Cerpen Agus Bachtiar K: Ain

Ilustrasi Valerina Renata Kusumo.

Ilustrasi Valerina Renata Kusumo.

Puisi

Oleh Agus Bachtiar K

ORBITINDONESIA.COM - "Pergi kau! Aku tak butuh laki-laki pengkhianat sepertimu lagi!" teriak Rika kalap sambil melemparkan koper hitam ke jalan kompleks perumahan.

"Sekian lama aku mengalah! Aku kerja demi anak-anak! Aku perempuan, yang seharusnya kau nafkahi dan fokus mengurus anak, tapi kurela bekerja keras demi anak. Kamu? Nol besar! Gaji honorermu tidak cukup untuk makan dua hari. Tega-teganya kamu main gila selama ini sama perempuan itu! Pergi! Biar aku saja yang merawat anak-anak. Najis kau! Minggat!" umpat Rika, tak bisa menahan puncak emosinya.

Sementara itu, Prasetyo hanya menunduk pasrah tak berkutik. Wajahnya kusut dan tak mampu melakukan perlawanan apa pun. Chat mesra terakhirku rupanya terbaca oleh istrinya, Rika.

Aku menyaksikan drama itu dengan perasaan menang dari balik kaca mobilku yang berwarna gelap. Kaca kanan depan kuturunkan tiga senti saja. Itu sudah cukup untuk merekam dialog dalam peperangan konyol itu. Setelah dirasa puas, aku injak pedal gas dan pergi tanpa melihat ke belakang, meninggalkan Prasetyo yang dihujani caci maki tak berkesudahan. Aku senang.

Namaku Valerina Renata Kusumo. Mereka memanggilku Valen. Orang-orang mengenalku karena kecantikan, keanggunan, serta kepiawaianku mengolah kata. Banyak laki-laki yang telah tunduk masuk ke dalam jebakanku.

Aku berprinsip, jika sudah menjadi target, laki-laki itu harus bisa kutekuk lututnya. Mereka akan menyerah cukup dengan melihat dan mendengar rayuanku.

Sudah empat laki-laki beristri yang berhasil aku obrak-abrik rumah tangganya: Sunu, Anto, Iwan, dan terakhir Prasetyo. Aku merasa sangat puas saat melihat mereka hancur. Bahkan, kepuasannya melebihi semua puncak kenikmatan yang pernah kualami bersama laki-laki yang pernah kutaklukkan.

Sejak kecil aku selalu menjadi saksi drama huru-hara di rumah. Ayahku terang-terangan mempertontonkan perselingkuhannya di depan mataku dan Ibu. Aku juga kerap melihat ibuku teraniaya lahir dan batin oleh perilaku ayah. Perempuan-perempuan yang Ayah pamerkan pada kami tampak sangat bahagia. Ibuku berontak, tapi Ayahku sudah tak menggunakan otak.

Sejak saat itulah aku meyakini, menghancurkan rumah tangga orang adalah prestasi dalam hidup. Rumah tangga orang harus hancur, seperti rumah tangga orang tuaku.

Oh, ya. Satu lagi keunikanku. Setiap dua tahun sekali, aku merasa setiap laki-laki yang kugoda sudah masuk masa kedaluwarsa. Seperti siklus yang senantiasa harus kuturuti. Mungkin ini kelainan, tapi itulah yang aku rasakan. Dan aku menikmatinya.

Hari ini, tepat dua tahun hubungan bawah tanahku dengan Prasetyo. Aku bosan dan ingin menikmati suasana baru dengan yang lain. Dengan laki-laki lain lagi. Jahatkah aku? Aku tak peduli.

Aku bekerja di sebuah perusahaan multinasional. Pekerjaanku menuntut kemahiran dalam berkomunikasi, bernegosiasi, dan memutuskan kebijakan. Maka tak usah heran, merayu, berpura-pura, dan memanipulasi keadaan adalah keterampilanku. Berbekal ijazahku di jurusan Hubungan Internasional, kukira itu cukup untuk menunjukkan sejauh mana kecerdasanku.

Hari ini, ada acara serah terima jabatan Direktur Operasional. Namanya Rayhan Pradana. Panggilan akrabnya Ray. Kebetulan ruang kerjanya tepat berada di sebelah ruang kerjaku. Kharismanya membuat naluri penggodaku menggeliat. Selain tampan, dia terlihat alim, agamis, dan berprinsip kuat.

Ah... omong kosong, semua laki-laki sama, pikirku dalam hati. Sebenarnya aku muak dengan hal semacam itu, tapi jujur saja aku merasa lebih terobsesi.

Setelah seminggu sering bertemu dan berdiskusi, tiba saatnya aku beraksi.

Jam delapan malam itu, aku sengaja tidak pulang. Semua staf dan karyawan sudah pulang satu jam yang lalu. Dari balik pintu kaca, kulihat Ray sedang sibuk lembur menyelesaikan pekerjaannya. Matanya tajam menatap monitor laptop penuh konsentrasi.

Akting aku mulai. Aku masuk pelan ke ruangannya sambil memegang perut dan meringis kesakitan. Air mata mengalir di pipi seolah tak sanggup lagi walau hanya untuk sekadar berdiri tegak.

"Pak, tolong..." suara rintihanku mengagetkan Ray.

"Bu Valen? Belum pulang? Ibu kenapa?" tanyanya panik.

Aku terduduk merosot di kursi dan membungkuk di depan meja Ray, dengan kancing baju yang sudah kubuka bagian paling atasnya beberapa saat lalu. Semoga ini trik jitu, pikirku.

"Asam lambung saya naik, sakit... sekali, Pak," aktingku berlanjut.

Ray sigap berdiri, berjalan memutari mejanya, dan menuju ke arahku. Secepat mungkin kuraih tangannya. Tangan yang hangat itu kuletakkan di ulu hatiku.

Ray tampak panik dan kebingungan. Jangankan menyentuh tubuh lawan jenis, bersalaman pun ia tak mau.

"Maaf ya, Pak, jadi merepotkan..." rintihku seakan kesakitan.

"Ya Bu, ayo kita ke rumah makan, biar lambung Bu Valen tidak kosong. Mari saya antar."

"Yes... kena!" teriakku dalam hati.

"Bu Valen kuat berjalan ke basement?" tanya Ray dengan sisa kepanikannya.

"Saya coba ya, Pak..." ujarku dengan nada yang melemah sambil pura-pura susah payah berdiri.

Tangan hangat Ray itu masih memegangi perut dan bahuku. Saat beberapa langkah berjalan, aku menjatuhkan tubuhku ke dadanya. Ray tampak kikuk dan kembali panik. Namun tak disangka, ia segera merangkul tubuhku dan membantuku untuk berjalan menuju pintu lift lantai 4.

Lagi-lagi aku merasa menang. Di dalam lift, aku pura-pura tak sadarkan diri di pelukannya.

Setelah sampai ke basement, tubuhku diangkatnya, dan beberapa security membantu membukakan pintu mobil Ray. Setelah duduk di kursi depan, aku membuka mataku seakan siuman dari pingsan.

"Bu, saya antar ke rumah sakit ya?" Setengah berbisik, ia menawarkan jasa.

"Tidak usah, Pak..." volume suaraku kuatur selemah mungkin agar tampak natural.

"Oh, oke. Kita ke warung sop seberang jalan itu saja, lambung Bu Valen harus segera diisi," kata Ray sambil mulai melaju menuju warung sop buntut Pak Man.

Hujan deras saat itu, dan kebetulan suasana sepi. Mungkin karena cuaca yang basah, sehingga orang enggan keluar rumah. Di warung itulah aku dan Ray duduk berdua ditemani temaram lampu kuning. Dadaku berdesir, ini tantangan baru bagiku.

Setelah minum dan makan sedikit sop buntut, drama segera kulanjutkan. Air mataku deras mengalir, aku menangis terisak-isak. Melihatku seperti itu, Ray tampak iba.

"Sebaiknya Bu Valen saya antar saja ke dokter ya, wajahnya masih pucat sekali lho," kata Ray penuh perhatian.

"Tidak usah, Pak, di sini aja cukup. Terima kasih sudah menolong saya," kataku sambil meraih telapak tangannya yang hangat.

Dia tampak gugup sesaat. Dan anehnya... ia tak berusaha melepaskan genggaman tanganku.

"Mesin perangkap sudah aktif bekerja," kataku dalam hati. Dari tangannya, aku bisa merasakan degup jantung Ray bekerja lebih cepat dari biasanya.

Saatnya memulai langkah selanjutnya.

Malam itu, masih di bawah temaram lampu dan rintik hujan, kukisahkan cerita fiktifku untuk membuat Ray makin terjebak dalam rasa simpati. Kuceritakan tentang diriku yang sakit hati karena dikhianati tunangan, hingga akhirnya aku stres dan menderita sakit lambung yang sangat parah. Kuceritakan juga perihal keluarga yang tak pernah damai sejak aku masih kecil, sebagai bumbu penyedap rayu.

Jurus selanjutnya, kukatakan, "Aku sangat mendambakan laki-laki yang setia, sopan, dan alim seperti Pak Ray."

Kulihat Ray terhenyak. Mungkin dalam ruang hatinya terjadi pertempuran sengit antara iba dan prinsip. Kuharap empati bisa berubah jadi simpati. Tapi malam ini, setidaknya aku merasa menang telak. Laki-laki alim itu tak berkutik di depanku. Aku pemain lama. Kembali aku tersenyum puas.

Beberapa minggu setelah peristiwa rekayasaku itu, perusahaan mengagendakan acara family gathering akhir pekan di sebuah resort. Nah... inilah momen yang kunantikan. Aku ingin melihat wanita secantik apa yang telah berhasil menaklukkan hati Ray yang tampan dan alim ini. Aku yakin, perempuan mana pun  akan gemetar melihat pesonaku.

Di lobi hotel itu, aku duduk sendiri memainkan gawai. Hari itu kusajikan tampilan terbaikku agar Ray dan semua orang makin terpana.

Dari arah pintu masuk hotel, kulihat sosok yang tak asing lagi: Ray. Ia berjalan tegap namun santai sambil menggandeng wanita berpakaian syar'i, di belakangnya seorang anak perempuan usia lima tahunan membuntuti dengan wajah riang.

Melihat pemandangan itu, aku merasa enek. Tapi aku harus profesional. Bukan Valen namanya kalau tak bisa menjaga totalitas berakting.

"Pagi Pak Ray, Bu, adik, apa kabar?" sapaku dengan ramah dan elegan sambil memasang senyum teranggunku.

"Oh Bu Valen, pagi," jawab Ray sedikit canggung.

Mata kami beradu, tatapan Ray menyembunyikan misteri yang dalam.

"Oh iya, perkenalkan, ini istri saya, Amira," ujar Ray memecah kebekuan.

"Halo Bu Amira, saya Valen, teman sekantor Pak Ray," dengan percaya diri kuperkenalkan siapa aku.

"Halo Bu Valen, iya, suami saya pernah cerita tentang Anda. Ternyata Bu Valen cantik sekali," kata Amira menjabat tanganku sangat erat dan memandangku tanpa berkedip. Mata Amira yang jernih itu sanggup menelanjangi isi kepalaku. Aku merasa sangat tidak nyaman.

"Terima kasih Bu Amira. Pak Ray juga pernah cerita tentang istrinya yang baik hati dan saleha. Senang sekali akhirnya saya bisa ketemu juga," sebenarnya aku benci dengan kata-kataku sendiri.

Acara akhir pekan itu menjadi masa yang sangat lama sekaligus membosankan bagiku. Aku hanya bisa sesekali mencuri pandang pada Ray yang tampak mesra bersama keluarganya.

Tapi mata jeliku ini bisa mendeteksi, Ray juga sesekali mencuri pandang padaku di sela-sela kemesraannya. Perangkapku masih membekas di kepalanya.

Saat acara usai, kembali aku bertemu dengan Amira. Di parkiran hotel itu, menjelang pulang, Amira menghampiriku dengan penuh semangat.

"Bu Valen, saya doakan semoga Allah segera mempertemukan Anda dengan imam yang tepat," kata Amira memotivasi.

"Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 26, '... dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik.'" imbuhnya lagi.

Mendengarnya, entah mengapa saat itu aku merasa dikuliti hidup-hidup di hadapan Amira. Hatiku bergejolak panas, tapi aku memaksakan senyum tipis lalu masuk ke mobil dan tancap gas secepat mungkin meninggalkan arena “pengadilan” itu.

Satu bulan setelah acara gathering itu, obsesiku pada Ray mendadak sirna. Bukan karena aku menyerah kalah, melainkan karena sesuatu yang mengerikan datang menghinggapi hidupku.

Awalnya hanya bintik merah biasa di sekitar wajah, kuanggap ini sejenis jerawat biasa. Namun dalam hitungan hari, bintik-bintik merah bernanah mulai menyebar di seluruh wajah, bahkan menjalar ke seluruh tubuh yang selama ini menjadi modal sekaligus kebanggaanku.

Seminggu setelahnya, aroma busuk yang samar perlahan keluar dari balik pori-pori kulitku. Baunya kian hari makin menyengat. Kulitku mengelupas, menyisakan luka basah kehitaman yang amat menjijikkan. Kecantikan yang menjadi senjata utamaku untuk menekuk lutut para pria, kini sirna tak bersisa.

Aku sudah berusaha mendatangi puluhan dokter spesialis kulit ternama di kota itu. Namun, semua nihil. Hasil pemeriksaan laboratorium, cek darah, hingga biopsi menyatakan sel tubuhku sehat secara medis. Dokter-dokter pun memeras otak, geleng kepala, bingung mendiagnosis penyakit apa yang sedang menggerogoti tubuhku ini. Mereka hanya bisa meresepkan salep-salep dan obat yang sama sekali tidak ada gunanya.

Sekarang, aku terkurung murung di kamar gelap. Setiap kali aku berkaca, aku menjerit histeris melihat bayangan monster yang ada di dalam cermin. Siapa pun yang melihatku, pasti akan memalingkan muka karena ngeri dan jijik. Jangankan orang lain, aku sendiri jijik dengan rupa dan aroma tubuhku saat ini.

Dalam kubangan rasa sakit yang membakar kulit dan batin ini, bayangan wajah Amira tiba-tiba singgah di pikiranku. Aku teringat sorot matanya yang jernih dan tajam di lobi hotel, tatapan suci yang seolah menelanjangi seluruh skenario busukku pada suaminya. Aku juga teringat ratapan caci maki Rika serta istri-istri dari pria yang rumah tangganya pernah kuhancurkan demi nafsu kejiku.

Seketika, dadaku sesak menahan sesal yang sangat terlambat. Penyakit ini tidak butuh diagnosis dokter. Ini adalah “ain”. Pandangan mata yang dipenuhi kebencian, hasad, dan luka hati dari wanita-wanita yang terzalimi, kini berbalik dan mewujud menjadi kutukan tak kasat mata di tubuhku. Tuhan telah menyelamatkan Ray dan pria-pria lainnya, dan kini, aku benar-benar menuai petaka yang pernah kutabur.

Toboali, 16 Juni 2026

 Agus Bachtiar K. adalah seorang pendidik Seni Budaya yang meramu gagasan dan imajinasinya melalui nama pena Sang Peramu Aksara. Bermukim di Toboali, Bangka Selatan, pria berdarah Yogyakarta ini mendedikasikan langkahnya untuk mengukir karya, sekaligus mengabdi demi kemajuan dunia pendidikan dan literasi di Bangka Selatan. ***