Pepih Nugraha: Menghancurkan "Jokowi Effect"

Oleh Pepih Nugraha, kolumnis

ORBITINDONESIA.COM - Ada satu nama yang masih menjadi hantu bagi ambisi para elite: Joko Widodo.

Meski secara formal masa jabatannya telah berakhir, pengaruh dan magnet elektoralnya yang sering disebut Jokowi Effect, tetap menjadi anomali yang menakutkan. Bagi para aktor politik yang ingin mengamankan kursi istana di 2029, pilihannya hanya satu: Pengaruh Jokowi harus dihabiskan!

Bagi para "King Maker" di Indonesia, keberadaan Jokowi bukan lagi sekadar kawan koalisi, melainkan ranjau berbisa. Mengapa demikian? Karena sejarah membuktikan bahwa siapa pun yang mendapatkan "restu" atau sekadar tunjukan telunjuk Jokowi, ia berpeluang besar melenggang mulus ke kursi presiden.

Para patron politik besar sudah mulai memanaskan mesin tentu saja. Megawati Soekarnoputri diprediksi tetap akan menjaga marwah trah Soekarno melalui Puan Maharani.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipastikan akan mengerahkan segala daya untuk mendorong AHY.

Bagaimana dengan Jusuf Kalla (JK)? Meski dihadapkan pada realita politik sebelumnya, JK diyakini tetap akan menjagokan Anies Baswedan sebagai antitesis pemerintah yang tetap akan dimajukan.

Diyakini, selama bayang-bayang Jokowi masih berwibawa di mata rakyat, ambisi-ambisi tersebut akan terus terjegal di tengah jalan.

Untuk meruntuhkan tembok pengaruh yang begitu kokoh, para politikus lawan diprediksi tidak akan menggunakan cara-cara halus. Strategi yang dijalankan adalah "Dejokowisasi" secara total, sebuah upaya sistematis untuk mendelegitimasi sosoknya dan trah keluarganya.

Menghancurkan Jokowi, dalam pandangan saya, tidak bisa dilakukan hanya dengan kritik kebijakan, tapi harus dengan serangan pada integritas personal dan legitimasi hukum.

Dua isu utama yang menjadi peluru tajam dalam operasi ini adalah

Isu ijazah palsu, sebuah upaya lama yang terus dipompa untuk meruntuhkan kredibilitas moral Jokowi sejak akar pendidikannya.

Selain itu, delegitimasi Gibran Rakabuming Raka dengan narasi "anak haram konstitusi," dimaksudkan lawan politik sebagai upaya memutus rantai regenerasi politik Jokowi. Pemakzulan atau setidaknya pembusukan karakter terhadap Gibran dianggap sebagai cara paling efektif untuk "menghabisi" satu paket bapak dan anak ini sekaligus.

Bagaimana sebaiknya para politikus ini bergerak?

Jika mereka ingin menang di 2029 tanpa bayang-bayang Jokowi, mereka harus menciptakan krisis kepercayaan publik. Selama rakyat percaya bahwa "tangan dingin" Jokowi membawa kemakmuran, maka siapa pun yang ditunjuknya akan menang.

Strategi melawan pengaruh besar ini harus dilakukan melalui antata lain

fragmentasi koalisi, yakni memastikan tidak ada kekuatan besar yang solid di belakang orang pilihan Jokowi.

Selain itu narasi perubahan radikal yang mencitrakan bahwa warisan Jokowi adalah beban, bukan prestasi, harus terus digelorakan.

Serangan hukum bertubi-tubi menggunakan celah-celah konstitusional untuk menggoyang posisi keluarga besarnya dari panggung kekuasaan, bahkan sudah dilakukan sampai sekarang.

Politik 2029 adalah soal adu eksistensi. Program dikesampingkan. Bagi para elite, Jokowi adalah penghalang nyata yang bisa membuat investasi politik mereka selama puluhan tahun sia-sia.

Menghancurkan pengaruh Jokowi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi mereka yang ingin memastikan bahwa di tahun 2029, bukan lagi telunjuk Jokowi yang menentukan siapa penghuni Istana Merdeka. ***