Vicky Prasetyo Punya 8 Anak: Istri Siri, Nafkah, dan Sorotan Publik
ORBITINDONESIA.COM – Vicky Prasetyo mengaku punya delapan anak dari lima wanita berbeda, di tengah viralnya Fangfang yang menyebut dirinya istri siri dan ditelantarkan saat hamil sembilan bulan. Pengakuan Vicky Prasetyo soal nafkah anak ini ia unggah di Instagram, lengkap dengan klaim komunikasi baik dengan para ibu anaknya.
Nama Vicky Prasetyo kembali jadi bahan perbincangan setelah kemunculan Fangfang, yang belakangan diketahui bernama Fista Angela. Ia mengaku sebagai istri siri dan menyebut dirinya tidak dinafkahi ketika memasuki kehamilan sembilan bulan.
Di saat isu itu memanas, Vicky justru memindahkan pusat cerita ke pengakuan lain yang lebih besar, yakni jumlah anak dan relasi dengan para ibu anaknya. Publik pun membaca ini sebagai upaya mengendalikan narasi di tengah tuduhan penelantaran.
Dalam unggahannya, Vicky menulis, “Anak saya 8 dari 5 ibu dan semua saya komunikasi baik sama ibunya serta masih menafkahi anak2 teruss.” Ia juga menambahkan kalimat emosional tentang “air mata wanita mana yg harus saya dahulukan,” yang memperlihatkan ia menempatkan isu ini sebagai dilema personal, bukan semata perkara hukum.
Vicky mengunggah tangkapan layar bukti transfer Rp15 juta kepada Fista Angela untuk menepis tudingan tidak memberi nafkah. Ia menulis, “Ini salah satu dari yg sering saya kirim,” sambil menegaskan unggahan itu bukan pamer, melainkan “situasinya memaksa.”
Namun bukti transfer tunggal tidak otomatis menjawab pertanyaan publik tentang pola nafkah yang konsisten, kebutuhan anak, dan tanggung jawab jangka panjang. Dalam isu nafkah, yang dinilai bukan hanya “pernah mengirim,” melainkan keteraturan, kecukupan, dan mekanisme yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pengakuan “8 anak dari 5 ibu” juga membuat isu melebar dari konflik dua orang menjadi gambaran kompleks relasi, komitmen, dan konsekuensi. Di titik ini, publik tidak lagi sekadar menilai benar-salah satu tuduhan, tetapi menilai tata kelola kehidupan keluarga yang berlapis.
Artikel VIVA menyebut Rama Nuraini sebagai istri pertama yang menikah pada 2005 dan bercerai pada 2014, dengan tiga anak dari pernikahan itu. Nama Angel Lelga juga disebut sebagai pasangan yang paling melekat, menikah pada 9 Februari 2018 dan sempat menyedot perhatian publik.
Rangkaian fakta ini menunjukkan pola yang berulang dalam pemberitaan selebritas: relasi privat menjadi konsumsi publik, lalu publik menuntut klarifikasi yang makin detail. Media sosial mempercepatnya, karena pengakuan dan bantahan kini terjadi lewat unggahan, bukan lewat proses klarifikasi yang terstruktur.
Di sisi lain, klaim Vicky bahwa ia “masih menafkahi” dan “komunikasi baik” bisa dibaca sebagai strategi reputasi. Ia mencoba memindahkan fokus dari tuduhan penelantaran menjadi citra “ayah bertanggung jawab” yang tetap hadir secara finansial.
Tetapi tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada transfer, apalagi ketika ada klaim istri siri dan kehamilan tua yang menyangkut kerentanan. Publik wajar mempertanyakan apakah relasi semacam itu memiliki perlindungan yang memadai bagi perempuan dan anak, terutama jika statusnya tidak tercatat secara formal.
Pengakuan Vicky Prasetyo soal delapan anak dari lima wanita adalah fakta yang mengejutkan, tetapi yang lebih penting adalah implikasinya bagi anak-anak. Dalam pusaran sensasi, anak sering menjadi angka, bukan subjek yang punya hak atas stabilitas, privasi, dan pengasuhan yang konsisten.
Ketika konflik dibingkai sebagai “air mata wanita,” yang hilang adalah standar objektif tentang kewajiban ayah. Di ruang publik, empati mudah dipakai sebagai perisai, padahal yang dibutuhkan adalah kejelasan: skema nafkah, akses pengasuhan, dan kepastian perlindungan bagi ibu dan anak.
Viralnya isu istri siri juga mengingatkan bahwa relasi yang tidak tercatat sering menempatkan perempuan pada posisi tawar yang rapuh saat konflik terjadi. Jika benar ada kehamilan sembilan bulan dan klaim penelantaran, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi, tetapi keselamatan dan martabat.
Media sosial memberi panggung bagi pembelaan diri, tetapi sekaligus memancing penghakiman massal. Keduanya sama-sama berisiko, karena kebenaran akhirnya diukur dari “bukti unggahan,” bukan dari proses yang adil dan menyeluruh.
Kisah Vicky Prasetyo, Fangfang, dan pengakuan delapan anak dari lima wanita memperlihatkan betapa cepat urusan keluarga berubah menjadi tontonan nasional. Di balik angka dan unggahan, ada anak-anak yang tumbuh di tengah riuh opini, dan mereka tidak pernah memilih panggung itu.
Pada akhirnya, pertanyaan kuncinya sederhana tetapi berat: apakah tanggung jawab orang tua cukup dibuktikan lewat transfer dan narasi, atau harus ditopang oleh kepastian, keteraturan, dan perlindungan yang nyata. Publik boleh penasaran, tetapi yang paling penting adalah memastikan hak anak dan martabat manusia tidak tenggelam oleh sensasi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)