MPLS Ramah Demak 2026: Anti-Perpeloncoan, Fokus Karakter dan Aman

JatengDaily -

JatengDaily -

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – MPLS Ramah Demak untuk Tahun Ajaran 2026/2027 mengubah masa orientasi dari sekadar perkenalan menjadi latihan hidup aman, sehat, dan berkarakter. Surat Edaran Disdikbud Demak menegaskan larangan perpeloncoan, kekerasan, dan pungutan, sekaligus mendorong sekolah menghadirkan kegiatan edukatif selama 13–17 Juli 2026.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah kerap jadi ruang abu-abu, karena tradisi senioritas mudah berubah menjadi tekanan psikologis bagi murid baru. Di banyak daerah, masalahnya berulang berupa atribut tak relevan, agenda melelahkan, hingga biaya terselubung yang membebani orang tua.

Di Demak, kebijakan MPLS Ramah diposisikan sebagai pemutus pola lama itu. Kepala Disdikbud Demak Haris Wahyudi Ridwan menegaskan, “Tidak boleh ada perpeloncoan, kekerasan, maupun kegiatan yang membebani siswa dan orang tua.”

Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak Nomor 400.3.1/5669/2026 menjadi instrumen kontrol yang jelas, karena memuat larangan dan kewajiban yang terukur. Sekolah dilarang melibatkan alumni, dilarang pungutan di luar ketentuan, dan dilarang mewajibkan atribut yang tidak relevan.

Di sisi lain, sekolah diminta mengisi lima hari MPLS dengan materi pembentukan karakter, keamanan, kesehatan, hingga kesiapsiagaan bencana. Ini membuat MPLS Ramah Demak otomatis menjadi program lintas isu, bukan sekadar acara seremonial.

Contoh konkret muncul di SD Negeri Bintoro 5 Demak yang menggandeng Polsek, Puskesmas, Dinas Sosial P2PA, Tim Adiwiyata, hingga Damkar. Rangkaian materinya meliputi tertib lalu lintas, bahaya NAPZA, kebersihan dan pengelolaan sampah, jajanan sehat, pencegahan perundungan, sampai simulasi evakuasi bencana.

Model ini menunjukkan pergeseran dari “orientasi” menjadi “literasi hidup” yang relevan dengan keseharian anak. Ketika materi dibuat interaktif, sekolah tidak hanya memberi informasi, tetapi juga pengalaman yang bisa diingat dan dipraktikkan.

Namun, keberhasilan kebijakan tidak cukup diukur dari ramainya narasumber dan padatnya agenda. Ukuran yang lebih penting adalah kepatuhan sekolah pada larangan pungutan, disiplin pada prinsip ramah anak, dan adanya mekanisme aduan yang benar-benar melindungi murid.

Secara nasional, arah kebijakan pendidikan memang sedang menekankan penguatan karakter dan iklim sekolah aman. Pedoman dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi rujukan, tetapi implementasi di lapangan sering berbeda karena budaya sekolah dan pengawasan yang tidak merata.

MPLS Ramah Demak patut dibaca sebagai sinyal bahwa negara ingin hadir sejak hari pertama anak masuk sekolah. Jika orientasi saja sudah menakutkan, pesan yang diterima anak adalah sekolah bukan tempat aman, dan itu merusak fondasi belajar.

Larangan melibatkan alumni juga menarik, karena memotong mata rantai senioritas yang sering menjadi pembenaran “tradisi.” Tetapi kebijakan ini harus dibarengi pelatihan guru dan panitia, karena kekerasan tidak selalu datang dari senior, melainkan bisa terselip dalam cara mendisiplinkan yang keliru.

Keterlibatan banyak instansi, seperti Polsek dan Damkar, memberi nilai tambah, tetapi sekaligus menuntut kehati-hatian metode komunikasi. Anak SD membutuhkan pendekatan yang membangun rasa aman, bukan narasi ancaman yang malah memicu takut.

Di titik ini, MPLS Ramah seharusnya tidak menjadi proyek lima hari yang selesai lalu dilupakan. Ia harus menjadi pintu masuk budaya sekolah, dari cara guru menyapa, cara sekolah menangani konflik, sampai cara sekolah menolak pungutan yang tidak sah.

Demak sedang mencoba menata ulang makna MPLS, dari ajang “uji mental” menjadi latihan menjadi warga sekolah yang sehat, aman, dan berempati. Kepala SDN Bintoro 5 Kingkin Purwoko menegaskan tujuan itu, yakni membekali anak dengan karakter, disiplin, kepedulian lingkungan, serta keselamatan diri sejak dini.

Pertanyaannya, apakah semua sekolah akan setegas itu menjaga batas, menolak pungutan, dan menutup pintu perpeloncoan dalam bentuk apa pun. Jika MPLS Ramah benar dijalankan konsisten, maka hari pertama sekolah tidak lagi menjadi trauma, melainkan awal yang manusiawi bagi masa depan anak. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Juli 2026)