Denny JA: Suara Para Penulis Aceh Soal Bencana 2025

Ilustrasi banjir besar di Aceh.

Ilustrasi banjir besar di Aceh.

Opini

SUARA PARA PENULIS ACEH SOAL BENCANA 2025 - Pengantar Buku Karya Satupena Aceh

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Di sebuah mushala kecil, dua hingga tiga ratus orang berdesakan di atas atap, sementara air mengepung mereka dan pertolongan belum juga tiba.

Di tengah ketakutan itu, seorang perempuan justru melahirkan. Bayi membuka mata ketika dunia orang dewasa sedang kehilangan tanah tempat berpijak.

Di tempat lain, manusia bertahan berhari-hari di atas pohon, tiang listrik, dan atap rumah. Mereka menunggu air kehilangan tenaga dan harapan menemukan jalan.

Bencana memang memiliki ironi paling purba. Ketika sesuatu dihancurkan, sesuatu yang lain kadang dilahirkan. Di tengah maut, kehidupan diam-diam menyalakan lilin kecilnya sendiri.

Kisah bayi itu membuat saya berhenti cukup lama ketika membaca naskah ini. Sebab angka korban mendadak kehilangan kekuasaannya di hadapan satu kehidupan manusia.

Statistik dapat menghitung rumah yang hanyut. Tetapi statistik tidak pernah sepenuhnya mampu menghitung ketakutan seorang ibu, kehilangan seorang anak, atau panjangnya sebuah malam.

Di situlah sastra mengambil alih pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan tabel. Ia memberi nama kepada luka, wajah kepada angka, dan ingatan kepada sejarah.

-000-

Buku ini berjudul lengkap Suara Aceh Soal Bencana 2025: Antologi Puisi, Esai, Puisi Esai, Cerpen dan Artikel. Penyelenggaranya adalah SATUPENA Aceh.

Naskah menghimpun 17 karya dari sepuluh penulis, terdiri atas sembilan puisi, empat puisi esai, dua esai, satu cerpen, dan satu artikel.

Kesepuluh penulis itu datang membawa pengalaman, disiplin, usia, dan cara memandang berbeda. Justru keragaman itulah yang membuat buku ini terasa hidup dan berlapis.

Antologi ini menghadirkan sepuluh suara: Mahdalena, LK. Ara, Maulidar Yusuf, Yelli Sustarina, dan enam penulis lain yang bergantian membawa puisi, esai, puisi esai, cerpen, serta artikel dalam satu paduan suara Aceh.

Mahdalena menulis Sekapur Sirih selaku editor buku dan Ketua SATUPENA Aceh.

Mahdalena sendiri memberikan kunci pembacaan penting. Buku ini lahir untuk menangkap pengalaman yang tersisa dalam lorong batin korban, penyintas, saksi, dan masyarakat terdampak.

Ia menyebut tulisan sebagai ingatan kolektif menuju masa depan. Bencana dapat menyapu benda, tetapi pengalaman yang dituliskan bertahan menjadi pengingat dan sejarah autentik.

Maka buku ini sebenarnya bergerak pada empat wilayah sekaligus. Ia menjadi karya sastra, kesaksian sosial, arsip ingatan, sekaligus percakapan ekologis tentang manusia dan alam.

-000-

Ada keluarga yang kehilangan ayah, ibu, dan adik. Ada anak menunggu ibunya. Ada relawan. Ada rumah hanyut. Ada pula jembatan yang dibangun kembali.

Ada suara keras mempertanyakan penebangan hutan. Ada suara lembut berbicara tentang mata air. Ada pula suara spiritual yang membaca bumi sebagai ruang perjumpaan manusia.

LK. Ara, misalnya, membawa bencana menuju wilayah tasawuf ekologi. Manusia diperingatkan bahwa dirinya bukan pusat semesta, melainkan penghuni sementara dalam jaringan kehidupan.

Maulidar Yusuf mengajak pembaca melihat hubungan hujan dengan hutan, daerah resapan, tanah, dan ruang sungai. Bencana akhirnya menjadi pertanyaan mengenai pilihan manusia.

Yelli Sustarina menunjukkan dimensi lain. Rumahnya tidak terendam, tetapi listrik padam, komunikasi lumpuh, ATM gagal, bensin sulit, dan kehidupan normal tiba-tiba menjadi kemewahan.

Dengan demikian, bencana dalam buku ini bukan satu peristiwa. Ia menjalar seperti retakan kaca, bercabang dari alam menuju keluarga, ekonomi, infrastruktur, psikologi, spiritualitas, dan negara.

-000-

Keunggulan pertama buku ini adalah kemampuannya mengubah bencana dari statistik menjadi manusia. Ini terdengar sederhana, tetapi justru di sinilah kekuatan sastra bekerja paling dalam.

Angka menjelaskan skala. Cerita menjelaskan makna. Seribu rumah rusak adalah informasi, tetapi satu anak kehilangan rumah dan orang tuanya adalah pengalaman kemanusiaan.

Cerpen Kisah Duka dari Lhok Bayu membuka dunia itu melalui Askar, yang kehilangan ibu, ayah, dan adiknya setelah banjir menghancurkan kampungnya.

Dalam Ibu, Pulanglah, kehilangan bahkan belum mempunyai kepastian. Yang ada hanya tiga hari tanpa kabar, listrik padam, sinyal hilang, dan doa menggantung.

Sastra membuat pembaca memasuki ruang yang tidak tersedia dalam laporan resmi. Kita bukan hanya mengetahui penderitaan. Untuk beberapa menit, kita ikut tinggal di dalamnya.

Itulah fungsi kesaksian. Ia mengembalikan martabat individual kepada korban yang mudah lenyap ketika manusia hanya tampil sebagai persentase, grafik, atau angka dalam laporan.

-000-

Keunggulan kedua terletak pada keberanian buku ini menghubungkan bencana dengan ekologi. Ini dilakukan tanpa mengurangi kenyataan bahwa penyebab setiap peristiwa membutuhkan pembuktian ilmiah yang cermat.

Beberapa penulis mempertanyakan penebangan hutan, penyempitan sungai, perubahan resapan, eksploitasi sumber daya, hingga pertambangan. Mereka menolak memperlakukan alam sekadar sebagai latar pasif.

Namun buku ini paling kuat ketika pertanyaan ekologis disampaikan bukan sebagai vonis tunggal, melainkan sebagai undangan untuk memeriksa hubungan rumit antara alam dan tindakan manusia.

Hujan memang berasal dari langit. Tetapi risiko bencana juga dipengaruhi kondisi bentang alam, tata ruang, infrastruktur, kesiapsiagaan, kerentanan sosial, dan kualitas pengelolaan lingkungan.

Di sini muncul pencerahan penting. Bencana bukan hanya peristiwa alam. Dampaknya juga merupakan pertemuan antara bahaya fisik dengan kerentanan yang dibangun manusia selama bertahun-tahun.

Kita mungkin tidak mampu menghentikan hujan. Namun manusia dapat menentukan apakah sungai masih mempunyai ruang, hutan tetap berfungsi, dan permukiman memiliki perlindungan memadai.

Alam tidak membaca batas administrasi. Air tidak memeriksa izin pembangunan. Ia hanya mengikuti gravitasi, topografi, ruang yang tersedia, dan jalan yang kita sisakan baginya.

-000-

Keunggulan ketiga adalah kemampuannya menyimpan ingatan kolektif. Sebuah masyarakat bukan hanya dibentuk oleh apa yang dialaminya, tetapi juga oleh apa yang dipilihnya untuk diingat.

Ingatan memiliki fungsi sosial. Ia memungkinkan generasi berikutnya mempelajari penderitaan tanpa harus mengulang penderitaan yang sama sebagai biaya untuk memperoleh pengetahuan tersebut.

Aceh memiliki hubungan khusus dengan ingatan bencana. Karena itu, buku ini terasa seperti percakapan antara masa lalu, pengalaman 2025, dan masa depan yang belum datang.

Namun yang disimpan bukan hanya kesedihan. Buku ini juga mengabadikan solidaritas, gotong royong, relawan, bantuan antarkota, seniman yang melelang karya, serta masyarakat yang saling menopang.

Dalam Enang-Enang: Asa yang Tak Binasa, jembatan yang terputus tidak dibiarkan menjadi monumen kekalahan. Masyarakat bergotong royong membangun kembali urat nadi kehidupannya.

Di sinilah buku ini menemukan cahaya setelah berjalan melewati lumpur. Ketangguhan bukan berarti manusia tidak terluka. Ketangguhan berarti luka tidak memperoleh kata terakhir.

-000-

Ada yang mungkin mengajukan keberatan. Sastra bencana terlalu emosional. Ia dapat menyederhanakan sebab, memperbesar kesedihan, bahkan mengubah tragedi menjadi panggung bagi bahasa yang indah.

Keberatan itu penting. Bencana memang tidak boleh direduksi menjadi metafor. Klaim mengenai penyebab ekologis juga harus diuji melalui hidrologi, tata guna lahan, dan bukti empiris.

Tetapi justru karena itulah kesaksian sastra diperlukan berdampingan dengan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak saling menggantikan. Keduanya menerangi bagian realitas yang berbeda.

Ilmu pengetahuan menjelaskan bagaimana bencana terjadi. Kebijakan menjelaskan bagaimana risiko dikurangi. Sastra menjelaskan bagaimana rasanya menjadi manusia ketika dunia yang dikenal tiba-tiba runtuh.

Sebuah masyarakat yang hanya mempunyai cerita dapat kehilangan presisi. Tetapi masyarakat yang hanya mempunyai angka dapat kehilangan empati, memori, bahkan alasan moral untuk bertindak.

Buku ini sebaiknya dibaca dalam keseimbangan tersebut. Kesaksian personal bukan bukti kausal tunggal, tetapi ia adalah bukti pengalaman yang tidak boleh dibuang.

-000-

Ketika membaca buku ini dari Bangkok, ada jarak geografis yang terasa aneh. Di luar jendela, sebuah kota bergerak normal, sementara halaman-halaman ini membawa lumpur Aceh.

Pengalaman membaca semacam ini mengingatkan saya bahwa penderitaan manusia mempunyai dua jarak. Ada jarak kilometer, tetapi ada pula jarak batin yang ditentukan kepedulian.

Seorang pembaca dapat berada ribuan kilometer dari bencana, tetapi sebuah cerita yang kuat mampu menghapus jarak itu hanya dalam beberapa alinea sederhana.

Sebagai penulis, saya selalu percaya tulisan mempunyai tugas yang lebih panjang daripada berita. Berita memberitahu apa yang terjadi. Tulisan terbaik mempertanyakan mengapa kita harus mengingatnya.

Karena perhatian publik mempunyai umur pendek. Kamera pindah. Berita utama berganti. Algoritma menemukan kegaduhan baru. Tetapi keluarga korban tetap bangun setiap pagi bersama kehilangan.

Di situlah penulis dibutuhkan. Bukan untuk menggantikan relawan, insinyur, dokter, atau pemerintah, melainkan menjaga agar pengalaman manusia tidak ikut dikuburkan bersama puing.

Dari kejauhan ini, saya menyadari bahwa penderitaan Aceh bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan bagian dari gema tragedi kemanusiaan universal yang melintasi batas geografis, budaya, dan zaman.

-000-

Dua karya internasional membantu menempatkan Suara Aceh Soal Bencana 2025 dalam tradisi lebih luas tentang sastra kesaksian, kehilangan, bencana, dan ingatan manusia.

Pertama, Voices from Chernobyl karya Svetlana Alexievich, diterbitkan Dalkey Archive Press pada 2005 dalam edisi Inggris, berdasarkan kesaksian ratusan manusia terdampak bencana nuklir Chernobyl.

Alexievich membangun sejarah dari suara manusia biasa. Petugas pemadam, warga, keluarga, dan mereka yang hidup setelah katastrofe berbicara melalui monolog yang mengubah sejarah besar menjadi pengalaman personal.

Kekuatan buku itu terletak pada kesadaran bahwa tragedi mempunyai wilayah tersembunyi. Dokumen mencatat radiasi dan kebijakan, sementara manusia mengingat ketakutan, cinta, kehilangan, dan kesunyian.

Di titik itulah ia berkerabat dengan Suara Aceh. Keduanya memahami bahwa sejarah bencana tidak lengkap sampai suara mereka yang mengalaminya memperoleh tempat untuk berbicara.

Perbedaannya penting. Chernobyl adalah bencana teknologi nuklir, sedangkan antologi Aceh berangkat terutama dari banjir, longsor, kerusakan lingkungan, kerentanan sosial, dan pengalaman pascabencana.

Namun keduanya bertemu dalam satu prinsip: setelah sirene berhenti dan kamera meninggalkan lokasi, bencana melanjutkan hidupnya di dalam ingatan orang-orang yang selamat.

-000-

Kedua, Wave karya Sonali Deraniyagala, diterbitkan Alfred A. Knopf pada 2013. Memoar ini lahir dari tsunami Samudra Hindia 2004 yang menghantam Sri Lanka.

Deraniyagala kehilangan suami, dua putra, dan kedua orang tuanya. Ia sendiri selamat, lalu menulis perjalanan panjang menghadapi duka yang hampir mustahil ditanggung seorang manusia.

Wave memperlihatkan sesuatu yang juga terasa dalam antologi Aceh. Bencana hanya berlangsung beberapa saat, tetapi waktu psikologis korban dapat membeku bertahun-tahun pada satu kehilangan.

Rumah dapat dibangun kembali. Jalan dapat diperbaiki. Jembatan dapat disambungkan. Tetapi tidak semua yang dihanyutkan air mempunyai pengganti, harga, ataupun kemungkinan untuk dipulihkan.

Karena itu, Wave dan Suara Aceh sama-sama memperluas pengertian tentang pemulihan. Rekonstruksi bukan hanya pembangunan kembali benda, tetapi juga pekerjaan panjang merawat jiwa.

Keduanya mengingatkan bahwa sesudah air surut, manusia belum tentu pulih. Justru ketika dunia kembali normal, sebagian penyintas baru memulai perjalanan terpanjangnya menuju kehidupan.

-000-

Membaca buku ini akhirnya membawa kita kepada satu pertanyaan besar. Apakah tujuan menulis tentang bencana hanya agar manusia mengetahui apa yang pernah terjadi?

Saya kira tidak. Ingatan yang hanya disimpan akhirnya menjadi museum. Ingatan memperoleh makna ketika ia mengubah perilaku, memperbaiki kebijakan, memperdalam empati, dan mencegah pengulangan.

Mahdalena merumuskannya sederhana: melihat, merasakan, memahami, lalu berbuat. Empat kata itu sebenarnya dapat menjadi filsafat kebencanaan yang jauh lebih luas bagi masyarakat.

Melihat berarti membuka mata terhadap fakta. Merasakan berarti mengizinkan penderitaan orang lain memasuki hati. Memahami berarti mencari sebab. Berbuat berarti mengubah masa depan.

Karena itu, nilai terbesar buku ini bukan terletak pada kesedihannya. Nilainya justru terletak pada kemungkinan bahwa kesedihan tersebut dapat diubah menjadi kesadaran.

Kelak bencana Aceh 2025 mungkin tinggal satu baris dalam kronologi. Tetapi melalui buku ini, kita masih dapat mendengar manusia menangis, berdoa, menolong, lalu bangkit.

Itulah kemenangan kecil sastra atas waktu. Air dapat menghapus jejak kaki dari tanah, tetapi tulisan dapat membuat jejak pengalaman bertahan melampaui usia manusia.

Buku ini meminta kita menjaga hutan, sungai, mata air, ingatan, dan terutama kemanusiaan. Sebab semuanya sesungguhnya merupakan bagian dari rumah besar yang sama.

Air boleh surut dan berita boleh berlalu, tetapi ingatan harus tetap mengalir, agar generasi berikutnya tidak membayar dengan air mata untuk pelajaran yang pernah kita terima.*

Bangkok, 17 September 2026

-000-

REFERENSI

Svetlana Alexievich, Voices from Chernobyl, Dalkey Archive Press, 2005.

Sonali Deraniyagala, Wave, Alfred A. Knopf, 2013.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.

https://www.facebook.com/share/19WiYNhH7y/?mibextid=wwXIfr