Blokade Selat Hormuz: Dampak Ekonomi dan Geopolitik Global

ORBITINDONESIA.COM – Ketegangan di Timur Tengah memuncak ketika Presiden Donald Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS. Langkah ini diprediksi akan mengguncang pasar global dan memicu ketidakstabilan ekonomi.

Selat Hormuz, jalur vital untuk pengiriman minyak dunia, kini menjadi pusat ketegangan geopolitik. Setelah negosiasi antara AS dan Iran gagal, keputusan Trump untuk memblokade selat ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan energi global.

Pasar saham Asia merespons negatif dengan indeks Nikkei dan Hang Seng masing-masing turun -0,74% dan -0,9%. Sementara itu, harga minyak melonjak hingga +7,9%, menunjukkan sensitivitas pasar terhadap ketidakpastian geopolitik. Dalam negeri, IHSG justru menguat +0,56%, didorong oleh saham konglomerasi.

Langkah AS ini bisa dilihat sebagai taktik negosiasi yang keras. Meski demikian, ancaman dari IRGC Iran menandakan risiko eskalasi konflik yang nyata. Pasar tampaknya berharap negosiasi masih mungkin, meskipun ketidakpastian terus membayangi.

Langkah berani AS di Selat Hormuz mengundang pertanyaan mengenai masa depan keamanan energi global. Apakah ini akan menjadi katalis untuk konflik lebih besar, atau justru membuka jalan bagi diplomasi baru yang lebih konstruktif?

(Orbit dari berbagai sumber, 15 April 2026)