Perceraian Anthony Xie dan Audi Marissa: Hak Asuh, Aset Anak

detikHOT

detikHOT

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Perceraian Anthony Xie dan Audi Marissa menutup enam tahun pernikahan dengan keputusan yang jarang jadi sorotan utama: hak asuh anak jatuh ke Anthony Xie. Di saat publik biasanya terpaku pada drama, kabar bahwa aset dihibahkan untuk anak justru membuka pertanyaan lebih besar tentang perlindungan anak pasca-cerai.

Perceraian selebritas selalu punya dua panggung: ruang sidang dan ruang publik. Kasus Anthony Xie dan Audi Marissa memperlihatkan bagaimana keputusan hak asuh dan pembagian aset segera berubah menjadi narasi yang diperebutkan.

Di Indonesia, perceraian bukan hanya urusan putusnya relasi, melainkan juga penataan ulang tanggung jawab. Anak sering menjadi pusat sengketa, tetapi juga kerap menjadi pihak yang paling sedikit didengar.

Putusan hak asuh anak kepada ayah menantang asumsi sosial yang masih kuat bahwa ibu adalah pengasuh utama. Dalam praktik peradilan, pertimbangan utama seharusnya adalah “kepentingan terbaik bagi anak”, bukan popularitas atau sentimen publik.

Publik jarang mendapat akses pada detail pertimbangan hakim, sehingga ruang kosong itu diisi spekulasi. Karena itu, kabar “hak asuh ke Anthony” mudah dibaca sebagai kemenangan salah satu pihak, padahal bisa jadi itu pilihan paling stabil bagi rutinitas anak.

Bagian yang paling penting justru aset yang dihibahkan untuk anak. Ini menggeser fokus dari “siapa mendapat apa” menjadi “apa yang dijamin untuk masa depan anak”, sebuah pendekatan yang lebih dekat pada logika perlindungan.

Di banyak perceraian, aset menjadi alat tawar-menawar dan simbol dominasi. Ketika aset diposisikan sebagai milik anak, perceraian dipaksa kembali pada fungsi dasarnya: mengurangi risiko, bukan menambah luka.

Namun, hibah aset untuk anak juga menuntut tata kelola yang jelas. Tanpa mekanisme pengawasan, aset atas nama anak dapat tetap rentan dikelola orang dewasa dengan konflik kepentingan.

Secara tren, perceraian di ruang publik kerap melahirkan “pengadilan opini” yang menghukum lebih cepat dari sistem hukum. Dampaknya nyata, karena anak kelak tumbuh dengan jejak digital yang tak mereka pilih.

Karena itu, keputusan hak asuh dan aset seharusnya dibaca sebagai paket perlindungan, bukan bahan konten. Ketika narasi berubah jadi hiburan, kepentingan terbaik anak mudah tergelincir menjadi kepentingan terbaik algoritma.

Perceraian Anthony Xie dan Audi Marissa mengingatkan bahwa kedewasaan pasca-cerai bukan diukur dari siapa yang “menang”, melainkan dari seberapa sedikit anak menanggung akibatnya. Hak asuh kepada Anthony bisa menjadi sinyal bahwa pengasuhan ayah perlu dinormalisasi, bukan dipertanyakan secara otomatis.

Di sisi lain, publik juga perlu kritis terhadap romantisasi “aset untuk anak” sebagai akhir bahagia. Tanpa transparansi struktur hibah, wali, dan akses pendidikan-kesehatan, langkah itu bisa berhenti sebagai simbol, bukan sistem.

Yang paling tajam dari kasus ini adalah cermin sosialnya. Kita masih gemar menguliti pasangan yang bercerai, tetapi jarang membicarakan standar minimal perlindungan anak setelah putusan keluar.

Jika ada pelajaran, itu bukan soal memilih pihak. Pelajarannya adalah menuntut ekosistem yang membuat keputusan pengasuhan dan aset benar-benar bekerja untuk anak, bukan sekadar terlihat baik di headline.

Perceraian Anthony Xie dan Audi Marissa menegaskan bahwa akhir pernikahan tidak otomatis berarti akhir tanggung jawab. Hak asuh anak pada Anthony dan aset yang dihibahkan untuk anak memberi arah yang lebih protektif, tetapi tetap membutuhkan pengawasan dan komitmen jangka panjang.

Pada akhirnya, pertanyaan yang layak tinggal di benak publik bukan “siapa yang salah”, melainkan “apa yang paling aman bagi anak hari ini dan sepuluh tahun lagi”. Sebab perceraian yang paling beradab adalah yang tidak mewariskan perang, melainkan jaminan hidup yang layak. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)