Budaya Kantor India Tolak WFH Saat Hujan, Digital India Dipertanyakan
ORBITINDONESIA.COM – Budaya kantor India kembali disorot setelah video Joshua Jacob Smith mempertanyakan mengapa karyawan tetap dipaksa masuk kantor saat hujan deras dan perjalanan menjadi tidak aman. Isu work from home (WFH) mendadak jadi cermin: sejauh mana “Digital India” benar-benar hidup di ruang kerja, bukan hanya di slogan.
Dalam rekaman Instagram, Smith berjalan di jalanan basah dengan jas hujan, sambil menegaskan banyak pekerjaan kini bisa dilakukan jarak jauh. Namun ia melihat praktik manajemen tetap meminta orang hadir fisik, bahkan ketika mereka tiba dalam kondisi kuyup.
Hujan lebat dan genangan air berulang terjadi di banyak kota India, dan dampaknya paling cepat terasa di jam berangkat kerja. Komuter menghadapi kemacetan, transportasi publik tersendat, dan risiko kecelakaan meningkat.
Di titik inilah perdebatan fleksibilitas kerja muncul lagi, terutama soal WFH saat cuaca ekstrem. Smith menyebut adanya jurang antara kemajuan teknologi kerja jarak jauh dan kebiasaan kantor yang masih “regresif”.
Kalimatnya yang paling menggigit berbunyi, “What’s the sense of a ‘Digital India’ when your employer is still regressive about ‘Work from home’.” Ia juga menulis caption yang menohok, menanyakan apakah sebagian perusahaan masih hidup di “Stone Age”.
Respons warganet menguatkan narasi itu, karena banyak yang merasa pengalaman serupa terjadi setiap musim hujan. Salah satu komentar menyindir, manajer seharusnya “berdiri dua jam di hujan” agar paham penderitaan komuter.
Secara teknis, pandemi COVID-19 sudah membuktikan banyak fungsi kantor bisa berjalan dari rumah, terutama kerja berbasis komputer. Banyak perusahaan global mempertahankan model hybrid, karena produktivitas bisa dijaga sekaligus mengurangi biaya ruang kantor.
Namun di banyak organisasi, kehadiran fisik masih diperlakukan sebagai ukuran disiplin dan loyalitas. Pola ini melahirkan “presenteeism”, yaitu budaya terlihat bekerja, meski tidak selalu efektif.
Dalam konteks hujan deras, biaya yang ditanggung pekerja tidak hanya waktu, tetapi juga keselamatan. Perjalanan yang berbahaya adalah bentuk “biaya tersembunyi” yang sering tidak masuk perhitungan HR, padahal dampaknya nyata.
Di sisi lain, perusahaan sering beralasan soal koordinasi, keamanan data, atau layanan pelanggan yang perlu on-site. Argumen ini valid untuk sebagian sektor, tetapi menjadi lemah jika diterapkan pukul rata pada pekerjaan yang bisa remote.
India sendiri memiliki narasi “Digital India” yang kuat, dan adopsi layanan digital tumbuh cepat dalam satu dekade terakhir. Tetapi video Smith menunjukkan paradoks, karena digitalisasi layanan publik dan bisnis tidak otomatis mengubah relasi kuasa di kantor.
Jika hujan ekstrem dianggap “normal tahunan”, maka kebijakan WFH darurat semestinya juga menjadi prosedur standar, bukan belas kasihan. Ketika kebijakan tidak tertulis, keputusan jatuh pada manajer, dan standar menjadi tidak konsisten.
Perdebatan ini juga menyentuh isu empati di tempat kerja, sebagaimana komentar warganet yang menyinggung “tidak ada compassion jika seseorang sakit.” Saat cuaca buruk saja tidak memicu kelonggaran, pekerja membaca pesan yang lebih besar: kesejahteraan bukan prioritas.
Dari sudut pandang produktivitas, memaksa karyawan datang dalam kondisi stres dan basah justru kontraproduktif. Risiko sakit meningkat, energi habis di perjalanan, dan jam kerja efektif bisa turun tanpa disadari.
Yang sering luput adalah dampak reputasi perusahaan sebagai employer. Di era media sosial, satu video bisa menjadi audit publik atas kebijakan internal, dan perusahaan tampak ketinggalan zaman di mata talenta muda.
Video Smith bukan sekadar keluhan soal hujan, melainkan gugatan atas cara kerja yang masih bertumpu pada kontrol, bukan hasil. Ia menampar ide bahwa modernitas diukur dari aplikasi dan jaringan internet, padahal budaya organisasi bisa tetap feodal.
WFH saat hujan deras seharusnya dilihat sebagai protokol keselamatan kerja, bukan fasilitas mewah. Jika perusahaan punya SOP kebakaran, mengapa tidak punya SOP cuaca ekstrem yang jelas dan terukur.
Masalah inti ada pada keengganan menggeser metrik dari “hadir” menjadi “tuntas”. Banyak manajer merasa kehilangan kendali ketika tim tidak terlihat, dan ketakutan itu sering disamarkan sebagai alasan disiplin.
Padahal, teknologi yang sama yang dipuji dalam “Digital India” menyediakan alat ukur kinerja yang lebih objektif. Target, deliverables, dan rapat daring bisa menjadi standar, asalkan kepemimpinan mau belajar dan percaya.
Kritik Smith juga menyingkap ketimpangan, karena tidak semua orang punya akses transportasi aman atau tempat tinggal dekat kantor. Ketika hujan menggila, pekerja bergaji lebih rendah biasanya menanggung risiko lebih besar, sementara keputusan tetap dibuat dari ruang rapat yang kering.
Jika perusahaan ingin disebut modern, modernitas itu harus terasa pada hari paling sulit, bukan pada hari paling nyaman. Fleksibilitas adalah ujian kepemimpinan, karena ia menuntut keberanian mengubah kebiasaan lama.
Hujan deras di India memunculkan pertanyaan sederhana yang disampaikan Smith: untuk apa teknologi kerja jarak jauh jika manusia tetap dipaksa menempuh perjalanan berbahaya. Perdebatan work from home (WFH) akhirnya kembali ke inti, yaitu keselamatan, martabat, dan akal sehat.
Perusahaan tidak harus selalu WFH, tetapi harus punya kebijakan darurat yang adil, transparan, dan konsisten. Jika “Digital India” ingin bermakna, ia harus hadir dalam keputusan manajerial yang melindungi pekerja, bukan sekadar dalam slogan.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan bukan seberapa cepat internet kantor, melainkan seberapa manusiawi cara kerja saat cuaca dan hidup tidak bersahabat. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kantor ingin menjadi ruang yang memaksa, atau ruang yang memahami.
(Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)