Cerpen Rusmin Sopian: Menanam Aksara, Menuai Peradaban

Oleh Rusmin Sopian

ORBITINDONESIA.COM - Cahaya rembulan perlahan menipis. Orang-orang mulai meninggalkan masjid, melangkah pulang dengan ritme yang tenang menuju ruang-ruang kebahagiaan di rumah masing-masing.

Pagi pun menyingsing.

Matahari merambat naik, mengusir sisa dingin malam. Jalanan mulai ramai. Suara kendaraan bersahutan, memecah kesunyian desa yang semula hening.

Di sudut kampung itu, Umar Bakri telah bersiap. Tas berisi perlengkapan mengajar tergantung di setang motornya—motor tua yang dibelinya saat masih bujangan, setia menemaninya hingga kini.

“Belum ada niat ganti motor, Pak?”

Pertanyaan itu sudah terlalu sering ia dengar. Ia hanya menjawab dengan senyum, kadang diselingi gurauan ringan yang membuat orang ikut tertawa.

Mesin motor tuanya menderu pelan, lalu melaju menyusuri jalan kampung yang tak selalu ramah. Sesekali batuk kecil terdengar dari mesin yang termakan usia. Jalanan berlubang, berdebu saat kemarau, dan berlumpur saat hujan—seolah menjadi sahabat perjalanan yang tak pernah berubah.

Padahal setiap musim pemilihan datang, janji tentang jalan mulus selalu menggema di telinga warga.

Perjalanan enam puluh menit menuju sekolah bukan hal baru bagi Umar Bakri. Puluhan tahun ia menaklukkan rute yang sama. Ia hafal setiap tikungan, setiap lubang, setiap tanjakan. Jalan itu bukan sekadar rute, melainkan bagian dari hidupnya.

Sesampainya di sekolah, ia memarkir motor di area parkir sederhana—tiang kayunya mulai rapuh dimakan usia. Lalu ia berjalan menuju gerbang, menunggu para murid datang dengan wajah ceria.

“Selamat pagi, Pak!”

Sapaan itu selalu menghangatkan hatinya.

Seperti biasa, ia menyapa balik dengan pertanyaan sederhana:
“Sudah sarapan?”
“PR-nya sudah dikerjakan?”
“Ayah dan ibu sehat?”

Bagi murid-muridnya, Umar Bakri bukan sekadar guru. Ia adalah tempat bercerita, tempat mengadu.

“Ayah saya sering pulang malam, Pak.”
“Ayahku jarang di rumah, Pak.”
“Bapakku bangunnya siang terus, Pak.”

Cerita-cerita kecil itu mengalir begitu saja, seperti sungai yang menemukan jalannya.

Umar Bakri mendengarkan—dengan sabar, tanpa menghakimi.

Tak jarang, selepas mengajar, ia menyempatkan diri berkunjung ke rumah murid-muridnya. Bersilaturahmi dengan orang tua mereka, berbincang tentang anak-anak, tentang harapan, tentang masa depan.

Kadang ia pulang membawa singkong, kelapa, atau hasil kebun lainnya—oleh-oleh sederhana yang penuh makna.

Tak heran jika ia sering pulang terlambat.

“Cari kerja sampingan, ya dia?” celetuk seorang rekan guru.

“Harusnya kita belajar dari dia,” sahut yang lain.

Di rumah, istrinya menyambut dengan tanya yang sama setiap hari:
“Kok lama pulangnya, Pak?”
“Ada tugas tambahan?”

Umar Bakri hanya tersenyum, lalu menarik napas panjang.

Menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil.

Dulu, ketika ia memilih kuliah di bidang pendidikan, banyak yang heran.

“Kenapa jadi guru? Kamu kan bisa masuk ekonomi,” kata seorang teman.

Ia hanya menjawab sederhana: “Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing.”

Setelah lulus, ia ditempatkan di daerah terpencil ini.

Jauh dari kota. Jauh dari keramaian.

Padahal ia punya kesempatan untuk bertugas di kota. Keluarganya memiliki koneksi. Jalannya bisa lebih mudah.

“Kamu ini kenapa tidak minta pindah?” tanya temannya.

Umar Bakri tersenyum. “Kalau semua guru di kota, siapa yang mengajar anak-anak di kampung?”

Jawaban itu sederhana, tapi dalam.

Sejak saat itu, hidupnya menyatu dengan papan tulis, kapur, dan suara murid-murid.

Dengan sebatang kapur, ia menanam aksara.

Dan dari aksara itu, lahirlah manusia-manusia baru.

Suatu hari, seorang pria muda menghampirinya. “Saya sekarang dokter, Pak.”

Yang lain berkata: “Saya jadi akuntan, Pak.”

Dan seorang lagi menyalami tangannya dengan haru: “Saya pengacara sekarang, Pak.”

Di situlah letak kebahagiaan Umar Bakri.

Bukan pada harta. Bukan pada jabatan.

Melainkan pada tumbuhnya kehidupan dari apa yang ia tanam.

Dari kejauhan, suara murid-murid terdengar bersenandung, memenuhi udara pagi dengan kehangatan yang tak tergantikan:

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
S’bagai prasasti terima kasihku ’tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendekia

Umar Bakri menatap langit. Matanya berkaca-kaca.

Ia tahu, mungkin namanya tak tercatat dalam sejarah besar.

Namun aksara yang ia tanam—akan terus hidup, menjadi peradaban.

Toboali, 2026

*Rusmin Sopian adalah penulis dan penggiat literasi Bangka Selatan. Kakek dari dua cucu, Nayyara Aghnia Yuna dan Muhammad Arkhana Nafiandy, ia menetap di Toboali. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Cerpen ini didedikasikan untuk para guru di seluruh pelosok negeri—dari Miangas hingga Pulau Rote. Selamat Hari Pendidikan Nasional!