Saham Amazon Murah di Era AI: Hedge Fund Serbu AWS
ORBITINDONESIA.COM – Saham Amazon kembali jadi pusat perdebatan dalam narasi investment move paling ramai: apakah raksasa AI ini justru murah ketika terlihat mahal. Sejumlah hedge fund papan atas menambah kepemilikan, karena mereka melihat celah antara kinerja AWS yang melesat dan harga saham yang tak ikut berlari.
Daftar pembeli Amazon bukan nama kecil, melainkan “murderers’ row” manajer dana seperti David Tepper (Appaloosa), Seth Klarman (Baupost), Al Gore (Generation), hingga Sanders Capital. Bagi Klarman dan Tepper, Amazon bahkan menjadi posisi terbesar di portofolio mereka.
Pershing Square milik Bill Ackman juga membangun posisi dari nol sekitar setahun lalu, dan kini menempatkan Amazon sebagai posisi kedua terbesar sekitar US$2,4 miliar. Sanders Capital menggandakan kepemilikan pada kuartal I 2026 menjadi 29,8 juta saham senilai sekitar US$6,2 miliar, menjadikannya posisi ketiga setelah TSMC dan Alphabet.
Di saat saham-saham “AI trade” lain terbang, Amazon justru tampak seperti tertinggal. Dalam 12 bulan terakhir, Amazon hanya naik sekitar 10,1% dan year-to-date 3,4%, ketika Nvidia naik 35%, Intel 496%, dan Micron 719%.
Kontras inilah yang memantik narasi “saham Amazon murah” di kalangan value investor. Mereka membaca pasar sedang menilai cerita AI lewat momentum, bukan lewat mesin uang yang sedang dibangun.
Argumen utamanya bertumpu pada AWS, tulang punggung komputasi untuk AI. CEO Andy Jassy menyebut AWS baru mencatat “fastest growth in 15 quarters,” dan angka kuartal I 2026 menunjukkan AWS tumbuh 28% menjadi US$37,6 miliar.
Amazon juga melaporkan backlog pendapatan kontrak yang belum diakui sebesar US$364 miliar per 31 Maret. Angka itu bahkan belum memasukkan kesepakatan Anthropic yang akan membelanjakan lebih dari US$100 miliar di AWS selama satu dekade.
Dari sisi perusahaan induk, penjualan total naik 17% menjadi US$181,5 miliar, dengan operating income US$23,9 miliar. Ini bukan profil bisnis yang sedang lesu, melainkan bisnis yang sedang mempercepat laju.
Namun pasar tetap menatap metrik yang membuat Amazon terlihat mahal. Saham diperdagangkan sekitar 27 kali forward earnings, lebih tinggi dari Microsoft atau Nvidia yang berada di kisaran 18–20 kali, dan di atas Meta sekitar 17 kali.
Di sinilah “trik” valuasi muncul: Amazon sedang menekan laba jangka pendek karena belanja modal besar. Perusahaan menyatakan akan menggelontorkan sekitar US$200 miliar capex pada 2026, mayoritas untuk AWS demi menambah kapasitas cloud dan AI.
Belanja agresif itu menahan earnings, sehingga rasio P/E terlihat tidak ramah. Tetapi bagi investor yang percaya capex berubah menjadi arus kas masa depan, mahal di P/E bisa berarti murah di nilai intrinsik.
Charles Lemonides dari ValueWorks merangkum logika sum-of-the-parts dengan bahasa tajam. Ia menilai AWS saja kira-kira bernilai setengah dari kapitalisasi Amazon sekitar US$2,5 triliun, sementara ritel bernilai setengah lainnya.
Jika hitungan itu mendekati benar, maka bisnis iklan yang tumbuh cepat, media, streaming, dan “lain-lain” seperti bonus gratis. Lemonides menyebut Amazon berada “in the catbird seat,” karena menguasai komputasi yang semua orang cari saat ini.
Wall Street pun memberi amunisi serupa, meski dengan bahasa yang lebih formal. Bank of America memberi rating buy dengan target sekitar US$310 berbasis analisis sum-of-the-parts yang menempatkan AWS sebagai sumber nilai terbesar.
Morgan Stanley pernah menilai Amazon diperdagangkan dengan diskon terhadap peer jika memperhitungkan ekspektasi pertumbuhan laba. Ini menegaskan bahwa “mahal” di permukaan bisa berubah menjadi “murah” ketika variabel pertumbuhan dimasukkan.
Dari sisi arus dana, pembelian tidak hanya datang dari segelintir hedge fund. Data Quiver Quantitative yang dikutip Fortune menyebut investor institusional melaporkan memiliki 253 juta saham Amazon lebih banyak pada kuartal terbaru dibanding kuartal sebelumnya.
Pembeli besar termasuk UBS Asset Management, Norges Bank, Victory Capital Management, dan Pershing Square. Polanya menunjukkan minat yang meluas, meski harus diingat pelaporan 13F bersifat snapshot dan tertunda hingga 45 hari.
Di sisi lain, ada penjual besar yang membuat cerita ini tidak hitam-putih. Berkshire Hathaway memangkas kepemilikan dari 10 juta saham menjadi 2,3 juta pada akhir 2025, dan filing terbaru bahkan tidak mencantumkan Amazon.
Stanley Druckenmiller juga hampir menghapus posisi saham biasa, memotong sekitar 94% menjadi kurang dari 46 ribu saham. Namun ia justru menggandakan call options dari 100 ribu menjadi 200 ribu saham ekuivalen, sebuah taruhan leverage bahwa harga bisa naik.
James Kardatzke dari Quiver mengingatkan bahwa penjualan tidak selalu berarti bearish. Rebalancing, kebutuhan likuiditas, atau mandat portofolio bisa memaksa keputusan yang tidak mencerminkan keyakinan jangka panjang.
Yang menarik, perdebatan ini sebenarnya bukan soal apakah Amazon perusahaan bagus. Pertanyaannya lebih tajam: apakah pasar sedang “menghukum” Amazon karena memilih membangun jalan tol AI, bukan memoles laba kuartalan.
Dalam pasar yang digerakkan momentum, pemenang adalah yang grafiknya paling curam, bukan yang fondasinya paling tebal. Amazon tidak meledak seperti saham AI lain, sehingga sebagian investor tampak lelah menunggu “hari euforia” itu.
Di titik ini, narasi “saham Amazon murah” menjadi ujian karakter investasi. Value investor melihat ketidaksabaran publik sebagai peluang, sementara pemburu momentum melihatnya sebagai sinyal untuk pindah ke panggung yang lebih bising.
Namun ada risiko yang tidak boleh dipoles dengan romantisme sum-of-the-parts. Capex US$200 miliar adalah janji besar, dan janji besar bisa berubah menjadi beban jika permintaan AI melambat atau kompetisi cloud menekan margin.
Selain itu, valuasi AWS sebagai “setengah Amazon” adalah asumsi yang bergantung pada sentimen pasar terhadap cloud. Jika pasar menurunkan multiple sektor, maka hitungan “gratis” pada iklan dan media bisa menguap tanpa peringatan.
Tetapi justru di sini letak ketajaman kasus Amazon: perusahaan sedang membeli waktu depan dengan uang hari ini. Lemonides bahkan menyatakan ia akan mendanai akumulasi Amazon dengan memangkas pemenang seperti Micron dan Intel, sebuah rotasi dari euforia ke utilitas.
Amazon sedang diposisikan sebagai bargain megacap di era AI, karena kinerja AWS melaju sementara sahamnya tidak ikut berpesta. Bagi sebagian manajer dana, inilah momen “skate to where the puck is going,” bukan mengejar puck yang sudah ramai diperebutkan.
Namun bagi pembaca, pelajaran terbesarnya bukan sekadar ikut membeli atau menolak. Pelajarannya adalah membedakan “mahal karena rasio” dan “mahal karena masa depan,” lalu bertanya: kapan pasar mulai menghargai investasi yang tidak instan.
Jika AI adalah perlombaan infrastruktur, maka Amazon sedang membangun pembangkit listriknya sendiri. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita cukup sabar menunggu lampu-lampu itu menyala, atau memilih menari di kilau yang sudah ada. (Orbit dari berbagai sumber, 7 September 2026)