Puisi Ahmad Gaus: Angin Padang Karbala

Ahmad Gaus, penyair dan budayawan.

Ahmad Gaus, penyair dan budayawan.

Puisi

Cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali, gugur dalam Pertempuran Karbala yang terjadi pada hari Asyura (10 Muharram) tahun 61 Hijriah (680 M). Peristiwa ini menjadi titik balik sejarah yang sangat krusial bagi kaum Muslim. Dari Padang Karbala, kita mewarisi Islam kekuasaan dengan watak yang bengis, seperti yang terekam dalam puisi ini.

ANGIN PADANG KARBALA

Bulan pudar sisa semalam

Tergantung di hamparan samudera pasir

Kumandang azan subuh sayup-sayup di kejauhan

Ditelan suara gemuruh yang menakutkan

Pasukan berkuda bergerak dari timur

Inilah hari yang mempertemukan

Gemerincing pedang dan kebenaran

Anak-anak panah dan keadilan

Inilah hari yang menentukan masa depan agama Muhammad

Apakah akan tetap menjadi agama

Ataukah ideologi kekuasaan

Inilah Padang Kar-ba-la

Lagu nestapa yang mengalun abadi dalam jiwa manusia

Sekelompok burung bangkai berkerumun

Di hadapan mereka, sebujur tubuh tanpa kepala

Darah segar menetes dari lehernya yang putus

"Jangan mendekat," teriak pemimpin mereka. "Ini jasad Husain, cucu Nabi Muhammad. Kita bangsa burung memuliakan Muhammad dan keluarganya."

"Tapi ... mengapa dia ada di sini?" Tanya burung yang lain.

"Mengapa kepalanya dipisahkan dari tubuh?"

"Binatang buas apa yang telah menyerangnya?"

Pemimpin burung bercerita:

Sebelum fajar menyingsing dari timur

Ribuan pasukan berkuda mengejar Husain

Memaksa dia berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah

Mengakui Yazid sebagai khalifah Islam

Tapi Cucu Nabi itu menolak

Dia tidak mau tunduk pada khalifah yang zalim

Penguasa durjana yang menindas atas nama agama

Sebab Islam yang diajarkan oleh kakeknya, Muhammad, adalah agama yang membebaskan manusia dari penindasan

Agama yang mengajarkan kesetaraan umat manusia

Seekor burung kecil bertanya, "Apakah mereka tidak tahu bahwa Husain adalah cucu Nabi?"

"Mereka tahu, tapi mata mereka dipenuhi oleh debu

Mereka memburu Husain karena dia menjadi ancaman bagi penguasa lalim dan korup."

Husain, Husain, cucu kesayangan Nabi

Sebilah tombak menghantam kepalanya

Sepotong anak panah bersarang di jantungnya

Sebilah pedang menebas lehernya

Darah muncrat, membasahi sekujur tubuhnya

Burung-burung bangkai tertunduk pilu

Membentuk barisan berkeliling

Mengitari jasad Husain tanpa kepala

Wajah mereka pilu, sedih

Pemimpin burung bercerita:

Di atas arasy, Muhammad menyaksikan pembantaian sadis terhadap cucunya dengan linangan air mata.

Sang cucu berkata,

"Mengapa engkau menangis, wahai kakekku

Hapuslah air matamu, ya Rasulallah

Tidakkah engkau lihat aku tetap tersenyum menyebut namamu

Ketika pedang menebas leherku

Engkau adalah purnama yang menyala

Saat mataku gelap bersimbah darah

Saat dadaku robek oleh tombak dan anak panah

Engkau adalah cahaya jantungku."

Burung-burung bangkai menangis pilu

Mengelilingi jasad Husain cucu Muhammad, tanpa kepala

Mereka berbaris begitu takzim

"Kami bangsa burung

Kami bangsa burung

Kami memuliakan Muhammad dan keluarganya."

Angin Padang Karbala berembus ke utara

Mengiringi pasukan berkuda yang menenteng kepala Husain cucu Nabi

Suara-suara gemuruh yang menakutkan

Kekuasaan tiran atas nama agama telah dimenangkan

Dengan cara yang lebih keji dari binatang

Islam politik berjaya di atas Islam spiritual yang membawa rahmat untuk seluruh alam

Bumi terbelah dua

Orang-orang yang dipersatukan oleh iman

Dipisahkan oleh pedang

Dari Padang Karbala, kita mewarisi Islam kekuasaan dengan watak yang bengis

Sementara itu, Islam Muhammad yang lembut dan hanif, telah dibantai di Padang Karbala

Ditalqin oleh burung-burung bangkai yang mengubah tanah kering Padang Karbala

Menjadi genangan air mata.

Ahmad Gaus

10 Muharram 1448 H

25/26 Juni 2026 ***