AI Geser Aktor Dracin China, Xu Peng Pulang Jual Sayur
ORBITINDONESIA.COM – AI di industri hiburan China kini benar-benar menggeser aktor dracin, dan Xu Peng menjadi wajah paling nyata dari perubahan itu. Mantan pemeran CEO arogan di drama pendek tersebut pulang kampung ke Shandong untuk membantu kakeknya berdagang sayur setelah tawaran akting menghilang.
Xu Peng sempat menikmati puncak gelombang drama pendek yang booming pada 2025, setelah sebelumnya pernah tampil di serial televisi. Ia lulusan Akademi Drama Pusat dan dikenal punya kemampuan akting kuat, sehingga cepat mendapat peran utama dan jadwal syuting 15–16 jam sehari.
Namun industri bergerak lebih cepat daripada karier individu, karena produksi konten AI masuk tanpa aba-aba. Dalam laporan kuartal pertama 2026, dari sekitar 128.000 drama pendek yang dirilis, sekitar 122.000 disebut diproduksi oleh AI.
Angka 122.000 dari 128.000 menunjukkan dominasi hampir total, dan itu berarti pasar kerja aktor dracin menyusut drastis dalam waktu singkat. Jika produksi AI dapat menulis naskah, membuat wajah digital, dan merakit adegan cepat, maka banyak produser akan memilih jalur termurah dan tercepat.
Drama pendek memang lahir sebagai format serba cepat, sehingga paling rentan “diambil alih” otomatisasi. Ketika ritme produksi menuntut kuantitas, kualitas akting manusia sering dianggap bisa digantikan oleh visual yang cukup meyakinkan dan alur yang repetitif.
Kasus Xu Peng juga memperlihatkan sisi lain ekonomi kreator, yakni ketergantungan pada proyek harian dan arus pesanan yang tidak stabil. Sekali permintaan menguap, tidak ada “jaring pengaman” yang cukup kuat bagi pekerja seni lepas untuk menahan guncangan teknologi.
Hengdian selama ini dikenal sebagai pusat produksi film dan televisi China, tetapi pusat industri pun tidak kebal terhadap disrupsi. Xu Peng meninggalkan kota itu setelah menyelesaikan drama pendek terakhirnya awal tahun ini, lalu kembali ke desa dan bekerja di pasar lokal.
Peralihan itu bukan sekadar perubahan pekerjaan, melainkan perubahan kelas mobilitas sosial yang kerap dijanjikan industri hiburan. Dari sorot kamera ke terik matahari, dari set syuting ke lapak sayur, ia mengalami “turun panggung” yang sekarang dialami banyak pekerja kreatif.
Di satu sisi, AI bisa dipuji karena menurunkan biaya produksi dan membuka akses bagi lebih banyak orang untuk membuat konten. Namun di sisi lain, efisiensi yang tidak diimbangi perlindungan kerja akan mengubah kreativitas menjadi sekadar lini produksi, dan manusia menjadi biaya yang harus dipangkas.
Pernyataan Xu Peng terdengar tenang, tetapi juga memantulkan realitas keras pasar tenaga kerja baru. Ia berkata, “Menjadi aktor hanyalah sebuah profesi,” dan menegaskan ia akan mencari nafkah lain selama dilakukan dengan jujur melalui kerja kerasnya sendiri.
Kalimat itu patut dihormati, namun tidak boleh dipakai untuk menormalisasi pemutusan kerja massal tanpa transisi yang adil. Industri hiburan perlu membahas ulang standar kredit, kompensasi, dan batas penggunaan AI, agar talenta manusia tidak sekadar menjadi “data latih” yang kemudian menggantikannya.
Xu Peng mengatakan, “Meskipun profesiku berubah, aku tetap orang yang sama,” seolah mengingatkan bahwa martabat tidak ditentukan oleh panggung. Tetapi pertanyaan yang lebih besar justru mengarah pada kita, apakah masyarakat siap menilai ulang makna kerja kreatif ketika AI bisa memproduksi hiburan hampir tanpa manusia.
Jika drama pendek bisa menjadi 95% lebih produksi AI, maka yang terancam bukan hanya aktor dracin, melainkan ekosistem kerja di balik layar. Pada akhirnya, kemajuan teknologi akan selalu datang, namun ukuran peradaban adalah bagaimana kita memastikan manusia tidak ikut dipensiunkan sebelum waktunya.
(Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)