Cerpen Iyek Aghnia: Matkuat dan Takdirnya Sebagai Lelaki

Oleh Iyek Aghnia

ORBITINDONESIA.COM - Cahaya malam makin menjauh, sejauh mimpi para penghuni bumi yang tak kunjung datang.

Sinar rembulan tampak enggan menyinari dunia. Rasa kantuk seolah mengalahkan kodratnya sebagai penerang malam.

Di tengah pekat yang perlahan menelan jalanan kota, seorang lelaki berwajah kemayu melangkah pelan. Jalannya berlenggok bak peragawati di atas catwalk. Penampilannya yang rupawan membuat siapa saja mudah menoleh.

Beberapa klakson genit dari pengendara mobil dan motor yang melintas di jalan sepi terdengar menggoda. Sangat menggoda. Namun tak satu pun dihiraukannya.

Ia harus pulang.

Sementara malam terus menua, bersamaan dengan mentari yang mulai terbangun dari lelapnya.

Pagi datang membawa cahaya terang. Jalanan kembali sibuk. Para pelintas berlomba dengan waktu. Di pasar, para pedagang mulai membuka dagangan.

Tak terkecuali lelaki kemayu semalam yang kini tampil berbeda. Kaos lusuh, celana belel, dan otot lengan yang menegang saat memikul karung berat di pundaknya.

“Kuat amat Matkuat. Malam kerja, siang masih jadi kuli panggul. Kayak Rambo saja tenaganya,” celetuk seorang lelaki dari warung kopi pinggir jalan.

“Apa boleh buat. Beginilah kerasnya hidup di kota. Kalau tak tahan, ya jadi pengemis di jalan,” sambung yang lain disambut tawa kecil.

“Tapi kita bangga punya teman seperti dia. Pekerja keras, peduli keluarga, juga suka membantu tetangga. Soal gaya hidup, itu urusan masing-masing,” ujar Mang Masno, tetangga Matkuat.

Semua mendadak terdiam.

Entah mengapa, ucapan Mang Masno membuat suasana berubah kikuk. Sementara di lubuk hati lelaki tua itu terselip rasa sesal—seperti kalimat yang telanjur terbit di media dan tak mungkin lagi ditarik kembali.

Sudah tiga malam Dena tak terlihat di Taman Ligut Kota.

Para penghias malam mulai gelisah. Pertanyaan demi pertanyaan menggantung di kepala mereka.

“Kok Dena udah tiga malam nggak nongol?” tanya Lela.

“Sakit kali. Atau jangan-jangan lagi dibooking orang kaya ke puncak,” jawab Manohara sambil tertawa kecil.

“Kalau dapat pelanggan, pasti dia bilang. Kamu tahu sendiri sifat dia,” sahut Lela.

Yang lain mengangguk.

Bagi mereka, Dena—nama lain Matkuat di dunia malam—bukan sekadar teman. Ia penolong. Banyak yang pernah merasakan uluran tangannya, baik tenaga maupun uang.

Lela masih ingat bagaimana Dena pernah menyelamatkannya dari seorang lelaki hidung belang yang mencoba merampoknya selepas berkencan di bawah pohon mahoni Taman Ligut.

Saat lelaki itu hendak kabur membawa tas miliknya, Dena muncul tiba-tiba. Sekali hadang, lelaki itu tersungkur. Ketika mencoba bangkit, tendangan keras Dena menghantam perutnya hingga terpental beberapa meter.

Tepat di bawah pohon tempat lelaki itu sebelumnya melampiaskan nafsu.

Bukan hanya Lela.

Manohara pun pernah ditolong Dena saat membutuhkan biaya rumah sakit untuk ibunya. Sebagian uang pengobatan berasal dari Dena, yang malam itu sedang mendapat “ikan besar”—seorang lelaki tua berkantong tebal.

Bukan hanya penghias malam yang kehilangan Dena.

Para tetangga pun mulai merasa ada yang hilang.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Matkuat dikenal sebagai sosok ringan tangan dan dermawan.

“Orangnya baik banget. Kalau bukan karena Nak Matkuat, mungkin anakku nggak tamat sekolah,” cerita Mpok Liza.

“Aku juga pernah dibantu waktu bapaknya anak-anak sakit keras. Kalau nggak ada dia, entah bagaimana nasib kami,” timpal Mpok Hindun.

Seusai salat Isya, beberapa warga mendatangi rumah Pak RT.

Pak RT yang baru keluar kamar tampak gugup. Sarungnya bahkan hampir melorot sebelum buru-buru dibetulkan setelah mendapat lirikan istrinya.

“Ada apa malam-malam begini?” tanyanya.

“Matkuat, Pak RT. Sudah beberapa hari nggak kelihatan di kontrakannya. Kami khawatir,” jawab salah seorang warga.

Pak RT mengangguk pelan.

“Saya juga sudah dengar dari jamaah masjid tadi. Bagaimanapun, dia warga yang baik. Kita cari tahu sama-sama di mana dia berada.”

“Kalau ada kabar tentang Matkuat, segera beri tahu warga lain,” tambahnya.

Di Kampung Seberang, menjelang Magrib, beberapa warga yang hendak salat berjamaah dikejutkan oleh sosok lelaki yang sedang bersujud di sudut masjid.

Lama sekali.

Terlalu lama.

Awalnya mereka mengira lelaki itu sedang khusyuk berdoa. Namun setelah dipanggil berkali-kali tanpa jawaban, para jamaah mulai mendekat.

Kekagetan pun pecah.

Lelaki itu telah wafat.

Kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji’un menggema dari mulut para jamaah, menyatu dengan malam yang perlahan turun membawa sunyi.

Sebuah kartu identitas yang terselip di saku bajunya membuat semua orang tercekat.

Nama itu tertulis jelas:

Matkuat alias Dena.

Malam semakin renta.

Suara zikir dari para jamaah masjid terus bergemuruh, menguduskan langit, bumi, dan segala isi semesta.

Dan di antara cahaya lampu masjid yang temaram, orang-orang mulai sadar:

sering kali Tuhan menyembunyikan kemuliaan seseorang di balik hidup yang paling mereka hina.

Toboali, Mei 2026

Iyek Aghnia adalah nama pena Rusmin Sopian, penulis dan pegiat literasi yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Cerpennya telah dimuat di berbagai media lokal maupun luar Bangka Belitung.***