Waduh, Aktivitas Manufaktur Indonesia pada April 2026 Turun ke Zona Kontraksi

ORBITINDONESIA.COM - Aktivitas manufaktur Indonesia pada April 2026 turun ke zona kontraksi. S&P Global melaporkan, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,1 dari 50,1 pada Maret.

Capaian ini terendah sejak Juni 2025, yang mengindikasikan tekanan kembali meningkat pada sektor riil. S&P menilai penurunan produksi ini disebabkan oleh kenaikan harga, kekurangan pasokan bahan baku, hingga pelemahan daya beli imbas perang di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok dan menaikkan biaya logistik.

Meski mencatat surplus 71 bulan beruntun, nilai neraca perdagangan barang pada Maret 2026 turun dibanding surplus Maret 2025, dari USD 4,33 miliar menjadi USD 3,32 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, surplus neraca dagang bulan Maret lebih ditopang komoditas nonmigas, yakni surplus USD 5,21 miliar, terutama lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Semetara komoditas migas defisit USD 1,89 miliar dengan komoditas penyumbang defisit minyak mentah hasil migas.

Ekspor migas mencapai USD 1,28 miliar, turun 11,84% (yoy). Sedangkan ekspor nonmigas turun 2,52% senilai USD 21,25 miliar.

Penurunan didorong ekspor nonmigas, yakni lemak dan minyak hewani/nabati yang turun 27,02% dengan andil 3,52%. Sementara total impor sebesar USD 19,21 miliar, naik 1,51% (yoy).

Total impor migas USD 3,17 miliar, naik 1,34% (yoy). Sementara impor nonmigas USD 16,04 miliar, naik 1,54% (yoy). impor barang konsumsi turun 10,81% (yoy), sedangkan bahan baku/penolong naik 2,15%, dan impor barang modal naik 4,98%.

Menurut BDS Alliance, turunnya PMI Manufaktur pada April 2026 ini menandai kontraksi pertama dalam 9 bulan terakhir, yang mencerminkan melemahnya kondisi operasional industri di awal kuartal II-2026. Laporan S&P Global itu menekankan, produsen menaikkan harga dengan laju tercepat dalam 12,5 tahun terakhir karena biaya input yang tertinggi dalam 4 tahun terakhir.

Kondisi ini harus menjadi perhatian serius, karena akan berdampak pada masyarakat sementara daya belinya masih belum pulih. Memang disebutkan ada sinyal positif, yakni masih ada pesanan baru domestik yang meningkat tipis. Tapi permintaan itu lebih didorong oleh aksi pembelian lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga dan potensi gangguan pasokan, bukan karena penguatan permintaan yang berkelanjutan.

Sinyal-sinyal dari ekonomi Indonesia, hari ini membentuk sebuah mozaik yang mengkhawatirkan: PMI Manufaktur April 2026 jatuh ke zona kontraksi (49,1) untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, bukan karena permintaan yang organik melemah, melainkan karena biaya input melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun.

Produsen pun merespons dengan menaikkan harga dengan laju tercepat dalam 12,5 tahun terakhir, tepat ketika daya beli masyarakat belum pulih. Surplus neraca dagang pun menyusut, ekspor CPO anjlok 27%, dan BBM nonsubsidi kembali naik hari ini.

Di saat bersamaan, pemerintah menganggap wajar memasukkan anggaran sepatu Rp 700 ribu untuk siswa miskin Sekolah Rakyat. Ini sebuah kecerobohan perencanaan yang bukan sekadar skandal angka, melainkan cerminan mentalitas birokrasi yang tidak pernah benar-benar berpihak pada rakyat kecil yang sedang diusung sebagai narasi utamanya.

Kabinet yang sudah direshuffle lima kali dalam dua tahun bukan karena kinerja, tapi karena kalkulasi politik, membuat siapapun sulit berharap ada koreksi kebijakan yang serius dan konsisten.

Satu-satunya cahaya tipis: pesanan domestik masih bergerak meski didorong kepanikan antisipasi kenaikan harga, bukan keyakinan, dan 483 ribu pelamar manajer Koperasi Merah Putih menunjukkan bahwa kapasitas manusia Indonesia untuk bergerak ketika ada peluang, tidak pernah padam; yang dibutuhkan hanya sistem yang tidak mengkhianati antusiasme mereka.***