Puluhan Kali Gagal dan Ditolak, Tao Kae Noi Kini Tembus Pasar Global

"Usaha besar tidak dibangun dengan proses instan, tetapi dari keteguhan untuk terus berjalan saat kegagalan datang berulang.”

Siapa yang tidak kenal Tao Kae Noi?
Camilan rumput laut ini, kini begitu mudah ditemukan, dari minimarket hingga supermarket besar. Rasanya yang ringan dan gurih disukai banyak orang. Tapi sedikit yang tahu, perjalanan menuju rasa yang “pas” itu tidak datang dengan mudah.

Berawal dari seorang anak muda Thailand bernama Itthipat Peeradechapan, yang menghadapi krisis keuangan setelah keluarganya terlilit masalah utang, ia mulai memikirkan cara menghasilkan uang membantu keluarganya bertahan hidup. Ia mencoba berbagai usaha kecil, mulai dari berjualan makanan ringan hingga kopi di sekitar kampus, namun alih-alih mendapat keuntungan, ia justru mengalami kerugian yang cukup besar. Kemudian ia pun memutuskan untuk beralih ke bisnis kastanye goreng. Awalnya bisnis tersebut sempat berkembang pesat dan masuk ke pusat perbelanjaan besar seperti Tesco dan Carrefour terbesar di Thailand. Namun ternyata momentum itu tidak bertahan lama. Persaingan, biaya operasional, dan penurunan penjualan membuat usahanya kembali goyah, hingga memaksanya mencari arah baru.

Pilihan bisnis berikutnya jatuh pada produk rumput laut goreng, produk yang saat itu belum populer sebagai camilan massal. Banyak orang masih merasa asing dengan produk makanan tersebut. Selain itu dalam proses mengolahnya menjadi produk yang layak jual bukanlah perkara sederhana. Rumput laut goreng yang dihasilkan puluhan kali gagal. Rasa dan teksturnya tidak pas, pahit dan keras, jauh dari standar pasar. Meski begitu, Itthipat tidak menghentikan prosesnya. Dengan menghabiskan seluruh tabungannya, ia terus memperbaiki resep dan cara produksi. Hingga perlahan rasa yang dihasilkan mulai mendekati kualitas yang bisa diterima masyarakat. Dari rangkaian percobaan itulah, cikal bakal Tao Kae Noi terbentuk. 

Namun ketika produk mulai siap, tantangan berikutnya tidak kalah sulit. Mengenalkan camilan rumput laut yang saat itu masih asing di pasar modern jelas bukan perkara sederhana. Tao Kae Noi harus berhadapan dengan standar distribusi yang ketat, mulai dari kualitas rasa yang konsisten, daya tahan produk, hingga kesiapan produksi dalam skala besar. Di tahap ini, realitas pasar berbicara tegas: produk yang belum benar-benar matang secara standar kualitas, tidak bisa diberi ruang.

Penolakan pun datang, bukan sekali, melainkan berulang kali. Pintu-pintu ritel besar belum terbuka. Setiap pengajuan kerja sama berujung evaluasi yang sama, produk perlu diperbaiki. Bagi banyak pelaku usaha, fase ini kerap menjadi titik berhenti. Namun bagi Itthipat Peeradechapan, penolakan justru menjadi peta arah. Ia tidak mengganti produknya, tetapi memperbaikinya: menyempurnakan rasa, memastikan tekstur lebih stabil, dan membangun proses produksi yang mampu memenuhi standar industri.

Perlahan, upaya itu mulai menemukan hasil. Produk yang sebelumnya diragukan mulai memenuhi ekspektasi pasar modern. Ketika akhirnya Tao Kae Noi diterima di jaringan ritel besar, itu bukan sekadar keberhasilan distribusi, melainkan validasi atas proses panjang yang penuh perjuangan. Langkahnya pun mulai meluas, dari pasar lokal menuju ekspansi yang lebih besar, menjadikan produk ini bukan hanya camilan biasa, tetapi brand yang mendominasi pasar rumput laut dunia.