Perhutani Kedu Utara Bersihkan Jalur Wisata Hutan Srandil

Perhutani

Perhutani

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Perhutani KPH Kedu Utara membersihkan jalur objek wisata di kawasan hutan RPH Srandil, BKPH Ambarawa, setelah hujan menyeret tanah dan batu ke badan jalan. Aksi bersih-bersih jalur wisata hutan ini terdengar sederhana, tetapi menyentuh inti persoalan: keselamatan pengunjung, reputasi destinasi, dan napas ekonomi warga sekitar.

Jalur menuju objek wisata di kawasan hutan kerap menjadi titik rapuh saat musim hujan, karena sedimentasi, ranting tumbang, dan saluran air yang tersumbat. Dalam kasus Srandil, Perhutani menyebut pekerjaan utamanya mengangkat material, memangkas ranting, dan menata drainase agar jalan tidak tergenang.

Di banyak destinasi alam, akses adalah “produk” pertama yang dibeli wisatawan, bahkan sebelum panorama. Sekali jalur dianggap berbahaya atau merepotkan, arus kunjungan bisa turun, dan UMKM yang menggantungkan hidup pada keramaian ikut terpukul.

Karena itu, pembersihan jalan bukan sekadar kerja teknis, melainkan bagian dari tata kelola pariwisata berbasis hutan. Perhutani menempatkan kegiatan ini sebagai wujud kepedulian sekaligus dukungan pada keberlangsungan wisata alam di wilayah kerja Kedu Utara.

Secara prinsip, perawatan akses wisata adalah bentuk mitigasi risiko yang murah dibanding biaya kecelakaan, evakuasi, atau penutupan jalur. Dalam manajemen destinasi, drainase yang baik dan pemangkasan vegetasi di titik rawan adalah intervensi rutin yang menentukan persepsi aman.

Perhutani juga mengaitkan wisata hutan dengan peluang ekonomi warga, mulai UMKM, parkir, hingga kuliner. Pola ini sejalan dengan tren desa wisata dan ekonomi lokal, di mana belanja pengunjung lebih sering “menetes” ke usaha kecil ketimbang ke jaringan besar.

Namun, narasi manfaat ekonomi perlu dilengkapi ukuran yang lebih tegas, seperti data jumlah pengunjung, omzet UMKM, atau kontribusi retribusi yang kembali ke perawatan jalur. Tanpa indikator, publik hanya menerima klaim, padahal transparansi adalah bahan bakar kepercayaan.

Kutipan Wakil Administratur KPH Kedu Utara, Bambang Setyawan, menegaskan posisi Perhutani sebagai pengelola sekaligus mitra sosial. “Perhutani tidak hanya menjalankan fungsi pengelolaan dan pelestarian hutan, tetapi juga hadir untuk membantu masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lapangan, Suradi menyebut kehadiran petugas Perhutani memberi semangat gotong royong. “Pengelolaan hutan bukan hanya tentang menjaga pohon, tetapi juga tentang menjaga hubungan baik,” katanya, dan kalimat ini menandai pergeseran makna pengelolaan hutan ke ranah sosial.

Kegiatan pembersihan jalan di Srandil patut diapresiasi, tetapi juga harus dibaca sebagai sinyal bahwa wisata hutan membutuhkan “pemeliharaan harian” yang sering tak terlihat. Jika jalur hanya dibenahi saat ada keluhan atau setelah kejadian, maka keselamatan selalu datang terlambat.

Perhutani, masyarakat, dan pelaku wisata memang kunci, tetapi sinergi tidak cukup bila tidak ada pembagian peran yang jelas. Siapa yang bertanggung jawab pada inspeksi drainase, jadwal kerja bakti, rambu peringatan, dan standar respons saat cuaca ekstrem harus dipastikan, bukan sekadar diserukan.

Di titik ini, gotong royong sebaiknya tidak menjadi alasan untuk menormalisasi minimnya anggaran perawatan atau lemahnya sistem. Gotong royong idealnya menjadi penguat, sementara tata kelola tetap bertumpu pada perencanaan, data risiko, dan akuntabilitas.

Wisata di kawasan hutan juga membawa dilema: semakin ramai, semakin besar tekanan pada lingkungan dan konflik ruang. Maka pembersihan jalan perlu dibarengi pengaturan daya dukung, pengelolaan sampah, serta edukasi pengunjung agar “nyaman” tidak berujung “merusak”.

Pembersihan jalur wisata hutan RPH Srandil menunjukkan bahwa keselamatan dan kenyamanan pengunjung bisa dijaga lewat kerja sederhana yang konsisten. Ia juga mengingatkan bahwa ekonomi warga sekitar hutan sering bergantung pada hal-hal kecil, seperti jalan yang tidak licin dan saluran air yang tidak mampet.

Pertanyaannya, apakah langkah ini akan menjadi rutinitas berbasis data, atau hanya respons sesaat setelah hujan deras. Jika hutan ingin lestari dan wisata ingin berkelanjutan, maka yang dibutuhkan bukan hanya kerja bakti, tetapi sistem yang membuat kepedulian menjadi kebiasaan. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)