Selat Hormuz Ditutup, Sigmar Gabriel: AS-China Tak Berdaya

Ahlulbait Indonesia

Ahlulbait Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Penutupan Selat Hormuz kembali mengguncang ekonomi global, dan Sigmar Gabriel menilai tak ada kekuatan, termasuk Amerika Serikat dan China, yang mampu memaksa Iran membukanya. Dalam wawancara dengan Der Spiegel yang dikutip Fars News Agency pada 1 September 2026, mantan Menlu Jerman itu menyebut perang di Iran memperlihatkan batas nyata pengaruh dua negara adidaya.

Selat Hormuz adalah jalur sempit yang selama puluhan tahun menjadi nadi perdagangan energi, terutama minyak dan gas, dari Teluk Persia ke pasar dunia. Ketika jalur ini tersendat, harga energi naik, biaya logistik membengkak, dan inflasi mudah menyebar ke berbagai negara.

Iran menyatakan selat itu ditutup akibat apa yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel. Sebelum perang, Teheran menegaskan jalur itu terbuka bagi pelayaran, namun eskalasi membuat kalkulasi keamanan berubah total.

Pernyataan Gabriel menohok karena menyasar inti mitos geopolitik modern, yaitu keyakinan bahwa superpower selalu bisa memaksakan “keterbukaan” jalur perdagangan. Ia menyebut Washington tidak mampu membuka Selat Hormuz dan membebaskan ekonomi global dari salah satu persoalan terbesarnya saat ini.

China pun, menurut Gabriel, menghadapi kebuntuan yang sama meski posisinya disebut sebagai sahabat Iran. Ia menekankan sekitar 50 persen impor minyak China terdampak, tetapi Beijing tetap tidak berhasil menghentikan situasi atau memulihkan pelayaran.

Angka 50 persen itu bukan sekadar statistik, melainkan indikator risiko sistemik bagi rantai pasok industri China. Jika pasokan energi terganggu lama, tekanan akan merambat ke produksi, ekspor, dan akhirnya ke harga barang global.

Keterbatasan AS juga mencerminkan dilema klasik, yaitu kekuatan militer tidak otomatis menjadi kendali politik di medan yang padat aktor dan penuh konsekuensi. Membuka selat dengan paksaan berarti menanggung eskalasi baru, sementara membiarkan penutupan berarti menerima kerugian ekonomi dan reputasi.

Di sisi lain, Iran memanfaatkan posisi geografis sebagai alat tawar strategis, karena biaya penutupan ditanggung banyak negara sekaligus. Dalam situasi seperti ini, “pengaruh” berubah bentuk menjadi negosiasi terselubung, tekanan ekonomi, dan perang narasi.

Gabriel juga menyebut Donald Trump sebagai presiden yang waktunya di panggung politik kian mendekati akhir setelah apa yang ia sebut bencana di Iran. Namun ia mengingatkan Trump masih punya kemampuan menimbulkan kerusakan besar, sebuah peringatan tentang risiko keputusan impulsif di tengah krisis.

Poin paling penting dari Gabriel bukan sekadar kritik pada Washington atau Beijing, melainkan pembacaan atas tatanan global yang makin sulit dikendalikan satu pusat kekuatan. Dunia bergerak ke fase “keterbatasan hegemon”, ketika jalur energi, konflik regional, dan opini publik saling mengunci.

Eropa, menurut Gabriel, juga kehilangan sebagian pengaruhnya terhadap perkembangan dunia. Tetapi ia melihat peluang jika Eropa membangun hubungan lebih dekat dengan dunia, karena ruang diplomasi justru terbuka ketika para raksasa saling buntu.

Di titik ini, pertanyaannya bukan siapa paling kuat, melainkan siapa paling mampu merancang solusi yang bisa diterima banyak pihak. Jika Selat Hormuz menjadi simbol, maka simbol itu berbicara tentang rapuhnya ekonomi global yang terlalu bergantung pada satu koridor sempit.

Penutupan Selat Hormuz menunjukkan bahwa peta kekuatan tidak selalu sejalan dengan kemampuan mengubah realitas di lapangan. Pernyataan Sigmar Gabriel menantang asumsi lama, bahwa AS atau China bisa selalu “mengatur” jalur vital dunia.

Jika Eropa benar ingin mendefinisikan ulang posisinya, ia harus berbicara dengan bahasa kepentingan bersama, bukan sekadar bahasa blok. Pada akhirnya, dunia perlu bertanya, apakah keamanan energi akan terus ditentukan oleh ancaman dan pembalasan, atau oleh diplomasi yang berani mengakui keterbatasan semua pihak. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)