Mahasiswa UGM Ini Ciptakan AI Kesehatan Mental hingga Raih Juara Dunia

Meningkatnya kasus kesehatan mental di kalangan remaja pada awal 2026 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Data Kementerian Kesehatan RI pada Maret 2026 menyebut hampir 10 persen anak dan remaja mengalami gejala depresi. Situasi ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif, termasuk dalam memanfaatkan perkembangan teknologi.

‎Di tengah kondisi tersebut, Giga Hidjrika Aura Adkhy, mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, muncul dengan sebuah inovasi berbasis kecerdasan buatan bernama UGM-AICare atau “Aika”.

‎Platform tersebut dirancang sebagai layanan pendamping psikologis berbasis AI yang memungkinkan pengguna melakukan percakapan secara lebih nyaman dan personal sebelum terhubung dengan tenaga profesional.

‎Gagasan itu muncul dari pengalaman yang ia temui secara langsung selama menjalani program pertukaran mahasiswa di University of Liverpool pada 2024. Saat itu ia melihat seorang rekannya dapat mengakses layanan kesehatan mental kampus dengan mudah melalui sistem digital yang praktis dan responsif.

‎Pengalaman tersebut membuatnya melihat adanya perbedaan besar dengan kondisi di Indonesia. Banyak mahasiswa dan remaja masih kesulitan mencari akses layanan psikologis, baik karena keterbatasan fasilitas maupun rasa canggung untuk memulai konsultasi.

‎Dari pengamatan itu, Giga mulai mengembangkan konsep layanan berbasis AI yang dapat menjadi ruang awal bagi pengguna untuk berbicara mengenai kondisi emosional mereka.‎

‎Aika bekerja melalui sistem percakapan interaktif berbasis kecerdasan buatan. Platform ini mampu memberikan respons yang dirancang lebih empatik, membantu membaca kondisi psikologis awal pengguna, serta memberikan arahan lanjutan apabila dibutuhkan bantuan profesional.

‎Meski menggunakan teknologi AI, Giga menekankan bahwa platform tersebut bukan pengganti psikolog. Ia melihat AI sebagai alat pendukung untuk memperluas akses layanan kesehatan mental, terutama bagi generasi muda yang lebih akrab dengan komunikasi digital.

‎Pengembangan Aika kemudian membawanya mengikuti EDU Chain Hackathon Semester 3, kompetisi internasional yang mempertemukan pengembang teknologi dari berbagai negara untuk menciptakan inovasi berbasis AI dan blockchain.

‎Melalui proyek tersebut, Giga berhasil meraih juara dunia kategori Play Track sekaligus memperoleh hadiah bernilai miliaran rupiah dari total prize pool kompetisi.

‎Pencapaian itu menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa Indonesia mulai mengambil peran dalam pengembangan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada industri, tetapi juga menjawab kebutuhan sosial yang nyata.

‎Pendekatan yang dilakukan Giga menunjukkan bahwa AI tidak selalu harus berbicara soal industri dan bisnis. Teknologi juga bisa digunakan untuk membantu membuka akses layanan kesehatan mental secara lebih luas.‎

‎Apa yang dilakukan Giga mungkin belum mampu menyelesaikan persoalan kesehatan mental yang begitu kompleks. Namun setidaknya, ia mencoba membuka jalan agar penanganan kesehatan mental tidak lagi terasa sulit seperti sebelumnya.