Denny JA: Ketika Puisi Hidup Dalam Kamera

KETIKA PUISI HIDUP DALAM KAMERA - Pengantar Buku Kumpulan Pemenang Pembacaan Puisi Esai, 2026

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Bukit tua itu akhirnya bersaksi, yang direkam dalam puisi.

Dulu, bukit itu hidup dalam harmoni bersama desa. Namun perlahan ia dilucuti oleh keserakahan korporasi. 

Akar dicabut, hutan dihilangkan, dan keseimbangan dihancurkan demi laba. Ketika hujan datang, bukit itu runtuh, bukan karena alam semata, tetapi karena luka yang diciptakan manusia. 

Di bawah runtuhannya, satu keluarga tertimbun, menjadi korban yang tak pernah dihitung dalam laporan keuangan. 

Puisi ini bukan tentang bencana. 
Ini tentang dosa yang disamarkan sebagai kemajuan. Tentang bumi yang menangis, dan manusia yang terlambat merasa bersalah.

Namun getaran puisi itu menjadi lebih kuat ketika ia masuk ke kamera.

Di sana, kata tidak hanya dibaca. Ia diberi napas oleh suara. Ia diberi wajah oleh mimik. Ia diberi tubuh oleh gestur. Ia diberi luka oleh footage tanah, hutan, lumpur, rumah, dan wajah manusia.

Puisi itu tidak lagi tinggal di halaman. Ia berjalan ke layar. Ia hidup dalam kamera.

-000-

Buku ini lahir dari Festival Puisi Esai ke-3 tahun 2025, dalam lomba video pembacaan puisi esai bertema Kembali Mencintai Bumi Setelah Sumatra Menangis. 

Tema festival lahir dari kesadaran sastra tidak hanya merekam luka, tetapi juga menumbuhkan harapan. Puisi esai dipahami sebagai medium yang menjembatani empati, data, dan refleksi sosial. 

Lomba pembacaan puisi mencapai 575 peserta. Mereka membuat video, mengatur pengambilan gambar, mengedit audio visual, menggunakan musik, animasi, bahkan sebagian memakai AI.  

Koordinator lomba Monica JR, dibantu oleh para juri. Pemenang lomba diabadikan dalam buku ini.

Mengapa buku ini penting? 

Pertama, ia menandai transformasi puisi dari teks menjadi pertunjukan multimedia.

Dulu, puisi terutama hidup di halaman. Lalu ia hidup di panggung. Kini ia hidup di kamera. Buku ini memperlihatkan perubahan itu secara nyata. 

Dalam kurasi para pemenang, yang dinilai bukan hanya kemampuan vokal, tetapi juga ekspresi wajah, gestur tubuh, latar visual, editing, atmosfer, dan keberanian menafsirkan teks melalui teknologi. 

Pada Juara 1, Seni Handiyani, misalnya, latar hutan hijau menciptakan kontras kuat antara keindahan alam dan kehancuran yang dikisahkan. Kostum putih dan hijab hijau menjadi simbol kemurnian alam yang terancam eksploitasi.  

Inilah pergeseran besar. Puisi tidak lagi sekadar dibacakan. Ia dipentaskan, divisualkan, dan dialami. Kamera bukan alat dokumentasi belaka. Kamera menjadi bagian dari puisi itu sendiri.

Maka buku ini penting sebagai arsip perubahan: dari literasi menuju performativitas, dari pembaca menuju performer, dari teks menuju pengalaman.

-000-

Kedua, buku ini penting karena menunjukkan puisi sebagai kritik sosial yang tajam.

Puisi esai dalam lomba ini tidak berbicara tentang bunga yang indah saja. Ia berbicara tentang hutan yang hilang, korporasi yang rakus, grafik keuangan yang naik, dan manusia yang terkubur lumpur. 

Dalam analisis Juara 1, disebutkan bahwa pembacaan berhasil mengubah puisi esai yang penuh data, seperti kutipan TEMPO dan PBB tentang deforestasi, menjadi ratapan puitis yang menyentuh jiwa. Bahkan dikatakan bahwa kenaikan grafik keuangan perusahaan sering kali menjadi “peta jenazah” bagi alam dan manusia.  

Di titik ini, puisi bekerja seperti jurnalisme emosional. Ia tidak hanya memberi tahu. Ia membuat kita merasa bersalah. Ia tidak hanya menyebut angka. Ia menghadirkan wajah. Ia tidak hanya menyampaikan fakta. Ia mengubah fakta menjadi luka.

Di era banjir informasi dan AI, fakta saja tidak cukup. Emosi saja juga tidak cukup. Puisi esai menggabungkan keduanya: data yang berpikir dan rasa yang menyala.

Mungkin yang paling menakutkan, kita semua pernah diam saat bencana atau ketidak- adilan terjadi. 

Kita meresponnya seperti membaca berita seperti cuaca, tanpa sadar bahwa suatu hari, tanah yang runtuh bisa memanggil nama kita sendiri.

Kekuatan ini muncul saat infografis deforestasi tak lagi jadi angka dingin, melainkan denyut nadi yang berhenti. Data menyediakan akurasi yang jujur, sementara visual kamera memberikan duka yang nyata bagi pembaca.

-000-

Ketiga, buku ini penting karena membuktikan bahwa generasi muda tidak meninggalkan sastra. Mereka hanya meninggalkan cara lama menyampaikannya.

“Puisi tidak mati. Yang usang hanya cara membacanya.” Masa deklamasi lama yang penuh pakem, lalu melihat bagaimana puisi esai dapat dibawa ke teater, video, gerak, tari, musik, AI, Canva, dan eksperimen visual. 

Format video digital menjadi bahasa yang dimengerti Gen Z dan Alfa untuk mengekspresikan isu sosial.  

Ini penting bagi masa depan sastra Indonesia. Anak muda tidak alergi pada puisi. Mereka alergi pada bentuk yang tidak lagi berbicara kepada zaman mereka. Mereka tidak menolak kedalaman. Mereka menolak kekakuan.

Seorang peserta muda berkata, ia tidak menulis untuk dikenang, tetapi agar bumi tidak sendirian menangis. Di kalimat itu, saya mengerti: puisi telah pulang ke generasinya.

Jika sastra ingin tetap hidup, ia harus menjaga inti, tetapi memperbarui cara. Intinya adalah pesan kemanusiaan. Ornamennya adalah teknik. Yang harus abadi adalah nurani. Yang boleh berubah adalah medium.

-000-

Dua buku ini memperkaya pandangan kita tentang evolusi presentasi puisi. 

Pertama, buku berjudul  New Media Poetics: Contexts, Technotexts, and Theories. Ia diedit oleh  Adalaide Morris dan Thomas Swiss, 2006

Buku ini relevan karena membahas puisi yang tidak lagi hanya ditulis, dicetak, dan dibaca dalam bentuk konvensional. 

MIT Press menyebutnya sebagai kumpulan tulisan pertama tentang puisi yang “composed, disseminated, and read on computers.” Di dalamnya, puisi dipahami sebagai karya yang dapat bergerak bersama gambar, suara, layar, hyperlink, dan mesin.  

Bagi buku pemenang pembacaan puisi esai ini, gagasan tersebut sangat penting. Video pembacaan puisi bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah bentuk baru dari puisi itu sendiri. 

Ketika peserta memakai latar hutan, editing visual, musik, AI, gestur tubuh, dan teks layar, mereka sedang melakukan apa yang dibahas dalam New Media Poetics: membuat puisi menjadi pengalaman multisensorik. 

Puisi tidak kehilangan martabatnya ketika masuk ke layar. Ia justru menemukan kemungkinan baru. Buku ini membantu kita memahami bahwa puisi digital bukan penurunan mutu sastra, melainkan perluasan ruang hidupnya.

Kedua,  buku berjudul Remediation: Understanding New Media, ditulis oleh  Jay David Bolter dan Richard Grusin, 1999

Buku ini menawarkan teori penting tentang bagaimana media baru tidak sepenuhnya membunuh media lama, tetapi mengolah ulangnya. 

Bolter dan Grusin menyebut proses itu sebagai remediation: media baru menyerap, menata ulang, dan memberi bentuk baru pada media sebelumnya. 

MIT Press menjelaskan bahwa buku ini menantang anggapan bahwa teknologi digital harus sepenuhnya memutus diri dari media lama.  

Teori ini sangat tepat untuk memahami pembacaan puisi esai dalam video. Kamera tidak membunuh puisi. Editing tidak menghilangkan kedalaman teks. 

AI dan Canva tidak otomatis membuat sastra menjadi dangkal. Semua itu menjadi medium baru yang mengolah ulang tradisi lama: puisi lisan, deklamasi, teater, monolog, dan seni visual. 

Dalam lomba ini, puisi esai diremediasi menjadi video performatif. Yang lama tetap hidup, tetapi dengan tubuh baru. Di situlah kekuatan utamanya: puisi tidak berubah karena kehilangan jati diri, tetapi berubah agar tetap sampai kepada manusia zaman ini.

-000-

Saya selalu percaya, puisi yang baik tidak selesai ketika ditulis.

Ia baru sungguh hidup ketika seseorang membacanya dengan tubuh, dengan suara, dengan luka, dan dengan seluruh ingatan yang ia bawa.

Ketika melihat video para peserta, saya merasa sedang melihat puisi keluar dari kamar sunyi. Ia tidak lagi menunggu pembaca datang ke halaman buku. 

Ia pergi menemui generasi baru di tempat mereka hidup: layar ponsel, YouTube, TikTok, Instagram, ruang digital yang gaduh, cepat, dan mudah lupa.

Tapi justru di ruang yang mudah lupa itulah puisi harus hadir.

Agar manusia berhenti sejenak. Agar bumi tidak hanya menjadi latar foto. Agar longsor tidak hanya menjadi berita lewat.

Agar keluarga yang tertimbun tidak hilang menjadi angka statistik.

-000-

Buku ini mengingatkan kita pada satu gagasan besar: masa depan puisi bukan memilih antara halaman dan kamera, antara tradisi dan teknologi, antara suara manusia dan alat digital. 

Masa depan puisi adalah keberanian membawa pesan kemanusiaan ke medium yang paling mungkin didengar zamannya.

Puisi tidak mati ketika masuk kamera. Ia justru hidup kembali, selama yang direkam bukan hanya wajah pembaca, tetapi nurani manusia.*

Jakarta, 2 Mei 2026

REFERENSI

1. New Media Poetics: Contexts, Technotexts, and Theories
    Adalaide Morris dan Thomas Swiss, editor
    MIT Press, 2006

2. Remediation: Understanding New Media
    Jay David Bolter dan Richard Grusin
    MIT Press, 1999

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World

https://www.facebook.com/share/p/16myyJBcqC/?mibextid=wwXIfr ***