Menabur Garam di Ladang Ilmu: Refleksi Mendalam Franz Magnis Suseno tentang Esensi Filsafat
Oleh Darius Leka
ORBITINDONESIA.COM - Di sebuah ruang tenang yang dipenuhi buku-buku tua dan aroma kebijaksanaan yang mengendap selama puluhan tahun, RP. Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, S.J., duduk dengan tatapan yang tetap tajam meski usia telah menyentuh angka yang matang. Bagi dunia akademis Indonesia, ia bukan sekadar nama; ia adalah mercusuar intelektual yang telah memandu ribuan pemikiran kritis. Namun, saat disinggung mengenai posisi filsafat di tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi dan sains yang serba cepat, pria yang akrab disapa Romo Magnis ini memberikan jawaban yang mengejutkan sekaligus menenangkan.
"Filsafat itu bukan yang paling penting," ucapnya lembut, seolah sedang memecah keheningan di sebuah ruang kuliah. Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung, sebelum kemudian melengkapinya dengan sebuah metafora yang sangat membumi: "Tapi, ia adalah garam di antara ilmu-ilmu."
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Di era di mana utilitas sering kali menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan—di mana kita hanya menghargai apa yang bisa dihitung, dijual, atau diproduksi secara instan—Romo Magnis mengajak kita untuk kembali melihat ke dalam. Ia mengajak kita merenungkan bahwa hidup, sama seperti masakan, akan terasa hambar jika hanya mengandalkan bahan-bahan teknis tanpa sentuhan "garam" yang memberi rasa dan makna.
Selama berdekade-dekade, Romo Magnis telah menjadi saksi bagaimana ilmu pengetahuan berkembang pesat. Ia melihat kemajuan teknik, kedokteran, hingga kecerdasan buatan. Namun, ia juga mencatat adanya kekosongan besar: hilangnya kemampuan manusia untuk bertanya mengapa di balik deretan bagaimana.
Bagi Romo Magnis, filsafat sering kali disalahpahami sebagai disiplin ilmu yang angkuh, yang duduk di menara gading dan jauh dari realitas kehidupan. Padahal, filsafat justru lahir dari ketakjuban dan kegelisahan manusia terhadap dunianya.
"Jika ilmu pengetahuan memberikan kita peta untuk berjalan, filsafat memberikan kita kompas untuk menentukan arah," jelasnya. Filsafat, menurut pemikirannya, tidak bermaksud menggantikan peran sains. Kita tidak membutuhkan filsafat untuk membangun jembatan, untuk membedah sel kanker, atau untuk merancang algoritma. Namun, kita membutuhkan filsafat untuk memahami mengapa kita membangun jembatan, ke mana arah kemajuan sains tersebut akan membawa kemanusiaan, dan apakah algoritma yang kita ciptakan menghargai martabat manusia atau justru mereduksinya menjadi sekadar angka-angka di atas kertas.
Metafora "garam" yang digunakan Romo Magnis sangatlah tepat. Garam tidak menjadi bahan utama dalam sebuah hidangan. Anda tidak akan makan semangkuk garam sebagai santapan utama. Namun, tanpa garam, hidangan paling mewah sekalipun akan terasa hambar dan tidak menggugah selera. Begitu pula ilmu pengetahuan. Tanpa sentuhan kritis filsafat, sains dapat menjadi dingin, mekanistis, dan kehilangan kompas etisnya.
Dalam perbincangan mendalam tersebut, Romo Magnis menyinggung tantangan besar yang dihadapi masyarakat modern: spesialisasi yang berlebihan. Pendidikan kita sering kali melahirkan tenaga ahli yang sangat mahir di bidangnya, namun buta terhadap konteks kemanusiaan secara luas.
"Seorang insinyur bisa sangat hebat membangun sistem ekonomi yang efisien," kata Romo Magnis. "Tetapi jika ia tidak pernah bertanya tentang keadilan sosial, jika ia tidak pernah merenungkan dampak tindakannya bagi si miskin dan yang terpinggirkan, maka sistem yang ia bangun bisa menjadi mesin penindas yang sangat canggih."
Di sinilah filsafat menjalankan tugasnya sebagai pengingat. Filsafat memaksa kita untuk keluar dari "kacamata kuda" disiplin ilmu kita sendiri. Ia menantang kita untuk bertanya: Apa artinya menjadi manusia? Apa tanggung jawab kita terhadap sesama? Bagaimana kita membangun masyarakat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab secara moral?
Romo Magnis menekankan bahwa filsafat tidak memberikan jawaban instan. Jika seseorang datang kepada filsafat mengharapkan sebuah rumus ajaib untuk menyelesaikan masalah hidup, ia akan kecewa. Filsafat justru sering kali memberikan lebih banyak pertanyaan. Namun, itulah letak kekuatannya. Pertanyaan yang benar adalah awal dari setiap terobosan besar, baik di bidang sains, politik, maupun spiritualitas.
Lebih jauh dari ruang kelas, Romo Magnis melihat filsafat sebagai kebutuhan bagi setiap individu. Di tengah arus informasi yang membanjir (dan sering kali menyesatkan), kemampuan untuk berpikir kritis—buah dari latihan filsafat—menjadi keterampilan bertahan hidup yang paling krusial.
"Kita hidup di zaman di mana kebenaran sering kali dikaburkan oleh kepentingan politik, ekonomi, dan algoritma media sosial," ujarnya dengan nada yang sedikit prihatin. "Filsafat mengajarkan kita untuk tidak menelan mentah-mentah apa yang disajikan di depan mata. Ia mengajarkan kita untuk bertanya: Siapa yang diuntungkan dari informasi ini? Apakah argumen ini masuk akal? Apa asumsi-asumsi tersembunyi di balik narasi ini?"
Kemampuan untuk berpikir reflektif inilah yang ia maksud sebagai "garam" dalam kehidupan sehari-hari. Ia memberi rasa pada realitas. Ia mencegah kita dari keputusasaan intelektual atau, yang lebih buruk, kepatuhan buta pada narasi-narasi otoriter.
Romo Magnis, yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri pada dunia filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, menunjukkan melalui teladannya bahwa filsafat bukanlah kegiatan eksklusif bagi kaum akademisi di ruang-ruang ber-AC. Filsafat adalah dialog yang hidup. Ia adalah cara kita merayakan akal budi yang dianugerahkan kepada manusia.
Menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana filsafat bisa tetap relevan di zaman digital, Romo Magnis justru melihat peluang besar. Meskipun banyak orang mengeluh bahwa perhatian manusia saat ini sangat pendek dan dangkal, ia tetap optimis.
"Justru di dunia yang serba cepat ini, kebutuhan akan ruang untuk berefleksi semakin mendesak," tegasnya. Ia menyarankan agar pendidikan filsafat tidak lagi diajarkan secara hafalan mengenai sejarah tokoh-tokoh besar, melainkan sebagai sebuah latihan dialektika. Kita harus berani membawa filsafat ke dalam perdebatan tentang isu-isu kontemporer: perubahan iklim, etika kecerdasan buatan, kesenjangan ekonomi, hingga polarisasi politik.
"Jika filsafat tidak mampu menjawab tantangan zaman, maka ia memang hanya akan menjadi koleksi museum," tambahnya. Namun, ia yakin bahwa selama manusia masih memiliki akal budi dan rasa ingin tahu, filsafat akan selalu menemukan jalannya untuk masuk kembali ke ruang publik.
Pertemuan dengan Franz Magnis Suseno adalah pengingat akan pentingnya kedalaman di tengah kedangkalan. Ia bukan mengajak kita untuk meninggalkan ilmu pengetahuan, melainkan untuk memperkaya ilmu tersebut dengan dimensi etis dan eksistensial.
Ketika kita menutup perbincangan, Romo Magnis kembali menegaskan inti dari pesannya. Menjadi orang yang berilmu tanpa filsafat adalah seperti memiliki mesin yang kuat tanpa kemudi. Kita bisa melaju sangat kencang, namun kita tidak tahu apakah kita sedang menuju tujuan yang tepat atau justru sedang menabrak dinding.
Garam memang jumlahnya sedikit, namun dampaknya terasa di setiap suapan. Begitu juga dengan filsafat. Ia mungkin tidak mendominasi panggung utama kemajuan peradaban, namun dialah yang memastikan bahwa kemajuan tersebut memiliki rasa, memiliki tujuan, dan yang paling penting, memiliki martabat.
Di tengah dunia yang terus berubah, di mana ketidakpastian menjadi satu-satunya yang pasti, mungkin sudah saatnya kita semua—dari mahasiswa hingga pembuat kebijakan—kembali menaburkan "garam" itu ke dalam pekerjaan dan pemikiran kita. Agar kemajuan yang kita capai tidak hanya menjadikan kita manusia yang lebih pintar, tetapi juga manusia yang lebih bijaksana.
Salam Keadilan,
Darius Leka, S.H.~Advokat & Pengamat Hukum
Catatan: Artikel ini ditulis berdasarkan pemikiran dan refleksi RP. Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, S.J., mengenai posisi filsafat di tengah perkembangan ilmu pengetahuan masa kini. ***