Open Submission Gelar Zine Asu Panting: Mitos Bugis Jadi Pengetahuan
ORBITINDONESIA.COM – Open Submission Gelar Zine Asu Panting dari Rumah Buku SaESA kembali dibuka, dan ia mengangkat mitos Bugis yang lama hidup sebagai ketakutan. Asu Panting, sosok gaib mirip anjing buas dalam cerita rakyat Sulawesi Selatan, kini ditantang untuk dibaca ulang lewat tulisan dan perdebatan.
Setelah tema Parakang memicu banyak percakapan, permintaan publik membuat SaESA membuka lagi ruang pengiriman karya. Ada kegelisahan yang belum sempat ditulis, dan ada ketakutan yang selama ini diterima sebagai warisan tanpa pemeriksaan.
Asu Panting dikenal luas dalam tuturan Bugis, namun tidak pernah benar-benar diperlakukan sebagai pengetahuan yang bisa diuji. Ia lebih sering hadir sebagai “pustaka lisan” yang dipercaya karena diulang, bukan karena dibuktikan.
Di sinilah persoalannya menjadi sosial, bukan sekadar mistis. Ketika cerita dipakai untuk mengatur perilaku—membuat anak cepat pulang, membatasi ruang jelajah, atau menertibkan malam—maka mitos bekerja seperti kebijakan tak tertulis.
SaESA membuka Open Submission Gelar Zine tema Asu Panting pada 12–20 Juni 2026, dan menerima esai, cerpen, puisi, biografi, poster, lirik, hingga catatan personal. Bahkan mimpi pun diberi tempat, seolah menegaskan bahwa arsip ketakutan tidak hanya ada di kampung, tetapi juga di kepala.
Pilihan format zine penting karena ia murah, cepat, dan mudah beredar dari tangan ke tangan. Dalam sejarah budaya cetak alternatif, zine sering dipakai komunitas untuk merekam suara yang tidak masuk arus utama, dari musik independen sampai isu kota.
Di Indonesia, tradisi tutur memang kuat, tetapi ia rapuh ketika tidak didokumentasikan. UNESCO berkali-kali menekankan bahwa warisan budaya takbenda perlu dijaga melalui transmisi antargenerasi dan pencatatan, agar tidak hilang atau berubah menjadi sekadar sensasi.
Namun pencatatan saja tidak cukup jika hanya mengawetkan rasa takut. SaESA menekankan arah yang berbeda, lewat pernyataan pengelola: “Cukup kita hargai cerita di setiap daerah, tetapi bukan untuk ditakuti.”
Kalimat itu menggeser fungsi mitos dari alat disiplin menjadi objek dialog. Ia mengundang publik bertanya: mengapa cerita muncul, siapa yang menyebarkannya, dan nilai apa yang sebenarnya sedang dijaga.
Secara sosiologis, mitos kerap menjadi bahasa simbol untuk menjelaskan hal yang belum punya penjelasan ilmiah. Ketika malam gelap, hutan lebat, dan risiko nyata tinggi, masyarakat menciptakan figur penjaga batas agar orang tidak sembarang melangkah.
Masalahnya muncul saat simbol tidak lagi dibaca sebagai simbol. Ketika mitos dianggap fakta harfiah, ruang kritis mengecil, dan ketakutan bisa dipakai untuk membungkam pertanyaan.
Di titik ini, zine berfungsi seperti laboratorium publik. Ia memungkinkan cerita diuji lewat banyak sudut pandang, dari pengalaman keluarga, sejarah kampung, sampai tafsir psikologi tentang rasa takut.
Tema Asu Panting terasa tajam karena ia menolak dua ekstrem yang sama-sama malas: membenarkan semua cerita, atau menertawakan semua yang percaya. SaESA memilih posisi yang lebih sulit, yakni menghormati tradisi sambil mengembalikan hak publik untuk memeriksa.
Di banyak komunitas, ketakutan diwariskan lebih cepat daripada penjelasan. Anak-anak sering diajari “jangan” sebelum diajari “mengapa,” padahal pengetahuan lahir dari keberanian untuk bertanya.
Karena itu, Asu Panting dapat dibaca sebagai cermin, bukan sekadar makhluk. Ia memantulkan cara masyarakat membangun batas aman, menyimpan trauma kolektif, dan merawat ingatan lewat cerita yang terus diulang.
Jika Parakang kemarin membuka percakapan, Asu Panting hari ini menguji kedewasaan kita dalam berdialog. Pertanyaannya bukan “makhluk itu ada atau tidak,” melainkan “ketakutan apa yang sedang kita pelihara, dan untuk kepentingan siapa.”
Di era banjir informasi, ironi terbesar adalah kita mudah takut pada cerita, tetapi sulit takut pada ketidaktahuan. Padahal ketidaktahuan itulah yang membuat orang gampang dituntun oleh bisikan, hoaks, atau otoritas tanpa argumen.
Open Submission Gelar Zine Asu Panting mengubah budaya tutur menjadi ruang literasi, dan mengubah bisikan menjadi teks yang bisa diuji. Ia menawarkan jalan tengah: menjaga cerita lokal tanpa menjadikannya alat teror.
Ketika ketakutan ditulis, ia tidak otomatis hilang, tetapi ia menjadi bisa dibaca. Dan ketika sesuatu bisa dibaca, ia bisa dipahami, diperdebatkan, lalu ditempatkan secara lebih adil dalam hidup kita.
Mungkin yang paling penting bukan menemukan Asu Panting di luar sana. Yang lebih mendesak adalah menemukan keberanian untuk bertanya, sebelum ketakutan kembali diwariskan sebagai kebenaran. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)