Tren ETF RIA 2026: Energi, Komoditas, dan ETF Aktif Naik

ORBITINDONESIA.COM – Tren ETF RIA pada kuartal I 2026 bergerak ke arah yang lebih spesifik: penasihat investasi terdaftar (RIA) menambah ETF baru tanpa membongkar portofolio lama. Data AdvizorPro dari 13F atas 5.304 RIA menunjukkan rata-rata ETF per firma naik menjadi 89,7, sementara 50,1% RIA menambah dana baru dan hanya 28,9% yang memangkas kepemilikan.

Di permukaan, pasar ETF terlihat matang dan dikuasai raksasa seperti iShares, State Street Investment Management, dan Invesco. Namun laporan AdvizorPro mencatat para penerbit besar itu justru kehilangan pangsa kecil pada kuartal I 2026, ketika penerbit ETF aktif dan strategi spesialis mencuri perhatian.

Perubahan ini terjadi saat investor terus mencari cara bertahan di tengah ketidakpastian suku bunga, geopolitik, serta siklus komoditas yang kembali memanas. Dalam konteks itu, ETF bukan lagi sekadar “alat pasif murah”, melainkan perangkat modular untuk mengisi fungsi tertentu di portofolio.

AdvizorPro menilai RIA kini mencari ETF untuk “peran spesifik”, bukan merombak total daftar dana. Rasio turnover ETF memang naik ke 12,3%, tetapi RIA tetap mempertahankan 90% posisi ETF yang sudah ada, sehingga perubahan lebih mirip penambahan lapisan ketimbang bongkar pasang.

Kunci sinyalnya ada pada ketimpangan antara penambahan dan pengurangan. Rata-rata add rate ETF mencapai 13,7% pada kuartal I 2026, mengungguli drop rate 9,2%, yang oleh peneliti disebut sebagai “surplus adds over drops” yang konsisten.

Arus dana baru paling jelas mengarah ke sektor yang sensitif terhadap inflasi dan geopolitik. Alokasi RIA ke equity energy ETFs naik 14% dengan 265 allocator baru, sementara kategori commodities broad basket naik 13,2% dengan 118 RIA baru, dan natural resources naik 8,4% dengan 145 RIA baru.

Di luar itu, kategori yang ikut tumbuh mencakup real estate, industri pertahanan, dan ekuitas internasional. AdvizorPro juga mencatat kenaikan pada industrials, saham Amerika Latin, serta diversified emerging markets, menandakan pencarian diversifikasi lintas wilayah belum padam.

Fenomena lain yang menonjol adalah naiknya pangsa penerbit ETF aktif dan spesialis. Akre Capital Management melonjak 188,6% dalam jumlah RIA pemegang ETF-nya, sementara Cohen & Steers naik 35,3%, REX Shares 31,6%, dan Cambria 27,0%.

ETF dengan pertumbuhan pangsa RIA tercepat adalah AKRE ETF (large-growth) yang menambah 264 RIA, setara 188,6% qoq. Namun AdvizorPro mengingatkan lonjakan ini bersifat “one-time adoption event” untuk dana yang belum genap setahun, yakni efek permintaan terpendam terhadap manajer aktif kredibel yang baru hadir dalam format ETF.

Gelombang adopsi juga terlihat pada produk berlabel “kompleks” yang menawarkan income atau alokasi moderat. Amplify IDVO menambah 38 RIA (naik 74,5%), VanEck RAAX menambah 49 RIA (naik 74,2%), dan USCF SDCI menambah 32 RIA (naik 62,7%).

Yang mendorong pertumbuhan terutama RIA dengan AUM US$1 miliar sampai US$100 miliar. Ini penting karena segmen tersebut cukup besar untuk menguji strategi baru, tetapi masih lincah untuk mengganti modul portofolio tanpa birokrasi seberat pengelola raksasa.

Di sisi biaya, RIA tampak makin toleran membayar mahal untuk “risk management” dan strategi non-linear. AdvizorPro menemukan minat pada dana berbiaya tinggi (top decile kuartal IV 2025) yang mencakup long-short, market-neutral, hingga hedged income, termasuk CLSE (+69 RIA atau 25,5%), iShares HYGH (+88 RIA atau 10,0%), dan PFFA (+173 RIA atau 9,5%).

Catatan peneliti menarik: tahun sebelumnya pemimpin biaya tinggi didominasi defined outcome dan options-based dari First Trust serta Innovator. Kuartal ini daftar melebar ke long-short equity, credit-hedged income, dan infrastruktur, yang menyiratkan “willingness to pay for complexity” meluas melampaui produk buffered.

Tren ETF RIA 2026 ini bisa dibaca sebagai pergeseran dari “murah dan luas” ke “tepat guna dan terukur”. Ketika energi, komoditas, dan pertahanan naik daun, RIA tampaknya tidak sekadar mengejar tema populer, tetapi membangun proteksi skenario terhadap inflasi, konflik, dan gangguan rantai pasok.

Namun ada risiko yang mengintai: spesialisasi sering datang bersama narasi pemasaran yang menggoda. ETF baru yang meledak di kalangan RIA bisa saja mencerminkan kualitas strategi, tetapi juga bisa menandai siklus “FOMO institusional” yang rapi, terutama ketika data adopsi dijadikan legitimasi.

Kesediaan membayar fee tinggi untuk strategi kompleks juga ambivalen. Di satu sisi, ini menunjukkan kedewasaan: RIA mau membayar untuk manajemen risiko yang nyata, bukan sekadar biaya rendah; di sisi lain, kompleksitas dapat menambah risiko pemahaman, risiko likuiditas, dan risiko perilaku saat pasar berbalik.

Menariknya, pangsa raksasa penerbit ETF turun tipis, bukan karena mereka kalah produk inti, melainkan karena portofolio RIA makin “berlapis”. Dalam model ini, ETF beta dari pemain besar tetap menjadi fondasi, sementara ETF aktif dan spesialis menjadi satelit yang menentukan diferensiasi kinerja dan cerita kepada klien.

Jika satu benang merah bisa ditarik dari laporan AdvizorPro, itu adalah cara RIA menambah alat tanpa membuang yang lama. Mereka mempertahankan 90% posisi, tetapi terus menempelkan modul baru untuk energi, komoditas, ekuitas global, dan strategi lindung nilai yang lebih rumit.

Pertanyaannya bukan lagi apakah ETF akan dipakai, melainkan ETF seperti apa yang pantas dipercaya saat volatilitas menjadi norma. Pada akhirnya, disiplin due diligence dan kejelasan tujuan portofolio akan menentukan apakah “ETF spesifik” menjadi tameng yang efektif, atau hanya aksesori mahal di tengah badai pasar.

(Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)