Luthfi Makhasin: Work-Life Balance ala Dosen Indonesia
Oleh Luthfi Makhasin, dosen PTN di Jawa Tengah.
ORBITINDONESIA.COM - Di banyak negara, konsep work-life balance berarti menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kesehatan, dan kehidupan pribadi. Orang didorong bekerja produktif tanpa kehilangan waktu untuk anak, pasangan, olahraga, membaca buku, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa rasa bersalah.
Di Indonesia, konsep itu mengalami sedikit penyesuaian birokratis. Work-life balance berarti menyeimbangkan pekerjaan yang sudah selesai dengan pekerjaan yang belum sempat diinput ke SISTER.
Secara administratif, dosen diwajibkan memenuhi Beban Kerja Dosen (BKD) antara 12 hingga 16 SKS sebagai syarat memperoleh tunjangan sertifikasi.
Jika dikonversi, 12 SKS setara sekitar 37,5 jam kerja per minggu, sedangkan 16 SKS setara sekitar 48 jam per minggu. Angka itu sendiri sudah mendekati bahkan melampaui jam kerja penuh di banyak negara.
Masalahnya, kehidupan dosen tidak berhenti pada angka administrasi. Mengajar satu mata kuliah bukan hanya berdiri di depan kelas.
Masih ada menyusun RPS, memperbarui bahan ajar, memeriksa tugas, membimbing skripsi, tesis, dan disertasi, membaca proposal penelitian, mengejar hibah, menulis artikel ilmiah, merevisi naskah sesuai komentar reviewer yang kadang lebih panjang daripada artikelnya sendiri, melakukan pengabdian kepada masyarakat, menghadiri rapat, menjadi panitia, mengisi berbagai survei, lalu... mengisi aplikasi untuk melaporkan semua pekerjaan yang sudah dikerjakan.
Di sinilah matematika birokrasi mulai mengalahkan matematika biasa. Tidak sedikit dosen yang jika seluruh pekerjaannya dihitung, bebannya bisa mencapai 25 SKS. Dengan konversi yang sama, itu berarti sekitar 78 jam kerja per minggu.
Masih kurang? Ada dosen yang secara riil mengerjakan pekerjaan yang setara 40 hingga 50 SKS. Kalau dihitung, 50 SKS setara sekitar 156 jam kerja dalam satu minggu.
Padahal satu minggu hanya memiliki 168 jam. Artinya, setelah bekerja selama 156 jam, dosen masih memiliki sisa sekitar 12 jam untuk tidur, makan, mandi, mengantar anak, berbicara dengan pasangan, menghadiri undangan tetangga, berolahraga, dan... kalau sempat, hidup.
Inilah satu-satunya profesi yang diam-diam sedang membuktikan teori relativitas waktu. Albert Einstein mungkin akan terkejut mengetahui bahwa ruang dan waktu ternyata dapat dilipat bukan oleh gravitasi, melainkan oleh aplikasi BKD.
Kalau ada yang bertanya, "Apa hobi dosen?" Jawabannya sederhana. "Mengonversi pekerjaan menjadi bukti administrasi." Ironisnya, pekerjaan yang paling sulit kadang bukan penelitian atau mengajar, melainkan mengingat pekerjaan mana yang sudah diinput dan mana yang belum.
Dosen modern memiliki dua kehidupan. Kehidupan nyata. Dan kehidupan di SISTER. Kadang pekerjaan sudah selesai, tetapi belum dianggap ada karena belum masuk sistem. Sebaliknya, setelah berhasil diinput, muncul rasa lega yang hampir setara dengan menerima surel accepted dari jurnal bereputasi.
Konsep work-life balance pun mengalami evolusi. Bukan lagi membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Melainkan membagi waktu antara bekerja, melaporkan pekerjaan, memperbaiki laporan pekerjaan, mengunggah bukti, memperbaiki unggahan, lalu memastikan semuanya terbaca oleh sistem.
Tidak heran jika laptop menjadi sahabat paling setia dosen. Ia ikut rapat. Ia ikut seminar. Ia ikut pengabdian. Ia ikut liburan. Kalau bisa berbicara, mungkin laptop hanya akan bertanya, "Hari ini kita bekerja di mana?"
Yang paling menarik adalah paradoks produktivitas. Semakin produktif seorang dosen, semakin banyak pekerjaan baru yang dipercayakan kepadanya.
Semakin banyak publikasi, semakin banyak diminta menjadi reviewer. Semakin banyak penelitian, semakin banyak diminta menjadi narasumber. Semakin rajin mengajar, semakin banyak mahasiswa yang dibimbing. Semakin aktif mengabdi, semakin banyak kepanitiaan yang menunggu.
Dalam teori ekonomi dikenal istilah increasing returns. Dalam birokrasi perguruan tinggi, yang sering terjadi justru increasing responsibilities. Semakin mampu, semakin sibuk. Semakin sibuk, semakin dipercaya. Semakin dipercaya, semakin sedikit waktu untuk berpikir.
Padahal universitas hidup bukan karena dosennya pandai mengisi aplikasi. Universitas hidup karena dosennya memiliki waktu untuk membaca, berdiskusi, merenung, melakukan penelitian, dan melahirkan gagasan-gagasan baru.
Mungkin sudah saatnya work-life balance di perguruan tinggi dimaknai ulang. Bukan sebagai upaya mengurangi dedikasi dosen, melainkan memastikan bahwa manusia yang bekerja di dalamnya tetap memiliki waktu untuk menjadi manusia. Sebab dosen yang terus-menerus bekerja mungkin masih sanggup memenuhi BKD. Tetapi gagasan besar jarang lahir dari orang yang setiap hari berlomba dengan tenggat unggah bukti kinerja.
Dan kalau suatu hari benar-benar tercapai work-life balance bagi dosen Indonesia, mungkin tandanya sederhana. Akhir pekan dipakai bermain bersama keluarga. Bukan untuk membuka SISTER sambil berdoa semoga tombol "Simpan Permanen" tidak tiba-tiba berubah menjadi "Lengkapi Data Pendukung." ***