Halal Bihalal Brebes Jadi Forum Aktivis dan Jurnalis
ORBITINDONESIA.COM – Halal bihalal Brebes tahun ini berubah menjadi forum diskusi publik yang menohok, ketika aktivis, tokoh agama, seniman, pemuda, dan praktisi hukum berkumpul di Pulosari. Dari aktivisme yang mandek, krisis etika jurnalis daerah, hingga isu nikah siri dan koperasi, semua dibedah dengan nada reflektif dan tuntutan aksi nyata.
Halal bihalal di Kabupaten Brebes lazimnya identik dengan saling memaafkan dan memperpanjang silaturahmi. Namun pertemuan di kediaman Azmi Asmuni Majid justru memantulkan kegelisahan sosial yang selama ini terasa, tetapi jarang ditata menjadi agenda bersama.
Dalam rangkuman Dedy Agustian, diskusi itu memperlihatkan satu pola yang berulang di banyak daerah. Ruang temu warga sering ramai secara seremoni, tetapi miskin tindak lanjut, sehingga masalah nyata tetap berputar di tempat.
Isu pertama yang mengemuka adalah aktivisme yang kerap berhenti pada diskusi dan simbol. Dedy menegaskan gerakan sipil harus hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan warga, lalu menawarkan solusi yang bisa diuji di lapangan.
Pesan kuncinya adalah disiplin dan konsistensi sebagai fondasi. Tanpa dua hal itu, aktivisme mudah berubah menjadi wacana musiman yang hanya hidup saat ada isu viral atau momentum politik.
Isu kedua menyentuh dunia jurnalistik daerah, yakni maraknya oknum yang mengaku wartawan tetapi bekerja tanpa standar. Praktiknya disebut mulai dari menyalin siaran pers, mengandalkan konten media sosial, hingga hadir seremonial tanpa karya yang substansial.
Problem ini bukan sekadar soal kualitas tulisan, tetapi soal kepercayaan publik. Ketika informasi diproduksi tanpa verifikasi dan keberimbangan, masyarakat kehilangan kompas, sementara pers kehilangan marwah sebagai pengawas kekuasaan.
Diskusi juga menyinggung nikah siri yang secara agama dapat dipandang sah, tetapi rapuh secara administrasi. Praktisi hukum Slamet mengingatkan risiko terbesar menimpa perempuan dan anak, terutama pada hak nafkah, waris, dan perlindungan hukum saat konflik terjadi.
Dari sisi ekonomi, peserta memotret koperasi sebagai instrumen yang bisa mengangkat kemandirian warga. Konsep Koperasi Merah Putih disebut menjanjikan bila dikelola profesional dan transparan, sehingga tidak jatuh menjadi sekadar lembaga simpan pinjam.
Di ranah budaya, seniman dan pemuda mengingatkan bahwa tradisi lokal bukan pajangan nostalgia. Hendri menekankan inovasi kemasan budaya agar relevan, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif yang bisa dinikmati generasi muda.
Usulan “Brebes Membaca” memperluas diskusi ke sektor literasi. Dedy menyebut literasi sebagai kunci membangun masyarakat kritis dan adaptif, karena kemampuan membaca informasi menentukan daya tahan warga menghadapi hoaks dan manipulasi.
Halal bihalal Brebes ini memperlihatkan satu hal yang sering luput, yakni tradisi bisa menjadi infrastruktur sosial. Ia dapat menjadi ruang aman untuk menyatukan kelompok yang biasanya terpisah, lalu mengubah keluhan menjadi peta kerja bersama.
Namun ada risiko romantisasi dialog jika tidak diikat target yang terukur. Forum lintas kalangan akan kehilangan daya jika hanya menghasilkan kesimpulan normatif, tanpa pembagian peran, tenggat, dan mekanisme evaluasi.
Kritik paling tajam justru mengarah pada dua simpul pengaruh di daerah, yakni aktivis dan jurnalis. Aktivis ditantang membuktikan keberpihakan lewat kerja sunyi yang konsisten, sementara jurnalis dituntut kembali pada verifikasi, konteks, dan etika.
Di titik ini, isu nikah siri, koperasi, dan budaya lokal memiliki benang merah yang sama, yaitu perlindungan warga. Negara hadir lewat administrasi dan hukum, pasar hadir lewat peluang ekonomi, dan komunitas hadir lewat solidaritas yang terorganisir.
Azmi Asmuni Majid menutup pertemuan dengan pengingat bahwa silaturahmi seharusnya membawa manfaat nyata. Pesan itu terasa sederhana, tetapi sebenarnya menuntut keberanian untuk mengubah tradisi menjadi kolaborasi yang berdampak.
Brebes membutuhkan ruang dialog yang terbuka, jujur, dan berorientasi aksi, bukan sekadar panggung wacana. Pertanyaannya kini, siapa yang bersedia memulai kerja konkret pertama, lalu bersedia bertahan ketika sorotan sudah pindah ke isu lain.
(Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)