Self-Care Jadi Beban Kerja: Health Optimisation dan Wearable Memicu Cemas

Tatler Asia

Tatler Asia

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Self-care dan health optimisation kini tak lagi sekadar merawat diri, melainkan rutinitas yang diukur, dinilai, lalu dikejar seperti target kerja. Dari sleep score hingga readiness rating, banyak orang bangun pagi bukan untuk merasa pulih, tetapi untuk memeriksa apakah mereka “cukup baik” menurut angka.

Artikel ini menyorot pergeseran besar: pasar wellness dulu menjual produk dan pengalaman, sekarang menjual sistem berbasis data yang memantau tubuh dan kebiasaan. Ketika data bertambah, self-care berubah menjadi rangkaian tugas: mengecek, menafsirkan, mengoreksi perilaku, lalu mengulangnya.

Di dunia medis ada istilah “treatment burden”, yakni beban kerja mengelola penyakit yang menyita waktu, energi, dan dukungan. Consumer self-care memang bukan pengelolaan penyakit kronis, tetapi logika bebannya mirip ketika tuntutan perawatan diri melampaui kapasitas hidup sehari-hari.

Self-care juga tumbuh karena celah layanan kesehatan, tekanan kerja, serta kecemasan sosial dan menurunnya kepercayaan pada institusi. Saat klinisi memberi jawaban yang kompleks atau belum pasti, pemasaran wellness cenderung menawarkan sebab tunggal, protokol, dan produk yang terasa tegas.

Masalah kuncinya adalah perubahan dari “produk” ke “sistem”, karena sistem membutuhkan kepatuhan yang terus-menerus. Begitu tubuh menjadi dashboard, perhatian kita tersedot pada pembuktian: apakah tidur tadi efektif, apakah latihan cukup, apakah makan siang “bersih”.

Di titik ini, budaya produktivitas menyatu dengan self-care. Yoga, meditasi, liburan, bahkan hobi dipaksa punya ROI: tidur untuk performa, meditasi untuk fokus, olahraga untuk memimpin lebih baik, dan rehat untuk menjaga output.

Oliver Burkeman mengkritik cara modern memandang waktu yang membuat kita menilai setiap momen berdasarkan kegunaannya bagi tujuan masa depan. Akibatnya, aktivitas yang seharusnya memulihkan justru menjadi proyek yang harus “berhasil”.

Ketika kesehatan makin terukur, metrik berubah dari deskripsi menjadi vonis moral. Carl Cederström dan André Spicer lewat konsep “wellness syndrome” (2015) memperingatkan bahwa sehat dan bahagia bergeser menjadi kewajiban moral, sehingga sakit atau sedih mudah dibaca sebagai kegagalan disiplin.

Bahasa populer memperkuatnya: “clean eating”, “earning rest”, “falling off track”, dan “best version of yourself”. Di sini, manusia tak pernah selesai, karena selalu ada versi yang lebih optimal untuk dikejar.

Dampak psikologisnya mulai terlihat dalam diskusi ilmiah tentang wearable. Scoping review Fei Liao dkk di BMC Nursing (2026) yang menelaah 110 publikasi pada pasien kardiovaskular mencatat laporan kecemasan kesehatan, pemantauan berlebihan, reassurance-seeking berulang, dan ketergantungan perangkat pada sebagian pengguna.

Review itu tidak membuktikan wearable sebagai penyebab langsung dan tidak memastikan seberapa umum efek tersebut. Namun, temuan itu cukup untuk mengajukan pertanyaan: kapan informasi melayani manusia, dan kapan manusia melayani informasi.

Gejala sehari-hari sering tampak sepele tetapi mengikat. Memakai dua wearable bisa disebut “monitoring cerdas”, tetapi juga bisa menjadi checking kompulsif yang menggerus rasa aman.

Begitu pula kebiasaan pulang lebih cepat dari pertemuan sosial demi “sleep window” yang ketat. Batas sehat bisa berubah menjadi pagar yang membuat hidup mengecil, sementara rutinitas mengambil alih kendali.

Self-care yang baik seharusnya mengembalikan kapasitas, bukan menambah pekerjaan. Ketika perawatan diri berubah menjadi daftar tugas tanpa akhir, kita sedang memindahkan beban sistemik ke pundak individu.

Di sinilah paradoks yang dikutip Rina Raphael dalam The Gospel of Wellness (2022) terasa tajam: kita menjadi “bangsa self-care”, tetapi tetap kekurangan fondasi kesejahteraan. Kita rajin mengoptimasi diri, namun belum tentu punya waktu, upah layak, layanan kesehatan yang mudah diakses, dan komunitas yang menopang.

Self-care juga rentan mengubah masalah sosial menjadi “kegagalan manajemen pribadi”. Burnout karena beban kerja bisa dipersempit menjadi kurang meditasi, sementara kecemasan karena ketidakpastian ekonomi disulap menjadi kurang suplemen atau kurang journaling.

Tren “Over-Optimisation Backlash” yang dicatat Global Wellness Summit dalam laporan tren 2026 menunjukkan reaksi terhadap kelelahan ini. Muncul minat pada analog wellness seperti reading retreat, sleep tourism, digital detox, serta kembalinya kerajinan tangan dan board game.

Namun ironi berikutnya juga nyata: pelarian dari optimasi ikut dioptimasi dan dijual sebagai pengalaman premium. Tindakan biasa seperti membaca, tidur, dan mematikan gawai dikemas ulang sebagai komoditas, seolah kita perlu membayar untuk kembali menjadi manusia biasa.

Kutipan Thich Nhat Hanh (2010) terasa seperti peringatan sunyi: manusia kehilangan kebijaksanaan untuk benar-benar beristirahat dan rileks. Jika istirahat pun harus “mencapai target”, maka yang hilang bukan hanya tenaga, tetapi juga kepercayaan pada tubuh dan hidup yang wajar.

Mungkin ukuran terbaik self-care bukan seberapa ketat kita memantau diri, melainkan apa yang menjadi mungkin setelah kita merawat diri. Apakah kita lebih hadir bagi keluarga, lebih sabar pada teman, dan lebih mampu berbagi tanggung jawab.

Self-care yang sehat tidak berhenti di tepi individu. Ia seharusnya memberi energi untuk mempertanyakan kondisi yang membuat pemulihan terasa perlu setiap hari: jam kerja, budaya selalu online, dan sistem dukungan yang rapuh.

Jika self-care berubah menjadi kerja kedua, kita patut berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang diuntungkan dari semua angka ini, dan siapa yang kelelahan karenanya. Self-care seharusnya memberi kita lebih banyak hidup, bukan lebih banyak pekerjaan (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)