Buku Antologi "Sumatra Menangis, Menggugah Kemanusiaan Kita" Sudah Beredar

Judul: Sumatra Menangis, Menggugah Kemanusiaan Kita

Penyunting: Satrio Arismunandar

Kata Pengantar: Denny JA

Penerbit: Cerah Budaya International, LLC

ISBN: 978-1-966391-76-0 - Tahun Terbit: 2026

ORBITINDONESIA.COM - Buku Sumatra Menangis, Menggugah Kemanusiaan Kita bukan sekadar antologi sastra tentang bencana. Ia adalah jerit nurani kolektif yang lahir dari luka ekologis dan kemanusiaan di Sumatra pada penghujung 2025.

Ketika banjir bandang dan longsor merenggut lebih dari seribu nyawa di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, buku ini hadir sebagai kesaksian moral sekaligus panggilan peradaban.

Antologi ini memuat 131 karya dari 89 penulis dalam empat genre: esai, puisi, puisi esai, dan cerpen. Keberagaman bentuk itu menjadikan buku ini kaya perspektif. Ada suara akademik yang kritis, suara penyair yang lirih, hingga cerita-cerita kemanusiaan yang mengguncang batin pembaca.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya menyebut bencana bukan sekadar takdir alam, melainkan akibat dari kerusakan ekologis yang dilakukan manusia sendiri.

Dalam kata pengantarnya, Denny JA menegaskan bahwa tragedi Sumatra adalah “bunuh diri ekologis.” Hutan yang ditebang, tata ruang yang kacau, dan kerakusan ekonomi menjadi akar petaka.

Esai-esai dalam buku ini menghadirkan refleksi yang tajam. Tulisan “Sumatra: Ketika Negara Tertinggal di Balik Gelondongan Kayu dan Lumpur” karya Akaha Taufan Aminudin menjadi salah satu sorotan karena menggambarkan bagaimana negara tampak terlambat hadir di tengah derita rakyat.

Sementara puisi-puisi seperti “Banjir Gelondongan Kayu” juga karya Akaha menghadirkan metafora kuat tentang alam yang kehilangan kesabarannya.

Tidak hanya mengutuk kerusakan, buku ini juga menawarkan kesadaran baru: bahwa mencintai bumi bukan slogan romantis, melainkan tanggung jawab moral dan politik. Sastra di sini berfungsi sebagai alarm sosial. Ia mengubah data menjadi air mata, statistik menjadi wajah manusia.

Secara editorial, buku ini berhasil menunjukkan kekompakan gerakan literasi SATUPENA dalam merespons tragedi nasional. Antologi ini terasa hidup karena ditulis oleh banyak suara dari berbagai latar belakang, namun tetap terikat oleh satu benang merah: kemanusiaan.

Meski demikian, karena melibatkan sangat banyak penulis, kualitas tulisan tentu tidak sepenuhnya merata. Ada karya yang sangat kuat secara artistik dan reflektif, namun ada pula yang terasa lebih berupa luapan emosi spontan. Namun justru di situlah letak kejujuran buku ini: ia bukan monumen sastra yang steril, melainkan ruang bersama untuk berkabung dan bersaksi.

Pada akhirnya, Sumatra Menangis, Menggugah Kemanusiaan Kita adalah buku yang penting dibaca, terutama di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata. Buku ini mengingatkan bahwa bencana bukan hanya soal hujan dan longsor, tetapi juga soal pilihan manusia terhadap alam dan masa depan.

Antologi ini berhasil mengubah tangis menjadi peringatan, dan peringatan menjadi harapan. Sebab selama nurani masih hidup, manusia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan bumi.

Kota Batu, 19 Mei 2026
Akaha Taufan Aminudin
SATUPENA JAWA TIMUR

BUKUKITA SATUPENA JAWA TIMUR Akan mencetak terbatas Buku Sumatra Menangis, Menggugah Kemanusiaan Kita sebagai dokumen penting. Yang minat silakan hubungi: 08123366563. ***