Menkeu Purbaya: Pemerintah Akan Genjot Pendapatan Pajak yang Ditargetkan Tumbuh 30% Sampai Akhir Tahun
ORBITINDONESIA.COM - Menanggapi sorotan lembaga pemeringkat kredit berskala internasional Standard and Poor’s (S&P) tentang rasio bunga utang terhadap penerimaan negara yang tinggi, Menkeu Purbaya mengatakan tak perlu takut. Pemerintah akan menggenjot pendapatan pajak yang ditargetkan tumbuh 30% sampai akhir tahun.
Ia optimistis target tersebut tercapai kalau pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Realisasi penerimaan pajak hingga 31 Maret 2026 tercatat Rp 394,8 triliun, tumbuh 20,7% (yoy), sedikit melambat dibandingkan Januari dan Februari yang sempat tumbuh masing-masing sebesar 30,7% dan 30,4%. Menurut Purbaya, itu karena di Maret ada libur panjang.
Tahun ini pembayaran bunga utang Indonesia ditargetkan Rp 599,5 triliun dalam APBN, sedangkan pendapatan negara ditargetkan Rp 3.153,9 triliun, rasionya telah mencapai 19%. Sementara utang jatuh tempo pemerintah sekitar Rp 800 triliun. Sehingga rasio pembayaran cicilan pokok dan bunga terhadap pendapatan (DSR) juga meningkat.
Menurut ekonom Paramadina, Wijayanto Samirin, eskalasi perang di Timur Tengah yang mendongkrak harga energi dan memicu pelemahan rupiah membuat DSR tahun ini meningkat, dari 49% menjadi 51%.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode April memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di 4,75%, suku bunga deposit facility 3,75%, dan lending facility 5,5%.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan itu untuk memperkuat stabilitas rupiah di saat memburuknya perekonomian global akibat perang Timur Tengah. Ia juga mengatakan, ruang penurunan BI Rate ke depan akan semakin lama dan semakin tertutup.
Selama periode konflik Timur Tengah, aliran modal asing keluar cukup deras. Sejak akhir Februari hingga akhir Maret aliran modal asing keluar, tercatat USD 1,7 miliar. Namun, pada April aliran modal asing masuk lebih deras, mencapai USD 1,9 miliar. Menurut dia, rupiah sudah memasuki kondisi stabil. Per 21 April rupiah di Rp 17.140/USD, hanya melemah 0,87 poin dari posisi akhir Maret. Perry yakin rupiah stabil dan menguat.
Sementara itu, Menkeu Purbaya memberhentikan Febrio Nathan Kacaribu dari jabatan Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal (SEF), dan Luky Alfirman dari jabatan Dirjen Anggaran.
Untuk sementara operasional kedua direktorat jenderal itu dipimpin seorang pelaksana harian (Plh). Mengenai karier Febrio dan Luky, Purbaya mengatakan, saat ini Kemenkeu masih melakukan kajian untuk menentukan posisi yang sesuai dengan kompetensi keduanya.
Selain dua posisi tersebut, kekosongan jabatan juga terjadi pada kursi Dirjen Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan yang sebelumnya ditinggalkan oleh Masyita Crystallin.
Purbaya mengaku tengah menyeleksi kandidat terbaik untuk mengisi tiga jabatan strategis Eselon I tersebut. Febrio telah mengabdi di Kemenkeu sejak 2020 dan menjabat sebagai Dirjen SEF sejak Mei 2025. Sementara itu, Luky memulai karier di Kemenkeu sejak 1995.***