Tren Yoga Pilates dan Gym: Sehat Jadi Gaya Hidup Mahal
ORBITINDONESIA.COM – Tren yoga, pilates, dan gym menjanjikan tubuh sehat, bugar, dan “terkontrol” di kota-kota besar Indonesia. Namun di balik slogan hidup seimbang, olahraga ini makin sering terasa seperti gaya hidup mahal yang menuntut dompet, waktu, dan citra.
Studio yoga, kelas pilates, dan promo membership gym kini hadir seperti etalase gaya hidup urban. Olahraga tidak lagi sekadar aktivitas fisik, tetapi paket pengalaman yang dipasarkan agresif lewat diskon, influencer, dan visual tubuh ideal.
Di tengah ritme kerja yang padat, banyak orang mencari jalan pintas yang terlihat rasional: bayar kelas, ikut jadwal, lalu berharap tubuh dan hidup ikut rapi. Pola ini membuat “sehat” tampak seperti sesuatu yang bisa dibeli, asal konsisten dan disiplin.
Pengalaman itu juga dialami Millen, 26, yang rutin yoga dua sampai tiga kali seminggu. “Mulanya berangkat dari kesadaran kalau badan gue butuh gerak karena sudah enggak fit,” ujarnya, lalu memilih yoga sebagai opsi yang paling cocok.
Pertumbuhan pasar kebugaran terlihat dari jumlah fasilitas yang kian meluas. Pemantauan Piodata mencatat 26.573 studio gym beroperasi di Indonesia per Desember 2025, menandakan industri ini bukan tren kecil yang lewat begitu saja.
Dari sisi konsumen, Rakuten Insight (2020) melaporkan 32 persen penduduk usia 25–34 tahun di Indonesia memiliki keanggotaan gym. Angka ini memberi petunjuk bahwa olahraga berbayar sudah menjadi kebiasaan kelas urban tertentu, bukan sekadar aktivitas musiman.
Masalahnya, biaya menjadi gerbang yang tidak semua orang bisa lewati. Keanggotaan gym bisa Rp3–3,5 juta untuk enam bulan, sedangkan pilates berkisar Rp60 ribu hingga Rp200 ribu per kelas dan dapat menghabiskan Rp1–2 juta per bulan.
Millen mengaku mengeluarkan Rp1–1,5 juta per bulan untuk yoga, belum termasuk kegiatan tambahan yang sering menempel pada kelas. “Jatuhnya kadang sudah bukan olahraga lagi, tapi lifestyle,” katanya, dan kalimat itu merangkum arah industri hari ini.
Riset Makenna Stark berjudul “CTRL: A Critical Examination of the Wellness Industry” (2024) menjelaskan pergeseran wellness menjadi produk konsumsi. Narasinya menempatkan kesehatan sebagai tanggung jawab individual, sehingga faktor struktural seperti waktu luang, akses, dan ketimpangan ekonomi makin jarang dibicarakan.
Di Indonesia, pola itu tampak saat yoga, pilates, dan gym dipromosikan sebagai solusi personal untuk hidup sehat. Konsistensi dijadikan moral, hasil tubuh dijadikan bukti, sementara biaya dan tekanan sosial dianggap detail yang tidak penting.
Media sosial mempercepatnya dengan cara yang halus namun efektif. Kelas olahraga berubah menjadi konten, tubuh menjadi portofolio, dan rutinitas menjadi identitas yang dipamerkan sekaligus dinilai.
Laporan American Psychological Association, “Health Advisory on Social Media Use in Adolescence” (2023), mengaitkan paparan konten tubuh ideal dengan ketidakpuasan tubuh dan kecemasan, terutama pada perempuan. Meski fokusnya remaja, mekanismenya serupa pada perempuan dewasa yang terus melihat standar kebugaran dan estetika secara berulang.
Di titik ini, “sehat” tidak lagi netral, karena ia dibingkai sebagai proyek tanpa garis akhir. Tubuh diperlakukan seperti pekerjaan rumah yang harus terus diperbaiki, dan rasa kurang dipelihara sebagai bahan bakar untuk membeli paket berikutnya.
Perempuan menjadi sasaran utama karena standar tubuhnya selalu diberi syarat tambahan. Pilates mempromosikan tubuh ramping dan terkontrol, sementara gym mengizinkan perempuan kuat asal tetap lean dan “proporsional” sesuai estetika feminin.
Hariati Sinaga, Dosen Kajian Gender Universitas Indonesia, menilai persoalan ini bukan sekadar kegagalan individu mengelola diri. “Ada faktor kecantikan yang sering dianggap dikonsumsi khusus oleh perempuan, ini mengarah pada objektifikasi, dengan mitos tubuh ideal tertentu yang harus dicapai,” ujarnya kepada Magdalene.
Namun kritik ini tidak berarti olahraga harus ditolak. Yoga, pilates, dan gym tetap bisa menjadi ruang merawat diri, tetapi risikonya muncul ketika kesehatan dipersempit menjadi performa, angka, dan penampilan.
Logika pasar membuat standar itu terasa wajar dan bahkan menyenangkan. Kita diajak percaya bahwa disiplin adalah kebajikan tertinggi, padahal sering kali yang terjadi adalah normalisasi tekanan dan pengabaian konteks hidup yang tidak setara.
Tren yoga, pilates, dan gym menunjukkan satu hal: masyarakat urban makin sadar pentingnya bergerak, tetapi kesadaran itu ditangkap pasar sebagai peluang tanpa henti. Saat sehat diposisikan sebagai pilihan personal semata, orang yang tidak mampu membayar atau tidak punya waktu akan mudah dianggap kurang niat.
Hariati mengingatkan bahwa setiap pilihan punya kontradiksi dalam sistem kapitalisme. Alternatifnya bukan berhenti bergerak, melainkan membangun ruang kolektif agar wellness kembali dimaknai sebagai kebutuhan semua orang, bukan privilege segelintir.
Pertanyaannya sederhana namun mengganggu: kita berolahraga untuk hidup yang lebih baik, atau untuk memenuhi standar yang terus berubah agar tetap “pantas” di mata sosial. Mungkin jawabannya ada pada keberanian menggeser fokus dari tubuh ideal menuju tubuh yang benar-benar dirawat, dengan cara yang adil dan manusiawi. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juli 2026)