalah cara sebuah negara kecil menghadapi persoalan klasik dalam strategi pertahanan: bagaimana mempertahankan daya tangkal ketika wilayah sendiri sangat terbatas?
Jawaban Singapura bukan membangun pangkalan yang semakin besar. Jawabannya adalah membangun jaringan.
Jaringan pangkalan, jaringan pelatihan, jaringan logistik, jaringan informasi, jaringan industri pertahanan dan jaringan hubungan militer.
F-35 sangat cocok dengan pendekatan tersebut karena pesawat ini sejak awal dirancang sebagai bagian dari ekosistem tempur yang saling terhubung.
Dalam konteks itu, Ebbing di Arkansas bukan sekadar tempat menyimpan pesawat Singapura.
Ia merupakan bagian dari strategi.
Dan strategi tersebut memperlihatkan sebuah paradoks menarik.
Singapura memang membeli pesawat tempur untuk mempertahankan negaranya. Tetapi sebagian dari kekuatan itu justru ditempatkan jauh dari negaranya agar dapat dibangun, dilatih dan dipersiapkan dengan lebih baik.
Delapan F-35A nantinya memberi Singapura kekuatan tempur generasi kelima yang berada di rumah sendiri.
Sementara 12 F-35B yang berpusat pada fasilitas pelatihan di Amerika memberi kedalaman, fleksibilitas dan akses ke ekosistem F-35 global.
Jadi, pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi: “Mengapa Singapura menempatkan F-35-nya di Amerika?”
Pertanyaan yang lebih strategis adalah: “Mengapa negara sekecil Singapura sengaja tidak menaruh seluruh kekuatan udara generasi kelimanya di satu tempat?”
Jawabannya mungkin terletak pada satu prinsip sederhana:
Kekuatan tidak selalu berarti menumpuk semua senjata di rumah. Kadang-kadang, kekuatan justru berarti memastikan bahwa ketika rumah diserang, sebagian kemampuan untuk membalas masih tetap hidup di tempat lain.
Singapura tampaknya sedang membangun kekuatan udara dengan logika itu:
Berlatih secara global.
Bertempur bila diperlukan di kawasan.
Dan, yang paling penting, memastikan kekuatan udaranya tidak mudah dilumpuhkan dalam satu pukulan.
Ada satu hal yang menurut saya menarik untuk diberi penekanan editorial bila berita ini akan dimuat di ARMORY atau media pertahanan: jangan memakai judul “12 F-35B Singapura permanen di Amerika” tanpa atribusi, karena status basing tersebut masih berkembang. Judul “Singapura Membagi Armada F-35: 12 F-35B di AS, 8 F-35A di Tanah Air” lebih aman sekaligus tetap punya daya tarik. ***