Budaya Kerja Perbankan: Kunci Kinerja, Risiko, dan Retensi Talenta

Business News Nigeria

Business News Nigeria

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja perbankan kembali jadi sorotan setelah Afolabi Olorode, pelaksana tugas Managing Director/CEO Quest Merchant Bank Limited, menegaskan bahwa budaya kantor menentukan daya tahan organisasi. Dalam iklim kompetisi talenta dan tekanan kepatuhan, workplace culture bukan lagi slogan, melainkan infrastruktur tak terlihat yang menggerakkan keputusan dan perilaku.

Di sektor jasa keuangan, budaya kerja sering kalah pamor dibanding target pertumbuhan, inovasi produk, dan ekspansi pasar. Padahal, satu keputusan yang lahir dari kultur yang permisif bisa berujung pada pelanggaran etika, kebocoran risiko, atau krisis reputasi.

Penekanan Olorode mengingatkan bahwa bank hidup dari kepercayaan, dan kepercayaan dibangun dari konsistensi perilaku sehari-hari. Jika nilai perusahaan hanya berhenti di poster dinding, maka “budaya” berubah menjadi dekorasi yang mahal.

Masalahnya, banyak institusi mengukur kinerja secara kuantitatif tetapi mengabaikan indikator sosial seperti psikologis keamanan, kualitas kepemimpinan, dan keadilan internal. Ketika indikator manusia tidak diurus, produktivitas jangka pendek bisa naik, namun ketahanan jangka panjang justru rapuh.

Secara global, diskusi tentang budaya kerja semakin terkait dengan retensi dan produktivitas, terutama setelah gelombang kerja hibrida. Gallup dalam State of the Global Workplace 2023 mencatat hanya 23% pekerja yang “engaged” secara global, dan rendahnya engagement berhubungan dengan turunnya kinerja serta meningkatnya niat resign.

Di perbankan, implikasinya lebih tajam karena budaya juga menjadi “sistem kontrol” informal yang melengkapi regulasi formal. Ketika budaya mendorong transparansi, pelaporan internal, dan keberanian berkata tidak, risiko operasional dan kepatuhan lebih mudah dikelola.

Namun budaya kerja yang toksik sering tampil rapi di permukaan, lalu membusuk di ruang rapat dan jalur promosi. Target agresif tanpa pagar etika dapat menciptakan insentif salah, yaitu mengejar angka sambil menutup mata terhadap proses.

Olorode menempatkan workplace culture sebagai faktor kritis, dan itu sejalan dengan praktik manajemen modern yang menilai “how” sama pentingnya dengan “what”. Budaya yang sehat biasanya ditandai oleh akuntabilitas yang jelas, komunikasi dua arah, dan penghargaan yang konsisten terhadap perilaku yang benar.

Data lain memperkuat urgensi ini dari sisi biaya. Society for Human Resource Management (SHRM) kerap dikutip menyatakan biaya mengganti karyawan dapat mencapai sekitar 6–9 bulan gaji, tergantung peran dan kompleksitas, sehingga turnover akibat budaya buruk adalah kebocoran yang mahal.

Di bank, kebocoran itu tidak hanya berupa biaya rekrutmen, tetapi juga hilangnya pengetahuan tacit, relasi nasabah, dan kontinuitas kontrol. Pada titik tertentu, budaya buruk berubah menjadi risiko strategis karena menggerus kapasitas organisasi untuk belajar dan beradaptasi.

Pernyataan Olorode patut dibaca sebagai kritik halus terhadap kebiasaan industri yang terlalu percaya pada kebijakan tertulis. Kebijakan memang penting, tetapi budaya menentukan apakah kebijakan itu dijalankan atau dinegosiasikan diam-diam.

Budaya kerja perbankan yang kuat tidak identik dengan suasana “selalu nyaman” atau anti-target. Budaya yang kuat justru berani menuntut kinerja tinggi, tetapi menolak cara-cara yang merusak integritas dan martabat manusia.

Di sinilah ketajaman isu muncul: banyak pemimpin ingin budaya hebat, tetapi enggan membayar harga konsistensi. Mereka ingin keterbukaan, namun menghukum pembawa kabar buruk, lalu heran mengapa risiko tidak terdeteksi sejak awal.

Jika Quest Merchant Bank dan institusi lain serius, ukuran budaya harus masuk ke dashboard manajemen. Survei engagement, exit interview yang ditindaklanjuti, dan penilaian perilaku pemimpin perlu diperlakukan seperti metrik risiko, bukan sekadar laporan HR.

Budaya juga bukan proyek tahunan yang dipimpin konsultan lalu selesai dengan workshop. Budaya adalah kebiasaan yang diulang, dan kebiasaan dibentuk oleh siapa yang dipromosikan, apa yang ditoleransi, dan kesalahan apa yang dimaafkan.

Pada akhirnya, budaya kerja perbankan adalah janji yang diuji setiap hari, bukan narasi yang dirayakan saat town hall. Pesan Olorode menegaskan bahwa bank yang ingin bertahan harus merawat manusia dan sistem nilai, bukan hanya neraca.

Pertanyaannya sederhana namun menohok: ketika tekanan target datang, budaya di kantor Anda mendorong kebenaran atau justru membenarkan penyimpangan. Karena di dunia keuangan, yang runtuh lebih dulu sering bukan angka, melainkan kepercayaan.

(Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)