Buddha dan Islam: Dari Koeksistensi Menuju Kolaborasi Peradaban
Oleh Ahmad Gaus AF., Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik, Universitas Nasional, Jakarta.
ORBITINDONESIA.COM - Pada 18 April 2026 lalu umat Buddha memperingati 24 tahun wafatnya Sukong Bhante Ashin Jinarakkhita (1923–2002), tokoh kunci dalam kebangkitan agama Buddha di Indonesia modern. Tulisan ini dibuat untuk mengenang beliau.
***
Sejarah panjang Nusantara menunjukkan bahwa agama bukan sekadar sistem kepercayaan, melainkan juga kekuatan peradaban. Di antara berbagai tradisi yang membentuk wajah Indonesia, Buddha dan Islam menempati posisi penting.
Keduanya tidak hanya hadir dalam lintasan waktu yang berbeda, tetapi juga berinteraksi secara damai, saling memengaruhi, dan bersama-sama membentuk fondasi kebudayaan bangsa. Dalam konteks kekinian, relasi historis ini bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan modal sosial untuk membangun masa depan yang lebih inklusif.
Agama Buddha masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan maritim sejak awal Masehi. Para pedagang dan biksu dari India membawa ajaran Dharma yang kemudian berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Proses penerimaannya berlangsung secara damai dan adaptif. Alih-alih menghapus tradisi lokal, ajaran Buddha justru menyerap dan menyatu dengan budaya setempat. Inilah salah satu kekuatan utamanya: fleksibilitas.
Puncak kejayaan Buddha di Nusantara terlihat jelas pada era Sriwijaya dan Mataram Kuno. Sriwijaya bukan hanya kerajaan maritim yang kuat, tetapi juga pusat pendidikan internasional. Para pelajar dari berbagai penjuru Asia datang untuk mempelajari filsafat, bahasa, dan praktik spiritual. Tradisi intelektual ini menjadikan Nusantara sebagai simpul penting dalam jaringan intelektual global.
Di Jawa, pembangunan Borobudur menjadi simbol pencapaian spiritual dan artistik yang luar biasa. Lebih dari sekadar monumen, ia adalah representasi visual perjalanan manusia menuju pencerahan. Peradaban Buddha saat itu tidak hanya unggul dalam bidang agama, tetapi juga dalam ekonomi, arsitektur, dan pendidikan.
Namun, kejayaan itu perlahan meredup. Runtuhnya Sriwijaya akibat serangan luar, perubahan jalur perdagangan, serta bangkitnya kekuatan-kekuatan baru menjadi faktor utama. Pada saat yang hampir bersamaan, Islam mulai berkembang di Nusantara melalui jalur perdagangan. Berbeda dengan banyak wilayah lain di dunia, peralihan ini tidak diwarnai konflik besar. Sebaliknya, ia berlangsung secara gradual dan damai.
Inilah salah satu keunikan sejarah Indonesia: tidak ada catatan perang besar antara Buddha dan Islam. Yang terjadi justru proses transformasi budaya yang halus. Nilai-nilai etika dan spiritual Buddha tidak hilang begitu saja, melainkan bertransformasi dan hidup dalam bentuk baru, terutama dalam tradisi mistik Islam atau tasawuf.
Kesamaan antara keduanya menjadi jembatan penting. Ajaran tentang welas asih, pencarian makna hidup, dan kedalaman spiritual menjadi titik temu yang memudahkan masyarakat menerima Islam tanpa merasa tercerabut dari akar budayanya. Para sufi yang menyebarkan Islam tidak datang untuk menghancurkan, melainkan mengadaptasi. Mereka menggunakan bahasa, simbol, dan metode yang sudah akrab bagi masyarakat.
Pendekatan ini terlihat jelas dalam strategi dakwah Wali Sanga. Mereka tidak menolak budaya lokal seperti wayang atau tradisi selamatan, tetapi justru memanfaatkannya sebagai medium penyampaian ajaran Islam. Hasilnya adalah bentuk keberagamaan yang khas: Islam yang inklusif, adaptif, dan berakar kuat dalam budaya lokal.
Proses akulturasi ini melahirkan identitas Indonesia yang unik. Agama tidak menjadi sumber konflik, melainkan ruang dialog. Tradisi gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, dan semangat harmoni sosial menjadi nilai bersama yang melampaui batas-batas agama.
Namun, sejarah juga mencatat bahwa agama Buddha sempat mengalami masa vakum yang panjang, terutama pada era kolonial. Fokus masyarakat bergeser ke Islam sebagai simbol perlawanan, sementara kolonialisme memperkuat penyebaran agama Kristen. Dalam situasi ini, Buddha nyaris kehilangan ruang publiknya.
Kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia modern tidak lepas dari peran tokoh-tokoh visioner yang berusaha menjadikannya relevan dalam konteks kebangsaan, salah satunya, dan yang paling berpengaruh, adalah Ashin Jinarakkhita. Salah satu langkah penting adalah upayanya “mengindonesiakan” Buddha—menjadikannya bagian dari identitas nasional, bukan sekadar warisan asing. Dengan pendekatan ini, Buddha kembali menemukan tempatnya dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Di titik inilah kita perlu melihat ke depan. Jika masa lalu menunjukkan bahwa Buddha dan Islam bisa hidup berdampingan secara harmonis, maka masa depan seharusnya bisa melangkah lebih jauh: dari koeksistensi menuju kolaborasi.
Kolaborasi ini bukan sekadar wacana idealistik, melainkan kebutuhan konkret. Di tengah tantangan global seperti krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, dan krisis kesehatan mental, agama-agama dituntut untuk hadir sebagai solusi. Buddha dan Islam memiliki sumber daya moral dan sosial yang besar untuk menjawab tantangan ini.
Dalam bidang pendidikan, misalnya, kolaborasi dapat diwujudkan melalui pertukaran pelajar dan kerja sama antar lembaga pendidikan. Tradisi intelektual yang pernah jaya di masa lalu dapat dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih kontekstual.
Dalam bidang sosial, kerja sama lintas agama dalam kegiatan kemanusiaan dapat memperkuat solidaritas. Program bantuan bencana, pengentasan kemiskinan, dan layanan kesehatan bisa menjadi ruang perjumpaan nyata antara komunitas Buddha dan Muslim.
Di bidang lingkungan, kedua agama memiliki ajaran yang menekankan tanggung jawab manusia terhadap alam. Kolaborasi dalam gerakan pelestarian lingkungan dapat menjadi kontribusi penting bagi masa depan bumi.
Sementara itu, dalam konteks global, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi model harmoni antaragama. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar sekaligus memiliki warisan Buddha yang luar biasa, Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan bukanlah sumber konflik, melainkan kekuatan.
Namun, semua ini hanya mungkin terwujud jika kita mau belajar dari sejarah. Ingatan kolektif tentang harmoni masa lalu tidak boleh hilang. Justru ia harus dihidupkan kembali sebagai inspirasi untuk masa depan.
Kita tahu, kejayaan sebuah peradaban tidak ditentukan oleh dominasi satu kelompok, melainkan oleh kemampuan berbagai kelompok untuk bekerja sama. Buddha dan Islam telah membuktikan dalam sejarah bahwa mereka bisa berjalan berdampingan. Tantangan kita hari ini adalah melangkah lebih jauh: berjalan bersama, membangun bersama.
Di era yang semakin terhubung ini, bekerja sendiri-sendiri bukan lagi pilihan. Masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan kita merawat perbedaan sebagai kekayaan, dan mengubahnya menjadi kekuatan kolaboratif. Jika itu bisa dilakukan, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara yang damai, tetapi juga menjadi peradaban yang memberi inspirasi bagi dunia.***