Jam Kerja Malam Startup: Ishan Jindal Lickcious Tantang Rutinitas Pagi
ORBITINDONESIA.COM – Jam kerja malam startup kembali jadi perbincangan setelah Ishan Jindal, pendiri Lickcious dan alumnus IIT Delhi, mengaku paling produktif setelah pukul 21.00. Dalam wawancara dengan Moneycontrol, ia menyebut kantor yang sepi membuat fokus tajam dan ide mengalir tanpa gangguan.
Narasi populer di dunia wirausaha kerap memuja rutinitas pagi, seolah bangun subuh adalah tiket menuju disiplin dan sukses. Namun pengalaman Jindal menunjukkan produktivitas tidak selalu mengikuti jam biologis mayoritas, apalagi di ekosistem startup yang ritmenya cair.
Jindal mengatakan ia biasanya bangun sekitar pukul 11.30 dan tiba di kantor antara 12.30 sampai 13.00. Ia bekerja hingga 21.00 atau 22.30, lalu melanjutkan lagi sampai 03.00 atau 04.00, sebuah pola yang menabrak pakem “early bird”.
Kisah ini makin relevan karena ia tampil di Shark Tank India dan mendapat investasi Rs 50 lakh dari Anupam Mittal. Publik kemudian bertanya, apakah jam kerja malam startup adalah strategi cerdas, atau sekadar romantisasi kerja berlebihan.
Secara praktis, jam kerja malam menawarkan satu hal yang sulit dibeli: minim distraksi. Setelah pukul 21.00, notifikasi mereda, rapat berhenti, dan komunikasi lintas tim melambat, sehingga pekerjaan kreatif bisa dikerjakan tanpa interupsi.
Di banyak organisasi, siang hari tersedot untuk koordinasi, pemadaman masalah, dan keputusan cepat. Malam hari memberi ruang “deep work” yang lebih panjang, terutama untuk founder yang harus memikirkan produk, brand, dan strategi sekaligus.
Namun ada biaya yang sering disembunyikan oleh kisah sukses: ritme sirkadian manusia dan konsekuensi jangka panjang pada kesehatan. Sejumlah riset kesehatan kerja mengaitkan kerja larut malam yang konsisten dengan gangguan tidur, penurunan kualitas pemulihan, dan risiko stres yang lebih tinggi, terutama jika jadwalnya tidak stabil.
Dari sisi tim, pola ini tidak otomatis bisa ditiru semua orang. Founder boleh memilih jam kerja malam startup, tetapi organisasi tetap membutuhkan jam kolaborasi yang sinkron agar keputusan, eksekusi, dan umpan balik tidak tertahan.
Di sinilah perbedaan antara “jam kreatif pribadi” dan “jam operasional perusahaan” menjadi penting. Jindal bisa menulis rencana dan memecahkan masalah di malam hari, tetapi eksekusi tetap memerlukan struktur yang memungkinkan tim bekerja sehat dan terukur.
Faktor lain adalah budaya kerja yang terbentuk dari perilaku pemimpin. Jika jam kerja malam startup diposisikan sebagai standar moral, ia mudah berubah menjadi tekanan sosial yang memicu burnout, terutama pada karyawan muda yang ingin terlihat total.
Menariknya, Jindal tidak menjual jam malam sebagai resep universal, melainkan sebagai kecocokan personal. Ia menyebut dirinya paling kreatif pada larut malam, sebuah pengakuan yang justru menantang mitos produktivitas tunggal.
Kisah Ishan Jindal seharusnya dibaca sebagai kritik halus terhadap industri motivasi yang menyederhanakan sukses menjadi jadwal bangun pagi. Produktivitas bukan lomba siapa paling cepat membuka mata, melainkan siapa paling mampu mengelola energi, fokus, dan keputusan.
Meski demikian, ada bahaya ketika publik mengagungkan jam kerja malam startup sebagai simbol “kerja keras” yang lebih autentik. Kerja keras tidak identik dengan jam panjang, dan kreativitas tidak selalu lahir dari kelelahan yang dipelihara.
Yang lebih relevan adalah pertanyaan manajerial: kapan pekerjaan kreatif dilakukan, dan kapan kolaborasi terjadi. Founder yang bekerja hingga 04.00 perlu memastikan kualitas tidur tetap cukup, serta menjaga batas agar tim tidak terseret ke ritme yang merusak.
Investasi Rs 50 lakh dari Anupam Mittal memberi legitimasi pada narasi Jindal, tetapi legitimasi finansial bukan sertifikat kesehatan. Startup bisa menang hari ini, namun kehilangan daya tahan jika ritmenya membuat orang cepat habis.
Pada akhirnya, jam kerja malam startup bisa menjadi keunggulan bila dipakai sebagai strategi fokus, bukan sebagai identitas. Pilihan terbaik adalah yang terukur: jam kreatif yang sesuai tubuh, jam kolaborasi yang jelas, dan budaya yang tidak memuja pengorbanan tanpa kendali.
Rutinitas Ishan Jindal mengingatkan bahwa produktivitas adalah persoalan desain hidup, bukan dogma. Ia menemukan jam emas setelah pukul 21.00 karena sunyi memberinya ruang berpikir, dan itu sah sebagai pilihan personal.
Namun publik perlu lebih kritis saat menelan kisah jam kerja malam startup sebagai resep sukses. Pertanyaan yang lebih mencerahkan adalah: apakah jadwal itu membuat kita lebih jernih, lebih sehat, dan lebih mampu bertahan, atau justru meminjam tenaga dari masa depan.
Jika sukses memang maraton, maka ritme yang berkelanjutan adalah strategi paling modern. Barangkali pelajaran terbesar dari kisah ini bukan “bangun siang” atau “begadang”, melainkan keberanian menata kerja sesuai realitas diri tanpa memaksa orang lain ikut terbakar. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)