Bed Rotting dan Self-Care: Rebahan Seharian Bikin Pulih?

Beautynesia

Beautynesia

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Bed rotting atau rebahan berjam-jam kini disebut sebagai self-care oleh banyak anak muda. Namun, ketika rebahan seharian berubah jadi rutinitas sambil scroll media sosial, pertanyaannya bergeser: ini pemulihan, atau justru pelarian yang menggerus energi?

Istilah bed rotting ramai di TikTok dan platform lain sebagai cara “mengisi ulang” setelah hari yang melelahkan. Aktivitasnya sederhana, yakni berdiam di kasur selama berjam-jam untuk menonton, menggulir layar, atau tidak melakukan apa pun.

Di tengah ritme kerja dan kuliah yang padat, rebahan tampak seperti bentuk perlawanan paling mudah terhadap tuntutan produktivitas. Banyak orang lalu menganggapnya sebagai perawatan diri yang sah, karena terasa nyaman dan minim biaya.

Riset Amerisleep mencatat 89 persen Gen Z di Amerika menghabiskan sekitar 21 hari per tahun untuk bed rotting. Rata-rata lintas generasi bahkan mencapai 364 jam per tahun, setara 15 hari hanya untuk bersantai di tempat tidur.

Angka itu menunjukkan bed rotting bukan kebiasaan pinggiran, melainkan pola baru dalam mengelola lelah. Namun, data yang sama juga menyebut orang yang tidak rebahan lama cenderung lebih puas terhadap hidup dan pekerjaan dibanding mereka yang banyak menghabiskan waktu di kasur.

Dr. Ritz Birah dalam My Journal Courier menilai istirahat di tempat tidur bisa masuk akal, terutama saat cuaca dingin, karena memberi rasa hangat dan aman. Ia menambahkan efek menenangkan sistem saraf lebih mungkin terjadi bila dilakukan singkat dan tanpa menggulir layar.

Di titik ini, kata kuncinya bukan “rebahan”, melainkan “durasi” dan “isi aktivitas”. Rebahan singkat dapat merilekskan otot dan mengembalikan tenaga, tetapi rebahan panjang sambil doomscrolling cenderung memperpanjang stres secara halus.

Scroll media sosial berjam-jam membuat otak tetap bekerja, karena terus menerima rangsangan, perbandingan sosial, dan informasi acak. Tubuh terlihat diam, tetapi sistem perhatian dipaksa aktif, sehingga lelah mental bisa bertambah tanpa terasa.

Masalah lain muncul saat bed rotting menjadi cara default menghadapi tekanan. Pekerjaan menumpuk, rasa bersalah meningkat, dan siklus “capek–rebahan–makin tertinggal” bisa terbentuk pelan-pelan.

Jika self-care bertujuan memulihkan, maka ukurannya adalah fungsi yang kembali, bukan sekadar rasa nyaman sesaat. Self-care yang sehat mestinya membuat seseorang bangun dengan arah yang lebih jelas, bukan dengan kabut yang lebih tebal.

Bed rotting adalah gejala zaman yang lebih besar dari sekadar malas. Ia sering menjadi bahasa tubuh dari generasi yang kelelahan, tetapi tidak selalu punya ruang pemulihan yang benar-benar aman dan terstruktur.

Masalahnya, budaya digital menjual “istirahat” dalam bentuk konsumsi layar. Kita diajak percaya bahwa rebahan sambil scroll adalah jeda, padahal itu kerap hanya memindahkan beban dari dunia nyata ke dunia algoritma.

Rebahan seharian juga bisa menyamarkan isu yang lebih serius, seperti burnout, kecemasan, atau depresi ringan. Ketika seseorang membutuhkan bantuan profesional, narasi “self-care” kadang membuat sinyal bahaya itu terdengar normal.

Karena itu, bed rotting perlu dibaca sebagai alarm, bukan identitas. Jika rebahan hanya sesekali dan membuat tubuh pulih, itu wajar, tetapi jika makin sering dan membuat hidup mengecil, itu tanda perlu strategi baru.

Strategi itu tidak harus ekstrem, karena pemulihan sering lahir dari hal kecil yang konsisten. Batasi rebahan untuk istirahat singkat, imbangi aktivitas fisik ringan, jaga nutrisi, dan prioritaskan kualitas tidur malam.

Waktu jeda juga bisa diisi tanpa layar, seperti membaca, meditasi, atau sekadar diam dengan napas yang teratur. Cara ini membuat otak benar-benar berhenti menerima banjir rangsangan, sehingga tubuh punya kesempatan pulih yang nyata.

Bed rotting bisa menjadi self-care bila ia pendek, sadar, dan tidak mengandalkan scroll tanpa henti. Bed rotting menjadi masalah bila ia panjang, berulang, dan membuat kita menjauh dari hidup yang seharusnya kita jalani.

Pertanyaan yang layak diajukan bukan “apakah rebahan itu salah”, melainkan “apakah rebahan ini membuatku lebih mampu hidup besok”. Jika jawabannya tidak, mungkin yang dibutuhkan bukan kasur yang lebih lama, tetapi pemulihan yang lebih jujur dan terarah.

(Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)