Venky Atluri soal Aktor Bollywood di Film Telugu: Hormati Budaya Kerja

The Times of India

The Times of India

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Venky Atluri menegaskan aktor Bollywood di film Telugu harus memahami budaya kerja dan jam syuting lokal. Sutradara ‘Lucky Bhaskar’ itu menyebut adaptasi budaya dan “Telugu mindset” sebagai syarat etika profesional lintas industri. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Arus silang aktor antarindustri India makin sering terjadi, dari Hindi ke Telugu, Tamil, hingga Malayalam. Mobilitas ini membawa peluang pasar, tetapi juga memunculkan gesekan soal kebiasaan kerja di lokasi syuting. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Venky Atluri menyorot satu titik krusial: hormat pada industri tempat seseorang bekerja. Ia menilai banyak persoalan bukan soal bahasa, melainkan soal kesiapan memahami kultur produksi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Venky menyampaikan prinsip sederhana: sebelum memulai proyek di industri baru, seniman harus mempelajari cara kerja setempat. Ia bahkan memberi contoh personal, bahwa jika ia menyutradarai film Hindi, ia akan mengambil jeda sekitar tiga bulan untuk “mempelajari set” dan ritmenya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Pernyataan itu mengandung pesan ganda, yakni adaptasi adalah kerja, bukan basa-basi. Ketika seseorang masuk ke ekosistem baru, ia membawa standar lama, tetapi ekosistem baru punya kebiasaan, hierarki keputusan, dan tempo produksi yang berbeda. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Ia lalu menegaskan ciri yang sering dibicarakan dalam produksi Telugu: jam kerja panjang. Venky menyebut praktik 11–12 jam di set sebagai sesuatu yang lazim, dan menurutnya siapa pun—Tamil, Malayalam, atau Hindi—harus menghormati kondisi itu. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Di titik ini, isu berubah dari sekadar “kultur” menjadi “standar kerja”. Jam 11–12 jam terdengar normal bagi sebagian kru, tetapi bagi sebagian pekerja kreatif bisa berbenturan dengan tren global yang mendorong pembatasan jam kerja dan perlindungan kesehatan mental. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Karena itu, “menghormati” tidak boleh dibaca sebagai pembenaran tanpa evaluasi. Ada perbedaan antara menghormati kebiasaan lokal dan mengabaikan pertanyaan tentang keselamatan kerja, jeda istirahat, atau perencanaan produksi yang lebih efisien. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Namun, Venky tampaknya menyorot sisi praktis yang sering luput dalam kolaborasi lintas industri: ekspektasi harus disepakati sejak awal. Jika seorang aktor datang dengan asumsi jam kerja lebih pendek, sementara tim lokal beroperasi dengan ritme lebih panjang, konflik bukan hanya mungkin, tetapi hampir pasti. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Pandangan Venky Atluri tentang aktor Bollywood di Telugu cinema terdengar tegas, bahkan bisa dianggap “protektif” terhadap cara kerja lokal. Tetapi ia juga menyampaikan etika dasar profesionalisme: ketika Anda tamu di sebuah industri, Anda belajar dulu, bukan menuntut industri menyesuaikan diri sepihak. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Masalahnya, industri film tidak hanya soal tamu dan tuan rumah, tetapi juga soal relasi kuasa. Aktor bintang membawa modal publik dan daya tawar, sementara kru lokal sering menanggung beban jam panjang, sehingga seruan “ikut aturan” harus dibarengi komitmen meningkatkan kualitas kerja di lapangan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Karena itu, kolaborasi ideal bukan sekadar adaptasi satu arah, melainkan negosiasi yang adil. Aktor Bollywood yang masuk ke Telugu perlu menghormati ritme produksi, tetapi produser juga perlu memastikan ritme itu tidak menjadi alasan untuk normalisasi kelelahan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Di sisi lain, penekanan pada “mindset Telugu” memperlihatkan bahwa sinema adalah identitas, bukan pabrik konten semata. Ketika lintas industri makin umum, risiko yang muncul adalah homogenisasi gaya kerja dan gaya bercerita, sehingga tuntutan memahami kultur bisa menjadi benteng agar kekhasan tetap hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Venky Atluri menutup perdebatan dengan pesan yang mudah dipahami: pahami budaya, hormati jam kerja, dan masuklah dengan sikap belajar. Pernyataannya mengingatkan bahwa kolaborasi lintas bahasa tidak bisa hanya mengandalkan popularitas, tetapi harus ditopang disiplin dan kesepakatan kerja yang jelas. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Namun, pertanyaan yang tersisa justru lebih penting: apakah “tradisi jam panjang” akan terus dipertahankan, atau justru menjadi ruang reformasi ketika industri makin terhubung dan makin diawasi publik. Jika adaptasi adalah kewajiban pendatang, maka perbaikan kondisi kerja seharusnya menjadi kewajiban semua pihak yang ingin sinema tetap manusiawi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)