Ukuran Bima Sakti Direvisi: Lengan Spiral Ternyata Lebih Jauh

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Ukuran Bima Sakti kembali diperdebatkan setelah studi baru menyebut dua lengan spiral utama berada sekitar 10 persen lebih jauh dari Bumi. Temuan jarak lengan spiral ini, berbasis gema sinar-X dari gamma-ray burst (GRB), berpotensi mengubah cara kita menghitung massa galaksi dan bahkan menilai apakah Bima Sakti simetris.

Mengukur ukuran Bima Sakti selalu problematis karena kita hidup di dalamnya, bukan mengamatinya dari luar. Situasinya seperti mencoba memetakan seluruh gedung hanya dari satu kamar, dengan lorong-lorong yang tak terlihat utuh.

Selama ini, banyak estimasi lengan spiral mengandalkan model kecepatan rotasi galaksi. Dari pendekatan itu lahir angka populer: diameter Bima Sakti sekitar 100.000 tahun cahaya dan massa sekitar 1,5 triliun kali massa Matahari, tetapi ketidakpastian membesar di wilayah terluar.

Di titik inilah persoalan menjadi krusial, karena jarak adalah fondasi bagi hampir semua parameter kosmik. Jika jarak lengan spiral meleset, maka peta struktur galaksi, distribusi materi, dan kalkulasi massa total ikut bergeser.

Studi yang dipublikasikan di Astronomy and Astrophysics pada 19 Juni memperkenalkan cara ukur yang lebih “langsung” untuk wilayah yang sulit dijangkau model rotasi. Tim Beatrice Vaia dari Italian National Institute for Astrophysics memanfaatkan gema sinar-X dari GRB, salah satu ledakan paling energetik di alam semesta.

Prinsipnya sederhana namun elegan: ketika sinar-X GRB melewati awan gas padat, cahaya membentuk cincin atau echo. Ukuran cincin itu menjadi petunjuk jarak awan gas—yang berada di lengan spiral—terhadap Bumi.

Data diambil dari Observatorium Sinar-X Chandra milik NASA dan XMM-Newton milik ESA. Tiga GRB dianalisis karena lintasan cahayanya melewati awan gas di lengan Perseus, lengan Outer, dan lengan Scutum-Centaurus.

Hasilnya menampar asumsi lama: lengan Outer dan lengan Scutum-Centaurus kemungkinan sekitar 10 persen lebih jauh dari perkiraan sebelumnya. Dalam skala galaksi, 10 persen bukan koreksi kosmetik, melainkan ribuan tahun cahaya yang menggeser batas “peta” Bima Sakti.

Vaia menegaskan kelemahan metode lama yang terlalu bergantung pada pemodelan tidak langsung. “Kami biasanya memodelkan lengan-lengan luar Bima Sakti secara tidak langsung berdasarkan apa yang kita ketahui tentang rotasi galaksi kita, tapi melakukannya dengan cara ini meninggalkan ruang untuk kesalahan,” ujarnya, dikutip Live Science.

Implikasi berikutnya menyasar angka-angka yang selama ini dianggap mapan, terutama massa galaksi. Ilaria Fornasiero dari Universitas Bologna menyebut revisi jarak ini “kecil” tetapi fundamental karena menentukan seberapa jauh lengan-lengan terbentang, yang pada gilirannya mempengaruhi estimasi massa total.

Jika lengan spiral lebih jauh, ada dua konsekuensi yang sama-sama mengguncang: Bima Sakti mungkin lebih lebar, dan bisa juga lebih masif dari yang dihitung. Koreksi ini juga membuka kemungkinan bahwa struktur galaksi tidak serapi sketsa simetris yang kerap muncul di buku pelajaran.

Temuan ini mengingatkan bahwa sains tidak selalu bergerak lewat revolusi dramatis, melainkan lewat koreksi kecil yang menyentuh fondasi. Publik sering menganggap “10 persen” sebagai perbedaan remeh, padahal dalam astronomi itu bisa berarti memindahkan batas wilayah galaksi sejauh ribuan tahun cahaya.

Namun, kita juga perlu waspada terhadap euforia berlebihan, karena studi ini bertumpu pada tiga peristiwa GRB dan geometri lintasan cahaya yang kebetulan menguntungkan. Metode echo sinar-X menjanjikan, tetapi untuk menyimpulkan bentuk Bima Sakti secara menyeluruh, jumlah sampel dan cakupan arah pengamatan harus diperluas.

Di sisi lain, justru di sinilah nilai jurnalistiknya: kita menyaksikan bagaimana “peta rumah” manusia direvisi dengan alat yang tak terbayangkan beberapa dekade lalu. Ketika pengukuran berubah, narasi tentang materi gelap, distribusi gas, dan dinamika galaksi ikut menuntut pembacaan ulang.

Lebih jauh, revisi jarak lengan spiral memotret keterbatasan perspektif manusia yang terkurung di dalam sistem yang hendak diukur. Kita tidak hanya menatap langit, tetapi juga menafsirkan diri sendiri, karena posisi Bumi di galaksi selalu menjadi titik awal sekaligus sumber bias.

Jika lengan Outer dan Scutum-Centaurus memang lebih jauh, maka ukuran Bima Sakti yang kita hafal mungkin perlu ditulis ulang, termasuk estimasi massa dan kemungkinan asimetri bentuknya. Perubahan itu mengajarkan satu hal: peta kosmos bukan dokumen final, melainkan draf yang terus diperbaiki seiring metode pengukuran makin canggih.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan sekadar “seberapa besar galaksi kita,” melainkan “seberapa sering kita keliru karena mengukur dari dalam.” Dan barangkali, di situlah pelajaran paling manusiawi dari astronomi: kerendahan hati ilmiah adalah kompas terbaik saat menafsirkan semesta. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juli 2026)