Mojtaba Khamenei dan Balas Dendam Iran Usai Kematian Ali Khamenei

news.detik.com

news.detik.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Mojtaba Khamenei menyebut balas dendam Iran atas kematian Ayatollah Ali Khamenei sebagai “tuntutan bangsa” yang “pasti harus dilakukan.” Pernyataan itu muncul saat pemakaman Ali Khamenei di Mashhad, beberapa bulan setelah ia tewas dalam serangan udara Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari.

Kematian Ayatollah Ali Khamenei mengubah duka menjadi agenda politik negara. Mojtaba Khamenei memposisikan pembalasan bukan sebagai pilihan, melainkan mandat kolektif yang melampaui figur pemimpin.

Pemakaman berlangsung tertutup, namun didahului pekan berkabung nasional dan prosesi publik besar. Media pemerintah menyebut lebih dari 15 juta pelayat hadir, bahkan ada klaim mencapai 43 juta orang.

Jenazah dimakamkan di Makam Imam Reza, situs suci Syiah paling dihormati di Iran. Lokasi itu memberi pesan simbolik bahwa kematian pemimpin disatukan dengan narasi kesucian dan kesinambungan revolusi.

Di Telegram, Mojtaba menulis, “Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan.” Ia menambahkan, “Baik kami hadir atau tidak, hal itu akan terjadi,” yang mengisyaratkan pembalasan dipaketkan sebagai mekanisme negara, bukan emosi keluarga.

Frasa “dua perang ini” dalam pesannya menandai konflik sudah dibingkai sebagai rangkaian episode, bukan insiden tunggal. Dengan begitu, publik diarahkan melihat eskalasi sebagai kelanjutan logis, bukan keputusan baru yang perlu diperdebatkan.

Kementerian Intelijen Iran memuji prosesi di Iran dan Irak sebagai “janji baru” terhadap cita-cita bangsa dan Poros Perlawanan. Pernyataan itu menghubungkan duka domestik dengan jaringan geopolitik yang mencakup aktor-aktor pro-Iran di kawasan.

Daftar pelayat dari Lebanon, Pakistan, Afghanistan, Azerbaijan, Turki, Kashmir, India, dan Bahrain ditonjolkan sebagai bukti legitimasi lintas batas. Namun daftar itu juga berfungsi sebagai peta audiens, yakni siapa saja yang ingin dirangkul Iran saat tensi meningkat.

Di sisi lain, klaim jumlah pelayat yang sangat besar sulit diverifikasi secara independen dalam situasi krisis. Angka-angka itu tetap efektif sebagai alat komunikasi politik, karena menciptakan kesan konsensus dan menekan ruang skeptisisme.

Amerika Serikat dan Israel diposisikan sebagai musuh tunggal dalam narasi resmi, disebut “kriminal” dan “pembunuh anak-anak.” Bahasa yang absolut seperti ini lazim dipakai untuk mengunci dukungan, sekaligus mempersulit jalan kompromi.

Pernyataan “pasti harus dilakukan” adalah kalimat yang memindahkan Iran dari wilayah retorika ke wilayah ekspektasi publik. Jika pembalasan tidak terjadi, rezim berisiko terlihat lemah; jika terjadi, kawasan berisiko terbakar lebih luas.

Ritual pemakaman berubah menjadi panggung konsolidasi kekuasaan dan identitas nasional. Dengan menempatkan pembalasan sebagai “tuntutan bangsa,” tanggung jawab moral dibagi ke seluruh masyarakat, sehingga kritik mudah dicap sebagai pengkhianatan.

Namun “kehendak bangsa” sering kali bukan suara tunggal, melainkan hasil orkestrasi wacana. Ketika duka dipakai sebagai bahan bakar geopolitik, korban berikutnya bisa saja warga sipil yang tidak pernah ikut menandatangani perang.

Iran tampak ingin menunjukkan bahwa suksesi tidak memutus garis perlawanan. Tetapi semakin keras janji pembalasan, semakin sempit ruang diplomasi yang bisa menyelamatkan ekonomi dan stabilitas sosial di dalam negeri.

Kematian Ali Khamenei telah dipahat menjadi mitologi politik, dan Mojtaba Khamenei sedang menulis bab berikutnya dengan tinta “pembalasan.” Prosesi jutaan pelayat, simbol Makam Imam Reza, dan bahasa Poros Perlawanan membentuk satu pesan: Iran ingin terlihat tak tergoyahkan.

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya kapan pembalasan dilakukan, melainkan bentuknya dan siapa yang akan menanggung akibatnya. Di titik ini, kebesaran duka bisa menjadi jembatan menuju de-eskalasi, atau justru gerbang menuju siklus kekerasan yang lebih panjang.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)