Penerbit CBI: Sejarah dalam Delapan Buku Puisi Esai Denny JA, Edisi Bahasa Inggris
SEJARAH DALAM DELAPAN BUKU PUISI ESAI DENNY JA, EDISI BAHASA INGGRIS
Oleh Penerbit CBI
ORBITINDONESIA.COM - Seorang ayah berjalan delapan puluh kilometer tanpa alas kaki memanggil nama istri dan anak-anaknya yang hilang.
Di negeri lain, seorang perempuan tua masih membaca surat suaminya yang tak pernah tiba karena bom Hiroshima.
Di sudut lain sejarah, seorang perempuan Indonesia menunggu suaminya yang hilang setiap hari Kamis selama belasan tahun.
Mereka tidak pernah saling mengenal. Namun sastra mempertemukan mereka dalam satu ruang yang sama. Di sanalah sejarah berhenti menjadi angka, lalu berubah menjadi wajah, air mata, dan denyut jantung manusia.
-000-
Sejarah sering ditulis oleh para pemenang. Sastra justru mencari mereka yang kalah, tersisih, atau bahkan dilupakan.
Dari kegelisahan itulah lahir genre Puisi Esai, yang diperkenalkan Denny JA pada 2012. Genre ini memadukan tiga unsur yang jarang dipertemukan sekaligus: fakta sejarah yang dapat diverifikasi, kebebasan dramatik sastra, dan refleksi sosial yang mengajak pembaca berpikir.
Dalam puisi esai, tokoh-tokoh historis maupun korban sejarah dihidupkan kembali melalui narasi puitik. Fakta tetap dijaga melalui catatan kaki dan rujukan sejarah, sementara imajinasi bekerja untuk mengisi ruang emosional yang tidak pernah dicatat arsip negara.
Hasilnya bukan sejarah baru, melainkan cara baru mengalami sejarah.
Pendekatan inilah yang membuat genre Puisi Esai memperoleh perhatian internasional. Ketika Denny JA menerima BRICS Award 2025 untuk inovasi sastra, salah satu alasan yang dikemukakan penyelenggara adalah keberhasilannya membangun bentuk sastra yang menjembatani dokumentasi sejarah dengan pengalaman emosional manusia.
Penerbitan delapan buku puisi esai dalam bahasa Inggris merupakan kelanjutan dari semangat tersebut, agar pengalaman Indonesia dan berbagai tragedi kemanusiaan dapat dibaca oleh publik dunia.
-000-
Agar bisa masuk ke alam batin puisi esai Denny JA, ini ringkasan masing masing dari delapan buku puisi esai itu.
1. In the Name of Love (2021), Translated from Atas Nama Cinta (2012)
Semuanya bermula dari cinta. Namun di dunia yang dipenuhi prasangka, cinta sering menjadi korban pertama. Lima puisi esai dalam buku ini memperlihatkan bagaimana diskriminasi ras, agama, orientasi seksual, status sosial, dan batas-batas budaya berkali-kali merampas martabat manusia. Berpijak pada fakta sejarah dan diperkaya imajinasi sastra, setiap kisah mengubah statistik menjadi pengalaman batin yang nyata.
Salah satu adegan paling membekas adalah Fang Yin, korban kerusuhan Mei 1998, yang membakar sapu tangan pemberian kekasihnya. Bersama kain yang menyerap ribuan air mata itu, ia berusaha membakar trauma tanpa menghapus ingatan.
Buku ini mengingatkan bahwa kemajuan sebuah peradaban diukur bukan dari gedung-gedungnya, melainkan dari kemampuannya melindungi mereka yang paling mudah disingkirkan. Pada akhirnya, cinta bukan sekadar perasaan. Ia adalah keberanian mempertahankan kemanusiaan ketika dunia sibuk membangun tembok pemisah.
-000-
2. Every Thursday Will I Await Your Return (2021), Translated from Kutunggu di Setiap Kamis (2018)
Setiap hari Kamis, Lina datang lagi. Ia membawa harapan yang semakin tipis, tetapi tidak pernah benar-benar padam. Sejak suaminya menjadi korban penghilangan paksa pada masa Reformasi 1998, penantian berubah menjadi cara hidup. Di depan Istana, bersama keluarga korban lainnya, cinta pribadi perlahan menjelma menjadi perjuangan menuntut keadilan.
Bertahun-tahun kemudian, Lina masih menyisihkan sepotong kue ulang tahun dan berkata kepada putranya bahwa ayahnya suatu hari akan pulang. Di mata dunia, itu tampak seperti penyangkalan. Di mata cinta, itulah kesetiaan yang paling sunyi.
Melalui kisah ini, puisi esai memperlihatkan bahwa pelanggaran hak asasi manusia tidak pernah berhenti pada orang yang hilang. Luka diwariskan kepada mereka yang terus hidup tanpa kepastian. Sejarah pun memperoleh wajah, nama, dan air mata.
-000-
3. Screams Following Liberation (2022), Translated from Jeritan Setelah Kebebasan (2022)
Ada kemerdekaan yang disambut sorak-sorai. Ada pula kebebasan yang disusul jeritan. Buku ini memasuki sisi paling gelap Indonesia setelah Reformasi 1998, ketika runtuhnya rezim ternyata tidak otomatis melahirkan kedamaian. Melalui 25 puisi esai, Denny JA menelusuri luka kerusuhan Mei 1998, Sampit, Lampung, Lombok, dan Maluku.
Di sana sejarah bukan lagi laporan korban, melainkan rumah yang terbakar, ibu yang berlari, anak yang hilang, dan ayah yang menunggu mukjizat.
Koh Enlai menjadi salah satu wajah paling memilukan. Selama dua puluh empat tahun ia berharap putrinya, Lian, masih hidup karena jasadnya tak pernah ditemukan. Hingga suatu malam ia menyalakan lilin naga dan berbisik, “Menarilah di alam sana, Nak.”
Buku ini bertanya: apa arti kebebasan jika manusia masih dibakar oleh kebencian?
-000-
4. The Remnants of the Independence Era (2024), Translated from Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024)
Sejarah selalu mengingat para pemenang. Buku ini justru mencari mereka yang tercecer. Melalui lima belas puisi esai, Denny JA menghidupkan kembali kisah Romusha, perempuan yang dipaksa menjadi comfort women, dan para nyai yang kehilangan hak serta martabatnya di bawah kolonialisme.
Di antara semua kisah itu, Tante Inah menjadi lambang penantian yang tak pernah selesai. Selama lebih dari setengah abad ia memanggil nama putranya, Elmo, yang dibawa ayah Belandanya ke negeri jauh. Menjelang ajal, ia memeluk guling seolah memeluk anaknya sendiri, lalu pergi tanpa pernah bertemu kembali.
Buku ini mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya tentang perang dan kemerdekaan. Ia juga tentang air mata yang tidak pernah dicatat buku pelajaran. Melalui puisi, mereka yang pernah dilupakan memperoleh kembali nama, wajah, dan martabatnya.
-000-
5. Those Who First Cried Freedom (2026), Translated from Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2025)
Sebelum Indonesia merdeka, ada orang-orang yang lebih dahulu berani membayangkannya. Buku ini menghidupkan para pelopor kebangkitan nasional bukan sebagai patung sejarah, melainkan manusia yang mencintai, ragu, berkorban, dan terluka. Dari Tjokroaminoto hingga Ki Hajar Dewantara, perjuangan mereka disusun kembali melalui perpaduan riset sejarah dan kekuatan puisi.
Yang paling membekas adalah kisah Sutan Sjahrir. Pendiri bangsa yang memimpikan republik demokratis itu justru mengakhiri hidup sebagai tahanan politik di negeri yang ikut ia lahirkan.
Melalui paradoks itu, buku ini mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu berlaku adil kepada para pelopornya. Kemerdekaan sejati hanya hidup ketika keberanian selalu berjalan bersama keadilan dan kemanusiaan.
-000-
6. Those Cast Out in the 1960s (2026), Translated from Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024)
Mereka tidak selalu mati. Tetapi hidup mereka dicabut dari tanah asalnya. Itulah nasib para eksil Indonesia setelah pergolakan politik 1965. Kehilangan paspor ternyata lebih menyakitkan daripada kehilangan alamat, sebab yang ikut hilang adalah keluarga, masa depan, dan hak untuk pulang.
Buku ini tidak membela ideologi. Ia membela hak paling dasar manusia untuk memiliki tanah air dan kenangan. Enam belas puisi esai menghadirkan mereka yang dihapus dari dokumen negara, tetapi tetap hidup dalam ingatan bangsanya.
Seorang lelaki menyimpan cincin pertunangan selama lima puluh delapan tahun. Saat akhirnya kembali, perempuan yang dicintainya telah lama dimakamkan. Ia hanya mampu meletakkan cincin itu di atas pusara. Janjinya terlambat, tetapi cintanya tidak pernah pergi.
Pengasingan, pada akhirnya, bukan terutama soal jarak. Ia adalah luka ketika seseorang tetap mencintai negeri yang tak lagi mengakuinya.
-000-
7. Shivering in History’s Current (2026), Translated from Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025)
Bagaimana mungkin di tengah perang terbesar dalam sejarah, dua pasukan yang saling membunuh justru bermain sepak bola bersama? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk buku ini untuk menjelajahi tragedi dunia, dari Holocaust dan Hiroshima hingga Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, dan Revolusi Kebudayaan di Tiongkok.
Di balik setiap peristiwa besar, Denny JA selalu mencari manusia biasa yang terseret arus sejarah. Statistik berubah menjadi wajah, nama, dan air mata.
Malam Natal 1914 menjadi adegan yang paling dikenang. Para serdadu keluar dari parit, bertukar cokelat, berjabat tangan, lalu bermain sepak bola. Keesokan harinya mereka kembali diperintahkan saling menembak.
Buku ini mengingatkan bahwa bahkan di jantung peperangan, kemanusiaan masih mampu bernyanyi lebih lama daripada kebencian.
-000-
8. Under the Shadow of Disaster (2026), Translated from Atas Nama Bencana (2026)
Bermula dari lumpur. Bukan lumpur biasa, melainkan lumpur yang membawa nama anak-anak, rumah-rumah, dan hutan terakhir yang lenyap bersama banjir Sumatra 2025–2026. Buku ini memandang bencana bukan semata-mata gejala alam, tetapi akibat panjang dari hubungan manusia yang retak dengan lingkungannya.
Di tengah kehancuran itu muncul wajah-wajah yang tak terlupakan: ibu yang memeluk anaknya agar tak hanyut, guru yang berjalan ratusan kilometer mencari jenazah ibunya, hingga orangutan Tapanuli yang kehilangan rumah terakhirnya.
Namun yang paling membekas adalah seorang ayah yang berjalan delapan puluh kilometer tanpa alas kaki sambil memanggil nama istri dan kedua anaknya. Ketika seluruh dunia telah menyerah, cintanya terus melangkah.
Buku ini meninggalkan satu pesan yang sunyi: bumi yang gagal kita lindungi, pada akhirnya tak lagi mampu melindungi kita.
-000-
Delapan buku ini bergerak dari luka cinta yang dihancurkan diskriminasi, menuju keluarga korban penghilangan paksa, konflik primordial, sisa kolonialisme, perintis kemerdekaan, eksil 1965, tragedi dunia, hingga bencana ekologis Sumatra.
Temanya meluas: dari tubuh pribadi, ke bangsa, ke sejarah dunia, lalu ke bumi yang terluka.
Namun pusatnya tetap satu: korban sejarah. Mereka yang diperkosa zaman, diusir negara, dilupakan buku pelajaran, kehilangan anak, kekasih, tanah air, atau hutan terakhir.
Melalui puisi esai, Denny JA membuat sejarah tidak lagi hanya mencatat pemenang, tetapi juga memulangkan nama, air mata, dan martabat mereka yang terluka.
Tiga kekuatan utama seri ini membuatnya berbeda dari banyak karya sejarah populer.
Pertama, sejarah dipindahkan dari ruang arsip menuju ruang batin. Angka korban berubah menjadi nama, keluarga, dan wajah.
Pembaca tidak lagi mengingat “enam juta korban Holocaust”, tetapi seorang anak yang kehilangan ibunya di Auschwitz.
Transformasi ini sesuai dengan temuan psikolog Paul Slovic mengenai psychic numbing, yaitu kecenderungan manusia kehilangan empati ketika korban hanya disajikan sebagai angka.
Kedua, fakta dan sastra dipertemukan tanpa saling meniadakan. Seluruh puisi berdiri di atas riset sejarah yang dapat diperiksa, sementara unsur dramatik berfungsi menjembatani kekosongan emosional yang tidak pernah dicatat arsip.
Sastra menjadi pelengkap historiografi, bukan penggantinya.
Ketiga, seluruh seri memiliki keberanian moral. Delapan buku ini tidak mencari siapa yang menang, melainkan siapa yang terluka. Fokusnya bukan pada penguasa, melainkan korban. Dengan demikian sastra menjalankan fungsi etiknya sebagai penjaga ingatan kolektif.
-000-
Dua buku di bawah ini dapat memperkaya pandangan kita bagaimana sejarah yang dikisahkan atau memberi inspirasi kepada karya sastra.
Pertama, novel berjudul War and Peace. Penulisnya Leo Tolstoy, 1869
Tidak banyak karya sastra yang mengubah cara dunia memahami sejarah sebagaimana War and Peace.
Ditulis setelah Perang Krimea, ketika Rusia sedang mempertanyakan identitas nasional dan makna kepemimpinan, Tolstoy memilih jalan yang berbeda dari sejarah resmi.
Ia menolak menjadikan Napoleon atau Tsar Alexander sebagai pusat cerita. Sebaliknya, ia mengajak pembaca memasuki ruang makan keluarga, medan perang, percakapan cinta, dan kegelisahan batin orang-orang biasa.
Di tangan Tolstoy, sejarah tidak lagi bergerak karena kehendak seorang pahlawan besar, melainkan oleh jutaan keputusan kecil yang dibuat manusia sehari-hari.
Pandangan ini menjadi kritik terhadap teori Great Man History yang menganggap sejarah ditentukan oleh tokoh-tokoh luar biasa.
Pengaruh War and Peace terhadap perkembangan sastra dunia sangat besar. Novel ini menjadi salah satu fondasi lahirnya historical fiction modern, yaitu karya sastra yang memadukan ketelitian sejarah dengan kedalaman psikologi manusia.
Banyak penulis sesudahnya, dari Hilary Mantel hingga Anthony Doerr, mengembangkan tradisi ini dengan keyakinan bahwa sastra mampu mengungkap dimensi kemanusiaan yang tidak dapat dijangkau oleh historiografi.
Puisi Esai Denny JA bergerak dalam semangat yang serupa, meskipun menggunakan bentuk yang berbeda. Jika Tolstoy memakai novel untuk menghidupkan kembali sejarah, Denny JA menggunakan puisi esai yang berpijak pada fakta, dilengkapi catatan kaki, lalu mendramatisasi pengalaman batin para korban sejarah.
Keduanya berbagi keyakinan yang sama: sejarah tidak cukup dipahami melalui kronologi dan data. Sejarah baru benar-benar hidup ketika pembaca dapat merasakan ketakutan, cinta, kehilangan, harapan, dan keberanian manusia yang pernah mengalaminya.
Dengan cara itulah sastra tidak menyaingi sejarah, melainkan mengembalikan jiwa ke dalam tubuh sejarah itu sendiri.
-000-
Kedua, buku berjudul The Things They Carried, Tim O’Brien, 1990
Buku ini menunjukkan bagaimana fakta sejarah memperoleh kedalaman melalui sastra.
Perang Vietnam tidak hanya hadir sebagai peristiwa militer, tetapi sebagai beban psikologis yang dibawa setiap prajurit.
O’Brien membedakan antara factual truth dan story truth. Kadang-kadang sebuah cerita fiktif justru mampu menyampaikan kebenaran emosional lebih kuat daripada laporan faktual.
Gagasan ini menjelaskan mengapa historical fiction memiliki peran penting dalam membangun empati terhadap masa lalu.
-000-
Sebagai penulis, saya berkali-kali menemukan bahwa statistik memiliki daya ingat yang pendek, sedangkan cerita memiliki umur yang panjang.
Ketika membaca arsip tentang ribuan korban, saya memperoleh pengetahuan. Namun ketika saya menuliskan seorang ayah yang memanggil nama anaknya di tengah lumpur, saya justru ikut menjadi saksi.
Saya semakin percaya bahwa sastra bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan cara yang lebih dalam untuk memasukinya.
Ada yang berpendapat bahwa sejarah seharusnya tetap berada di tangan sejarawan, sementara sastra berisiko mencampurkan fakta dan imajinasi.
Keberatan ini penting. Ketelitian akademik memang tidak boleh dikorbankan. Namun puisi esai tidak mengganti historiografi. Ia melengkapinya.
Fakta tetap menjadi fondasi. Imajinasi hanya menghidupkan ruang emosional yang tidak dapat ditulis oleh arsip. Sejarah memberi kerangka. Sastra memberi denyut.
-000-
Namun justru di titik pertemuan fakta dan imajinasi itulah risiko terbesar puisi esai bersemayam. Setiap dramatisasi selalu mengandung kemungkinan penyederhanaan, pengaburan konteks, bahkan pemilihan sudut pandang yang bias.
Karena itu, pembaca perlu terus menjaga sikap kritis, sekaligus mengakui daya ungkap etik bentuk ini.
Pada akhirnya, delapan buku puisi esai ini menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah selesai ketika perang usai, rezim berganti, atau bencana reda.
Tentu, justru karena berusaha merangkum begitu banyak luka sejarah ke dalam bahasa puisi, Puisi Esai menghadapi ujian estetik dan etik sekaligus.
Dramatisasi yang menghidupkan empati selalu membawa risiko menyederhanakan kerumitan sejarah, sementara catatan faktual dapat mengarahkan pembaca pada tafsir tertentu.
Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan, agar sejarah tetap kritis, sastra tetap puitis, dan penderitaan manusia tidak berubah menjadi sekadar romantisme yang memikat, tetapi kehilangan kedalaman maknanya.
Sejarah baru selesai ketika manusia berhenti mengingatnya. Karena itu, sastra memiliki tugas yang tidak kalah penting dibandingkan historiografi: menjaga agar luka tidak berubah menjadi kebisuan.
Sejarah mencatat siapa yang menang. Sastra memastikan mereka yang terluka tidak dilupakan.*
Jakarta, 28 Juni 2026
REFERENSI
1. War and Peace. Leo Tolstoy. The Russian Messenger, 1869.
2. The Things They Carried. Tim O’Brien. Houghton Mifflin, 1990.
3. The Content of the Form: Narrative Discourse and Historical Representation. Hayden White. Johns Hopkins University Press, 1987.
4. Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life. Martha C. Nussbaum. Beacon Press, 1995.
5. Regarding the Pain of Others. Susan Sontag. Farrar, Straus and Giroux, 2003.
-000-
Delapan Buku Puisi Esai Denny JA, Edisi Bahasa Inggris dapat diklik di sini:
1. In the Name of Love (2021), Translated from Atas Nama Cinta (2012)
https://drive.google.com/file/d/1Y4oylsTe0E2D53bTnA7VUCucMGcj0pcH/view?usp=drivesdk
2. Every Thursday Will I Await Your Return (2021), Translated from Kutunggu di Setiap Kamis (2018)
https://drive.google.com/file/d/1TVcz7LHIOZDjai2Vm1vapU24-cZLsHMt/view?usp=drivesdk
3. Screams Following Liberation (2022), Translated from Jeritan Setelah Kebebasan (2022)
https://drive.google.com/file/d/1J7AsEu48Mz5Oqb9obVLNmH35de_53dKd/view?usp=drivesdk
4. The Remnants of the Independence Era (2024), Translated from Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024)
https://drive.google.com/file/d/1FnWyeYpnpoOWduME6N-QicdnAy35VFUR/view?usp=drivesdk
5. Those Who First Cried Freedom (2026), Translated from Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2025)
https://drive.google.com/file/d/1T3yuIsJ0ij8qtpHIkkCVrM74x_fSKdmC/view?usp=drivesdk
6. Those Cast Out in the 1960s (2026), Translated from Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024)
https://drive.google.com/file/d/1jtrhDvVK1AsMQny_W5_H99Wc87fntK07/view?usp=drivesdk
7. Shivering in History’s Current (2026), Translated from Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025)
https://drive.google.com/file/d/12MvRZTcwzSQRDO4WOi0gCRLGsAtRE6tg/view?usp=drivesdk
8. Under the Shadow of Disaster, (2026), Translated from Atas Nama Bencana (2026)
https://drive.google.com/file/d/1rfin248G5RFRmuWPzUjq7nd57Z0Q7TcE/view?usp=drivesdk
(Note: Penerbit membagikan buku ini secara gratis sebagai bagian memberi kesaksian bagi mereka yang menjadi korban dalam sejarah)
-000-