Kisah Arif, Pemulung Disabilitas yang Konsisten Berkurban Selama Enam Tahun

Setiap malam, seorang pemuda mengayuh sepedanya menyusuri jalanan Kota Bekasi. Di atas kendaraan roda dua itu, ia mencari kardus-kardus bekas yang masih bisa dikumpulkan untuk dijual kembali. Penghasilan yang diperolehnya tidak seberapa, bahkan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di balik hidupnya yang serba terbatas, ada satu hal yang selalu ia prioritaskan: menyisihkan sebagian rezeki untuk berkurban.

Pemuda itu bernama Arif. Ia tinggal di kawasan Taman Asri II, Bekasi. Arif merupakan seorang penyandang disabilitas yang memiliki hambatan bicara. Sejak kecil, ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Berbeda dengan kebanyakan anak seusianya, Arif tumbuh tanpa pernah merasakan bangku sekolah. Ia juga memiliki hambatan bicara sehingga kerap kesulitan untuk berkomunikasi.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Arif menjalani berbagai pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Kadang ia memulung kardus bekas untuk dijual kembali, kadang membantu mencuci piring di gerobak bakso, dan tak jarang turut membersihkan masjid di lingkungan tempat tinggalnya. Di kawasan tersebut, Arif dikenal sebagai sosok yang ringan tangan. Meski hidup dalam keterbatasan, ia kerap membantu pekerjaan apa pun yang bisa dikerjakannya dan tidak segan menolong orang-orang di sekitarnya.

Namun di balik segala keterbatasan itu, Arif menyimpan kebiasaan yang membuat banyak orang salut.

Setiap hari, dari penghasilan yang diperolehnya, Arif berusaha menyisihkan Rp2.000 untuk tabungan kurban. Jumlah tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi bagi Arif, setiap rupiah yang ditabung memiliki arti tersendiri. Sedikit demi sedikit, ia mengumpulkannya dengan penuh kesabaran, hingga menjadi bekal untuk mewujudkan niat yang selalu ia jaga dari tahun ke tahun: berkurban.

Hingga suatu hari, kisah Arif menarik perhatian banyak orang setelah beredar di media sosial. Saat itu, ia datang menemui seorang penjual kambing sambil membawa kantong berisi uang receh yang telah lama ditabungnya.

Dengan tutur kata yang terbata-bata, Arif menyampaikan keinginannya untuk membeli hewan kurban.

"Saya mau kurban," katanya singkat.

Penjual kambing tersebut tampak terharu. Di saat sebagian orang menunggu kondisi yang lebih mapan untuk bisa berbagi, Arif justru menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu harus lahir dari kelapangan. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, ia tetap berusaha menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi kepada sesama.

Cerita tentang Arif kemudian menyebar luas di media sosial dan mendapat perhatian dari banyak warganet. Ketekunannya menyisihkan uang receh untuk berkurban selama bertahun-tahun membuat banyak orang tersentuh. Dari perhatian tersebut, seorang dermawan dikabarkan tergerak untuk membantu mewujudkan niat Arif agar dapat berkurban atas namanya sendiri.

Apa yang dilakukan Arif bukan sekadar tentang ketekunannya mengumpulkan uang untuk membeli hewan kurban. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa semangat berbagi tidak selalu bergantung pada besarnya penghasilan yang dimiliki. Kisahnya menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk memberi manfaat dan menghadirkan kebaikan bagi orang lain.