Laporan NMDOJ Bongkar Budaya Toksik CYFD dan Nepotisme Casados
ORBITINDONESIA.COM – Laporan 200 halaman New Mexico Department of Justice (NMDOJ) menyebut CYFD New Mexico pernah dikelola dalam “budaya ketakutan” saat Teresa Casados menjabat sekretaris. Investigasi itu menyorot budaya kerja toksik, dugaan pembalasan terhadap pegawai, dan nepotisme yang menggerus akuntabilitas lembaga perlindungan anak.
Selama bertahun-tahun, publik New Mexico terus mendengar kabar anak meninggal saat berada dalam pengawasan CYFD. Ketika kematian anak disebut meningkat drastis, NMDOJ turun tangan dan merilis laporan investigasi setebal 200 halaman pada April.
Temuan paling keras diarahkan kepada mantan Sekretaris CYFD Teresa Casados. NMDOJ menilai Casados kurang memiliki pengalaman relevan untuk memimpin lembaga yang menangani keselamatan anak, meski ia berpengalaman di pemerintahan dan memiliki koneksi politik.
Di dalam laporan, kesaksian staf menggambarkan kantor yang tertutup dan defensif. Sean Sullivan, Special Counsel NMDOJ, merangkum suasana itu dengan kalimat tegas: “It’s a culture of fear.”
Isu ini tidak berdiri sendiri karena menyangkut cara negara melindungi anak sekaligus cara negara melindungi dirinya dari sorotan. NMDOJ bahkan menggugat CYFD agar berhenti memakai hukum kerahasiaan negara bagian sebagai tameng untuk menghindari akuntabilitas.
Laporan NMDOJ menyebut Casados menciptakan lingkungan yang menghambat transparansi. Seorang pengacara NMDOJ mengatakan Casados membangun suasana yang membuat orang enggan bicara, bahkan saat ada risiko hukum.
Contoh yang paling mudah dipahami publik datang dari kutipan Sullivan tentang respons Casados terhadap peringatan staf. Ketika ada kekhawatiran “non-social workers” melakukan kunjungan rumah, Casados disebut berkata, “don’t ever bring that up with me again.”
Kalimat itu penting karena menunjukkan masalah bukan sekadar prosedur, melainkan sinyal kepemimpinan. Jika peringatan risiko saja dibungkam, maka rantai keputusan di lapangan berpotensi ikut membeku dan memilih aman secara politik, bukan aman bagi anak.
NMDOJ juga mencatat pola pembalasan dan keputusan yang dipengaruhi urusan personal. Seorang mantan direktur mengaku dipindahkan ke kantor “seukuran lemari” setelah mempertanyakan salah satu arahan Casados.
Di organisasi layanan publik, pemindahan seperti itu bukan hanya hukuman simbolik. Itu adalah pesan kepada pegawai lain bahwa kritik bisa berujung pengucilan, sehingga budaya “diam” menjadi norma.
Temuan lain yang menyentak adalah nepotisme dalam perekrutan. Sullivan menyebut adanya perekrutan menantu, cucu, hingga pacar cucu Casados yang bekerja di fasilitas “all-female congregate care,” yang menurutnya “rather strange.”
Nepotisme bukan sekadar soal etika, melainkan soal kontrol dan loyalitas. Ketika posisi diisi jejaring keluarga dan teman, mekanisme check and balance internal melemah karena kritik mudah dianggap pengkhianatan terhadap “lingkaran.”
Laporan itu juga menyinggung konflik terkait kontrak peningkatan sistem komputer CYFD. Sejumlah pegawai disebut ditekan, dipecat, atau dipaksa mengundurkan diri setelah mempersoalkan kontrak dengan perusahaan berbasis California yang memiliki kaitan dengan mantan Sekretaris Brian Blalock.
NMDOJ menyatakan CYFD melewati proses tender kompetitif, lalu muncul keberatan soal kepatuhan hukum. Sullivan menautkan kegagalan desain kebijakan dengan beban di garis depan: “And so of course it’s not going to work, that trickles down all the way to the folks on the front line.”
Pola ini menunjukkan benang merah antara tata kelola dan keselamatan layanan. Ketika sistem dibangun tanpa transparansi dan tanpa kompetisi sehat, risiko pemborosan, kegagalan teknis, dan disinformasi internal menjadi lebih besar.
Di titik ini, gugatan NMDOJ menjadi lebih dari sekadar sengketa dokumen. Gugatan itu meminta pengadilan menghentikan penyalahgunaan aturan kerahasiaan untuk menghindari akuntabilitas, serta menghentikan ancaman atau hukuman terhadap pihak yang berbicara ke publik tentang CYFD.
Kasus CYFD New Mexico memperlihatkan paradoks lembaga perlindungan anak. Lembaga yang seharusnya melindungi kelompok paling rentan justru dituduh membangun sistem yang melindungi pimpinan dari koreksi.
Budaya kerja toksik bukan isu “HR” yang bisa diselesaikan dengan pelatihan motivasi. Dalam konteks CYFD, budaya takut dapat berujung pada keputusan lambat, laporan risiko yang disembunyikan, dan kegagalan intervensi yang terlambat.
Namun, kritik tajam juga perlu diuji dengan realitas perbaikan yang sedang berjalan. Kantor Gubernur menyatakan setelah Casados pensiun, terjadi pergantian kepemimpinan dan CYFD telah merekrut serta melatih ratusan pegawai baru, menambah jumlah orang tua asuh, mengurangi beban kasus dan kekosongan posisi, serta memperbaiki komunikasi internal dan moral.
Pernyataan itu juga menyerang proses NMDOJ. Menurut Michael Coleman dari Kantor Gubernur, Jaksa Agung disebut “gagal berkonsultasi” saat menyusun laporan dan “mengabaikan kemajuan terukur” di bawah Pelaksana Tugas Sekretaris Valerie Sandoval.
Di sinilah publik perlu tajam membaca dua hal sekaligus. Kemajuan operasional bisa nyata, tetapi tidak otomatis menghapus pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas budaya pembalasan dan praktik nepotisme yang disebut dalam laporan.
Jika laporan NMDOJ benar, maka masalah utamanya adalah arsitektur kekuasaan yang anti-kritik. Arsitektur semacam itu bisa muncul lagi dengan wajah baru jika tidak ada reformasi tata kelola, perlindungan pelapor, dan audit independen yang rutin.
Laporan 200 halaman NMDOJ tentang CYFD dan Teresa Casados menempatkan “budaya kerja toksik,” pembalasan, dan nepotisme sebagai isu inti, bukan catatan pinggir. Gugatan NMDOJ menegaskan bahwa pertarungan sesungguhnya adalah soal transparansi dan hak publik untuk tahu bagaimana negara melindungi anak.
Pernyataan Kantor Gubernur tentang perbaikan pasca-Casados patut dicatat, tetapi tidak boleh menjadi alasan menutup bab lama tanpa evaluasi. Reformasi yang sehat selalu berani menengok ke belakang, agar masa depan tidak dibangun di atas pola yang sama.
Pertanyaan terakhirnya sederhana namun menentukan: apakah CYFD akan menjadi lembaga yang belajar dari kritik, atau lembaga yang menakuti kritik. Jawaban atas itu akan terlihat bukan dari slogan, melainkan dari cara negara memperlakukan orang yang berani bicara ketika anak-anak berada dalam bahaya.
(Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)