Kisah Veronica Sherman: Penulis Israel yang Mengaku Pernah Dicuci Otak Agar Tidak Mengetahui Palestina
ORBITINDONESIA.COM - Veronica Sherman adalah penulis Israel yang mendapat pencerahan. Dalam bukunya, ia mengaku pernah dicuci otak agar tidak mengetahui apa itu Palestina. Berikut penuturannya:
Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa membela Israel adalah membela Tuhan. Ternyata itu hanya pencucian otak.
Dari umur 10 sampai 20 tahun saya dibesarkan di Yerusalem.
Tapi tahukah Anda? Kata "Palestina" saja tidak pernah bisa keluar dari mulut saya saat berusia 18 tahun.
Nama mereka, budaya, sejarah, identitas semuanya dihapus secara sistematis. Itulah fondasi pencucian otak yang saya alami.
Saya baru benar-benar sadar saat berusia 30 tahun, di Melbourne, ketika pertama kali mendengar tentang Nakba. Saat itu saya tahu saya telah dibohongi sepanjang hidup.
Ada versi cerita lain yang sengaja dihapus dan ditutupi kepada saya.
Perubahan besar terjadi tahun 2014.
Israel sedang membantai keluarga-keluarga di Gaza.
Saya membuka Google, mengetik "Gaza images". Dan saya melihat torso seorang anak kecil di antara reruntuhan.
Momen itu menghancurkan segalanya.
Dari situ saya berubah, dari yang dulu merasa sebagai Daud (yang benar), saya sadar bahwa sayalah Goliat (yang menindas).
Butuh waktu lama untuk memahami apa itu Zionisme.
Sekarang saya tahu itu adalah ideologi kultus kematian. Zionisme bekerja dengan satu bahan bakar utama membuat dunia percaya bahwa kami orang Yahudi adalah korban.
Tanpa narasi korban, mesin ini mati.
Maka setiap peluang, setiap tumpahan minyak, dimanfaatkan. Kami memang hebat dalam narasi, optik, branding, pemasaran. Semua keahlian itu digunakan untuk satu tujuan memperkuat identitas korban.
Sekarang sudah 12 tahun sejak saya membebaskan diri dari supremasi itu.
Dan saya tidak akan berhenti bersuara sampai Palestina benar-benar merdeka.
(Sumber: bukunya yang berjudul "Happily Never After", sebelumnya berjudul "Happily Made"). ***