Pelestarian Rumah Adat Nias Selatan dan UNESCO Bawomataluo

ORBITINDONESIA.COM – Pelestarian rumah adat Nias Selatan kembali ditegaskan pemerintah, bersamaan dengan dorongan agar Desa Adat Bawomataluo diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut kekayaan budaya seperti Omo Sebua, Omo Hada, dan tradisi lompat batu bukan sekadar kebanggaan lokal, tetapi aset Indonesia.

Nias Selatan menyimpan warisan budaya yang masih hidup, dari seni pertunjukan hingga pengetahuan tradisional yang diturunkan lintas generasi. Namun, rumah adat kayu dan lanskap megalitik menghadapi tekanan usia bangunan, perubahan pola hidup, dan keterbatasan biaya perawatan.

Pernyataan Fadli disampaikan saat peringatan HUT ke-23 Kabupaten Nias Selatan di Lapangan Orurusa, Teluk Dalam, Selasa (28/7). Dalam konteks ini, pelestarian tidak lagi cukup sebagai seremoni, melainkan harus menjadi program yang terukur.

Upaya mendorong Bawomataluo menjadi Warisan Dunia UNESCO juga menuntut konsistensi tata kelola. UNESCO biasanya menilai bukan hanya keunikan, tetapi juga sistem perlindungan, rencana pengelolaan, dan keterlibatan komunitas.

Fadli menegaskan pemerintah akan mendorong pelestarian dan revitalisasi rumah adat di Nias Selatan. Ia mengatakan Kementerian Kebudayaan akan bekerja bersama pemerintah daerah dan masyarakat untuk merawat rumah adat yang masih bertahan.

Revitalisasi terdengar menjanjikan, tetapi menyimpan dilema jika hanya berorientasi fisik. Restorasi yang salah dapat mengubah teknik sambungan, material, dan tata ruang, sehingga rumah adat berubah menjadi replika wisata.

Di banyak situs budaya, keberhasilan pelestarian ditentukan oleh tata kelola dan insentif ekonomi, bukan sekadar proyek konstruksi. Karena itu, ruang kerja bagi seniman, komunitas adat, dan pelaku budaya yang dijanjikan pemerintah harus diwujudkan menjadi program rutin, bukan event musiman.

Fadli menilai budaya Nias Selatan berpotensi memperkuat pariwisata berbasis budaya. Tradisi lompat batu, tari, dan pertunjukan dapat menarik wisatawan, sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi warga.

Namun pariwisata berbasis budaya juga dapat memicu komodifikasi jika tidak ada batas. Ketika jadwal pertunjukan ditentukan selera pasar, makna ritus bisa terkikis dan komunitas hanya menjadi “pemain” di rumahnya sendiri.

Karena itu, pesan Fadli bahwa pelestarian tidak bisa dipaksakan hanya oleh pemerintah patut digarisbawahi. Keterlibatan pusat, daerah, komunitas, swasta, dan publik perlu disusun dalam pembagian peran yang jelas, termasuk standar konservasi dan mekanisme pembiayaan.

Dalam konteks UNESCO, “pengakuan” bukan garis finis, melainkan awal dari kewajiban panjang. Jika Bawomataluo masuk daftar, pengelolaan pengunjung, zonasi, dan perlindungan lanskap akan semakin ketat dan menuntut kapasitas lokal.

Komitmen pelestarian rumah adat Nias Selatan akan diuji pada hal yang paling sederhana, yakni konsistensi anggaran dan keberanian menetapkan prioritas. Tanpa skema pendanaan yang berkelanjutan, revitalisasi berisiko menjadi proyek satu kali yang berhenti setelah papan nama dipasang.

Pemerintah juga perlu memastikan pelestarian tidak memindahkan kendali dari warga ke birokrasi. Rumah adat dan tradisi bukan hanya objek, melainkan sistem nilai, sehingga komunitas adat harus menjadi pengambil keputusan utama.

Di sisi lain, pemerintah daerah perlu menata pariwisata agar tidak merusak sumber daya yang dijualnya. Strategi yang masuk akal adalah membatasi kapasitas kunjungan, memperkuat pemandu lokal, serta memastikan manfaat ekonomi kembali ke pemilik tradisi.

HUT ke-23 Nias Selatan menjadi panggung janji, tetapi publik membutuhkan peta jalan yang bisa diukur, dari perawatan Omo Sebua dan Omo Hada hingga penguatan ekosistem seniman. Jika Bawomataluo benar-benar menuju UNESCO, maka disiplin pengelolaan harus dimulai sebelum status itu datang.

Pada akhirnya, pelestarian bukan soal menyelamatkan bangunan tua, melainkan menjaga cara hidup agar tetap bermartabat di tengah perubahan. Pertanyaannya sederhana, apakah kita ingin budaya Nias Selatan hidup sebagai napas komunitas, atau sekadar menjadi latar foto wisata? (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)