Riders Project Pop Berubah: dari Camilan Manis ke Sehat
ORBITINDONESIA.COM – Riders Project Pop kini jadi cermin perubahan gaya hidup musisi yang menua, dari camilan manis ke kebutuhan yang lebih sehat. Jelang konser 30 tahun bertajuk Forever Young–Forever Fun, mereka terang-terangan mengakui daftar permintaan backstage sudah jauh berbeda.
Dalam jumpa pers konser 30 tahun Project Pop di Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026), Yosi Mokalu menyebut riders mereka berubah drastis dibanding 20–25 tahun lalu. Pergeseran itu bukan sekadar selera, melainkan penanda tubuh dan ritme kerja yang tak lagi sama.
Tika Panggabean mengingat masa ketika backstage identik dengan keripik, cokelat, minuman manis, kopi, hingga Pop Mie. Kini, isi riders mereka bergeser ke air mineral, buah-buahan, obat herbal Tolak Angin, serta kopi dan teh tanpa gula.
Riders bukan hanya daftar belanja, melainkan peta kebutuhan performa di balik panggung yang sering luput dari sorot publik. Ketika daftar itu berubah dari gula dan garam ke hidrasi dan herbal, yang berubah bukan sekadar umur, tetapi strategi bertahan di industri hiburan.
Secara sederhana, permintaan makanan manis dulu cocok dengan pola kerja yang mengandalkan “dorongan cepat” untuk energi instan. Namun, setelah puluhan tahun tampil, energi instan sering dibayar mahal lewat penurunan stamina, gangguan tidur, dan pemulihan yang lebih lambat.
Pergeseran ke air putih dan buah menunjukkan prioritas baru: menjaga suara, menjaga fokus, dan mengurangi risiko drop saat tampil. Dalam kerja panggung, dehidrasi ringan saja dapat memengaruhi konsentrasi, ketahanan fisik, dan kualitas vokal, terutama di venue indoor yang padat.
Humor Yosi soal “memikirkan oksigen” terdengar lucu, tetapi menyimpan realitas kerja yang keras. Konser bukan sekadar menyanyi, melainkan aktivitas fisik dengan adrenalin tinggi, jadwal ketat, dan tuntutan tampil prima di depan ribuan penonton.
Di titik ini, riders menjadi semacam negosiasi antara nostalgia dan sains tubuh. Project Pop tetap menjual energi “fun”, tetapi mesin yang menggerakkan “fun” itu kini perlu perawatan yang lebih disiplin.
Konser Forever Young–Forever Fun pada 8 Agustus 2026 di Tennis Indoor Senayan juga menegaskan bahwa pembaruan bukan berarti meninggalkan identitas. Mereka menjanjikan aransemen baru lagu-lagu hits, segmen penghormatan untuk mendiang Oon, dan tamu seperti Inul Daratista, P-Project, serta New Pusat Dunia (NPD).
Perubahan riders Project Pop seharusnya dibaca sebagai kritik halus terhadap romantisasi “hidup keras” di dunia hiburan. Kita kerap menganggap stamina musisi tak terbatas, padahal yang terjadi adalah akumulasi beban kerja yang jarang dibicarakan secara jujur.
Di Indonesia, pembahasan kesehatan kerja di sektor kreatif sering kalah oleh narasi sukses dan panggung gemerlap. Padahal, detail seperti air putih, tanpa gula, dan herbal adalah bentuk kecil dari manajemen risiko yang semestinya jadi standar, bukan pengecualian.
Riders yang lebih sehat juga menunjukkan kedewasaan dalam memaknai profesionalisme. Profesional bukan cuma tepat waktu dan menghibur, tetapi juga memastikan tubuh tetap sanggup bekerja tanpa merusak diri sendiri.
Menariknya, candaan soal oksigen mengungkap batas yang mulai disadari, sekaligus mengajarkan bahwa menua tidak harus identik dengan menurun. Menjadi “Forever Young” mungkin bukan berarti kembali muda, melainkan terus menemukan cara baru agar tetap relevan dan tetap kuat.
Project Pop memberi pelajaran sederhana: perubahan kecil di backstage bisa menjadi keputusan besar untuk umur panjang karier. Dari keripik dan minuman manis ke air putih dan buah, mereka sedang memilih keberlanjutan ketimbang sensasi sesaat.
Jika grup yang identik dengan kelucuan saja kini serius soal kesehatan, publik patut bertanya: mengapa kita masih menertawakan kebutuhan dasar pekerja hiburan? Barangkali, yang benar-benar “forever” bukan mudanya, melainkan kesadaran untuk merawat diri agar tetap bisa memberi kegembiraan.
(Orbit dari berbagai sumber, 22 Juli 2026)