Resensi Buku Ethnosociology: The Foundations (2019) Karya Aleksander Dugin
Pendahuluan: Ketika Bangsa, Identitas, dan Tradisi Menjadi Pertanyaan Ilmiah
ORBITINDONESIA.COM- Ethnosociology: The Foundations (2019) karya Alexander Dugin merupakan salah satu karya penting dalam upaya memahami kembali konsep etnisitas, masyarakat, dan identitas dalam dunia modern yang semakin homogen. Diterbitkan oleh Arktos Media pada tahun 2019, buku ini hadir sebagai respon terhadap krisis identitas global yang ditandai oleh globalisasi, migrasi massal, dan dominasi paradigma Barat dalam ilmu sosial.
Dalam karya ini, Dugin tidak sekadar berbicara tentang etnisitas sebagai kategori sosiologis biasa, melainkan sebagai fenomena ontologis—sesuatu yang berkaitan dengan cara manusia berada di dunia. Ia mencoba menghidupkan kembali pertanyaan mendasar yang sering diabaikan oleh ilmu sosial modern: apa itu “bangsa”? apa itu “rakyat”? dan bagaimana identitas kolektif terbentuk serta bertahan dalam arus modernitas yang cenderung meratakan perbedaan?
Buku ini berdiri di persimpangan antara sosiologi, antropologi, filsafat, dan geopolitik. Ia bukan sekadar buku akademik, tetapi juga manifesto intelektual yang menantang cara kita memahami masyarakat dalam era global.
Isi dan Struktur Buku: Dari Individu ke Etnos sebagai Subjek Sosial
Dalam Ethnosociology, Dugin memulai dengan kritik terhadap paradigma sosiologi modern yang terlalu menekankan individu sebagai unit analisis utama. Dalam tradisi Barat modern, masyarakat dipahami sebagai kumpulan individu yang berinteraksi berdasarkan kepentingan rasional. Namun bagi Dugin, pendekatan ini mengabaikan dimensi kolektif yang lebih dalam—yakni etnos.
Etnos, dalam pemahaman Dugin, bukan sekadar kelompok etnis dalam arti sempit, tetapi suatu kesatuan eksistensial yang mencakup bahasa, budaya, mitos, sejarah, dan struktur kesadaran kolektif. Ia melihat etnos sebagai organisme hidup yang memiliki logika internal sendiri, bukan sekadar agregasi individu.
Buku ini kemudian mengembangkan tipologi masyarakat berdasarkan hubungan mereka dengan tradisi dan modernitas. Dugin membedakan antara masyarakat tradisional, masyarakat modern, dan masyarakat postmodern. Masyarakat tradisional, menurutnya, masih terikat pada struktur simbolik dan sakral; masyarakat modern ditandai oleh rasionalisasi dan individualisasi; sementara masyarakat postmodern mengalami fragmentasi identitas yang lebih ekstrem.
Dalam analisisnya, Dugin menunjukkan bagaimana globalisasi modern cenderung mengikis identitas etnos, menggantikannya dengan identitas universal yang sering kali dangkal dan terlepas dari akar budaya. Ia melihat proses ini sebagai bentuk “de-etnisasi” yang berbahaya bagi keberagaman peradaban manusia.
Fondasi Teoretis: Antara Sosiologi Barat dan Kritik Tradisionalis
Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya menggabungkan berbagai tradisi intelektual. Dugin memanfaatkan konsep-konsep dari sosiologi klasik, tetapi juga mengkritiknya dari perspektif yang lebih filosofis.
Ia dipengaruhi oleh pemikiran Émile Durkheim tentang kesadaran kolektif, namun melangkah lebih jauh dengan memasukkan dimensi metafisik ke dalam analisis sosial. Ia juga terinspirasi oleh Martin Heidegger dalam memahami keberadaan manusia sebagai sesuatu yang selalu terikat pada dunia dan konteks historisnya.
Selain itu, pengaruh tradisionalisme—seperti pemikiran René Guénon—terlihat jelas dalam kritik Dugin terhadap modernitas. Ia melihat dunia modern sebagai fase di mana manusia terputus dari akar spiritual dan kolektifnya, dan etnos menjadi korban dari proses ini.
Dengan menggabungkan berbagai pendekatan ini, Dugin mencoba membangun disiplin baru: “ethnosociology”, yaitu studi tentang masyarakat yang berpusat pada etnos sebagai subjek utama.
Analisis Kritis: Antara Pembelaan Identitas dan Risiko Esensialisme
Ethnosociology menawarkan perspektif yang menarik tentang pentingnya identitas kolektif dalam dunia modern. Dugin berhasil menunjukkan bahwa manusia tidak hidup sebagai individu yang terisolasi, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang memiliki sejarah dan makna bersama.
Namun, pendekatan ini juga mengandung risiko. Dengan menekankan etnos sebagai entitas yang hampir organik, Dugin cenderung mengesampingkan dinamika internal masyarakat—seperti konflik, perubahan, dan hibriditas budaya. Ada kecenderungan untuk melihat identitas sebagai sesuatu yang tetap dan esensial, padahal dalam kenyataannya identitas selalu berubah dan dinegosiasikan.
Selain itu, kritiknya terhadap globalisasi dan liberalisme sering kali tidak diimbangi dengan solusi praktis yang jelas. Ia menawarkan visi alternatif, tetapi tidak selalu menjelaskan bagaimana visi tersebut dapat diwujudkan tanpa menimbulkan konflik baru.
Konteks Global: Identitas dalam Era Globalisasi
Buku ini sangat relevan dalam konteks dunia saat ini, di mana isu identitas menjadi semakin penting. Dari kebangkitan nasionalisme hingga konflik berbasis etnis, kita melihat bagaimana pertanyaan tentang “siapa kita” kembali menjadi pusat politik global.
Dalam konteks ini, Ethnosociology dapat dibaca sebagai upaya untuk memahami fenomena tersebut dari perspektif yang lebih dalam. Dugin mengingatkan bahwa di balik konflik politik, ada dimensi eksistensial yang sering diabaikan—yakni kebutuhan manusia untuk memiliki identitas dan makna.
Penutup: Mengembalikan Manusia ke Akar Kolektifnya
Ethnosociology adalah buku yang menantang dan provokatif. Ia tidak menawarkan kenyamanan, tetapi mengajak pembaca untuk mempertanyakan asumsi-asumsi dasar tentang masyarakat dan identitas.
Melalui karya ini, Alexander Dugin mencoba mengembalikan perhatian kita pada dimensi kolektif kehidupan manusia—pada bahasa, tradisi, dan sejarah yang membentuk siapa kita.
Buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin memahami dinamika identitas dalam dunia modern, serta oleh mereka yang tertarik pada pertemuan antara sosiologi, filsafat, dan geopolitik. Namun, seperti semua karya besar yang kontroversial, Ethnosociology tidak harus diterima sepenuhnya. Ia lebih tepat dibaca sebagai undangan untuk berpikir—tentang dunia, tentang masyarakat, dan tentang diri kita sendiri sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.***