Dakwah Era AI: Menag Nasaruddin Dorong Agama Adaptif Digital

Katakini.com

Katakini.com

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Dakwah era AI dan agama di era digital kembali jadi sorotan setelah Menag Nasaruddin Umar meminta strategi keagamaan lebih adaptif tanpa melepas fondasi moral. Pesannya tegas: kecerdasan buatan mengubah cara generasi muda belajar, sehingga cara agama hadir di ruang publik juga harus berubah.

Di Jakarta, Menag menyampaikan pesan itu dalam KTT Konfusianisme ASEAN-Tiongkok ke-5 yang menekankan penguatan budi pekerti di tengah perubahan zaman. Forum lintas negara tersebut menempatkan etika sebagai pagar sosial saat teknologi menggeser kebiasaan manusia.

Menag menilai penyampaian ajaran agama tidak cukup mengandalkan tradisi masa lalu. Dakwah dan pembinaan keagamaan perlu masuk ke media sosial dan mengikuti pola hidup modern agar tetap kontekstual.

Perubahan cepat menciptakan ketegangan baru bagi umat beragama. Mereka diminta menjaga tradisi, tetapi juga harus bertahan dalam masa depan yang semakin canggih.

Dakwah era AI tidak sekadar soal memindahkan ceramah ke layar, melainkan soal kompetisi perhatian di ruang digital. Algoritma media sosial menyaring apa yang terlihat, sehingga pesan agama berisiko kalah oleh konten sensasional bila tidak dikemas dengan cerdas.

AI mempercepat produksi teks, gambar, dan video, tetapi juga mempercepat misinformasi dan manipulasi emosi. Di banyak negara, otoritas publik kini menaruh perhatian pada disinformasi berbasis AI, termasuk deepfake, karena dapat memicu fitnah dan konflik sosial.

Dalam konteks Indonesia, literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data APJII beberapa tahun terakhir menunjukkan penetrasi internet Indonesia sudah menembus lebih dari tiga perempat populasi, yang berarti arena dakwah paling ramai justru berada di gawai.

Ketua Umum Matakin, Xs. Budi Santoso Tanuwibowo, menambahkan dimensi lain yang lebih sunyi tetapi menentukan: masa depan kerja. Ia mengingatkan bahwa ketika AI menggantikan pekerjaan mekanis, manusia yang kehilangan pegangan moral akan mudah meminggirkan yang kalah.

“Ketika suatu saat AI mampu menggantikan semua fungsi manusia, apa yang akan dilakukan oleh manusia?” kata Budi. “Kalau mereka tidak punya budi pekerti, maka yang kalah akan dipinggirkan,” lanjutnya.

Peringatan itu selaras dengan diskusi global tentang otomatisasi, ketimpangan, dan perlindungan kelompok rentan. Teknologi sering menjanjikan efisiensi, tetapi tanpa etika ia juga dapat memperlebar jarak antara yang menguasai alat dan yang hanya menjadi objek perubahan.

Karena itu, dakwah era AI perlu membaca realitas baru: manusia bukan hanya butuh benar-salah, tetapi juga butuh arah hidup di tengah banjir informasi. Agama di era digital dituntut menjadi kompas moral yang mampu menjelaskan “mengapa” dan “untuk siapa” kemajuan itu dijalankan.

Seruan Menag patut dibaca sebagai kritik halus terhadap kebiasaan keagamaan yang terlalu nyaman dengan format lama. Jika dakwah hanya mengulang bentuk, ia akan kalah oleh zaman, dan nilai moral justru tersingkir oleh kebisingan konten.

Namun adaptif tidak boleh berarti permisif terhadap logika platform. Agama di era digital harus berani menjaga kedalaman, meski algoritma lebih menyukai potongan pendek yang memancing emosi.

Di sinilah tantangannya menjadi politis sekaligus kultural: siapa yang menguasai narasi moral di ruang digital. Bila ruang itu dibiarkan dipenuhi ujaran kebencian dan komodifikasi agama, maka AI hanya menjadi pengeras suara bagi polarisasi.

Karena itu, transformasi dakwah seharusnya bukan proyek kosmetik, melainkan reformasi cara berpikir. Para pemuka agama perlu menguasai literasi data, etika AI, dan psikologi media sosial, agar budi pekerti tidak sekadar slogan.

Budi pekerti yang dimaksud Budi juga perlu diterjemahkan ke kebijakan sosial yang nyata. Tanpa keberpihakan pada yang rentan, moralitas hanya berhenti sebagai nasihat, sementara teknologi terus memproduksi pemenang dan pecundang.

Dakwah era AI pada akhirnya adalah pertaruhan tentang manusia: apakah teknologi membuat kita lebih beradab atau sekadar lebih cepat. Menag dan Matakin sama-sama menekankan bahwa fondasi moral harus memimpin, bukan mengikuti.

Jika AI kelak mampu meniru banyak fungsi manusia, yang tersisa sebagai pembeda adalah budi pekerti dan tanggung jawab sosial. Pertanyaannya, apakah kita sedang menyiapkan generasi yang fasih teknologi sekaligus tahan godaan kuasa digital.

(Orbit dari berbagai sumber, 11 Oktober 2026)