Kampanye Healthy Relationship USM di SDN Peterongan Semarang
ORBITINDONESIA.COM – Kampanye healthy relationship yang digelar mahasiswa Ilmu Komunikasi USM di SDN Peterongan Semarang memindahkan isu relasi sehat dari ruang seminar ke bangku sekolah dasar. Di kelas-kelas yang biasanya diisi matematika dan bahasa, anak-anak diajak mengenali batasan diri, cara menghormati teman, dan tanda-tanda perilaku yang tidak sehat.
Relasi tidak sehat sering dianggap masalah remaja, padahal benihnya tumbuh dari kebiasaan kecil sejak usia dini. Ejekan, pengucilan, dan tekanan teman sebaya adalah bentuk relasi timpang yang kerap dinormalisasi sebagai “candaan”.
Di sekolah dasar, anak sedang belajar mengelola emosi dan membaca isyarat sosial. Jika sekolah hanya menekankan prestasi akademik tanpa literasi relasi, ruang aman mudah berubah menjadi ruang kompetisi yang dingin.
Di titik inilah kampanye mahasiswa Ilmu Komunikasi USM menjadi relevan. Ia menawarkan bahasa sederhana untuk konsep besar: saling menghargai, berani berkata tidak, dan meminta bantuan ketika merasa tidak nyaman.
Data KPAI dalam beberapa tahun terakhir berulang kali menempatkan kekerasan dan perundungan di satuan pendidikan sebagai laporan yang menonjol. Temuan-temuan itu menunjukkan bahwa pencegahan lebih efektif ketika dilakukan sebelum pola perilaku mengeras menjadi karakter.
Kampanye healthy relationship di SDN Peterongan Semarang bekerja pada level paling dasar: kosakata emosi dan etika pergaulan. Anak yang mampu menyebut “aku takut”, “aku tidak suka”, atau “tolong berhenti” memiliki peluang lebih besar untuk melindungi diri.
Dalam perspektif komunikasi, intervensi seperti ini bukan sekadar penyuluhan, melainkan rekayasa pesan yang menyesuaikan tahap perkembangan audiens. Materi yang dibuat ringan, interaktif, dan dekat dengan pengalaman harian anak biasanya lebih melekat dibanding ceramah normatif.
Namun, program satu kali kunjungan punya batas. Tanpa penguatan dari guru dan orang tua, pesan mudah menguap setelah euforia kegiatan berlalu.
Karena itu, nilai penting kampanye ini justru terletak pada jejak lanjutan yang bisa dibangun sekolah. Modul sederhana, poster kelas, atau rutinitas “cek emosi” mingguan dapat mengubah kampanye menjadi kebiasaan institusional.
Keberhasilan mahasiswa Ilmu Komunikasi USM menggelar kampanye ini patut diapresiasi, tetapi juga perlu dibaca kritis. Kampanye sosial sering terjebak pada dokumentasi dan seremonial, sementara perubahan perilaku membutuhkan repetisi dan sistem.
Jika sekolah menerima program ini sebagai agenda tahunan tanpa evaluasi, ia hanya menjadi kegiatan tambahan. Tetapi jika sekolah menjadikannya bagian dari budaya kelas, kampanye berubah menjadi perangkat pencegahan yang nyata.
Di sisi lain, pendekatan “relasi sehat” menuntut keberanian untuk membicarakan kuasa dan batasan secara jujur. Anak perlu tahu bahwa memaksa, mengancam, atau mempermalukan bukan sekadar nakal, melainkan perilaku yang harus dihentikan.
Kita juga harus mengakui bahwa relasi tidak sehat kadang dipelajari dari orang dewasa. Ketika anak melihat kekerasan verbal dinormalisasi di rumah atau di ruang publik, pesan sekolah akan berhadapan dengan teladan yang bertentangan.
Maka kampanye paling kuat adalah yang mengajak ekosistem, bukan hanya siswa. Guru, orang tua, dan lingkungan sekitar perlu berbagi bahasa yang sama tentang hormat, empati, dan konsekuensi.
Kampanye healthy relationship di SDN Peterongan Semarang menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak harus abstrak. Ia bisa dimulai dari kalimat sederhana: “Aku menghargai kamu, dan aku juga menjaga diriku.”
Pertanyaannya, apakah kita siap merawat pesan itu setelah acara selesai. Sebab relasi sehat bukan proyek satu hari, melainkan kebiasaan yang dibangun pelan-pelan, lalu diuji setiap hari di sekolah dan di rumah. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)