Studi Women in Real Estate Ungkap Bias Gender dan Risiko Keselamatan
ORBITINDONESIA.COM – Studi Women in Real Estate memotret bias gender, pelecehan, dan keselamatan kerja agen properti perempuan yang selama ini kerap dianggap “risiko normal” di lapangan. Data nasional itu mencatat hanya 58% perempuan merasa “sebagian besar aman” saat inspeksi properti, sementara lebih dari sepertiga pernah mengalami pelecehan seksual.
Industri real estate sering dipasarkan sebagai dunia yang fleksibel, berorientasi relasi, dan terbuka bagi siapa pun yang mau bekerja keras. Namun riset terbaru menunjukkan ada biaya tersembunyi yang dibayar perempuan: rasa tidak aman, bias, dan praktik kerja yang membuat masalah sulit dilaporkan.
Riset ini dipimpin Jacqui Barnes, Head of People & Growth Laing+Simmons, dan mensurvei 200 perempuan di seluruh Australia, dari pemula hingga pemilik bisnis. Barnes menekankan temuan ini merefleksikan pengalaman hidup, sekaligus relevan bagi pemimpin bisnis dan pekerja laki-laki karena menyangkut budaya organisasi.
Angka yang paling mengganggu bukan hanya insiden, tetapi diamnya sistem. Dua pertiga responden yang mengalami masalah memilih tidak melapor, yang berarti banyak kasus berhenti di level bisik-bisik dan strategi bertahan pribadi.
Temuan keselamatan kerja menabrak asumsi bahwa inspeksi properti adalah rutinitas biasa. Jika hanya 58% merasa “mostly safe”, maka sisanya bekerja dengan kewaspadaan tinggi, dan itu menggerus fokus, produktivitas, serta kesehatan mental.
Lebih dari separuh responden melaporkan mengalami bias gender, dan lebih dari sepertiga mengalami pelecehan seksual sepanjang karier mereka. Kombinasi ini menunjukkan masalahnya bukan insiden sporadis, melainkan pola yang cukup luas untuk disebut struktural.
Yang membuatnya makin serius adalah jurang antara pengalaman dan pelaporan. Ketika dua pertiga kasus tidak dilaporkan, manajemen mudah mengira “tidak ada masalah”, padahal yang terjadi adalah normalisasi dan ketakutan akan konsekuensi.
Barnes menyebut “proporsi yang tak dapat diterima” dari agen penjualan perempuan khawatir pada keselamatan mereka saat bekerja. Ia menuntut bisnis memeriksa prosedur dukungan dan protokol keselamatan, lalu menutup celah risiko secara proaktif.
Riset juga menggarisbawahi dua tahun pertama sebagai fase “make or break” bagi karier perempuan di real estate. Banyak responden merasakan ekspektasi yang tidak jelas, yang memicu tekanan tambahan dan membuat mereka seolah gagal sebelum benar-benar diberi peta jalan.
Di titik ini, KPI menjadi pedang bermata dua. Barnes menilai hasil penjualan tidak selalu menceritakan kinerja pada fase awal, karena periode itu seharusnya dipakai untuk membangun pipeline relasi yang berkelanjutan.
Implikasinya tajam: KPI yang sempit dapat “menghukum” kerja-kerja fondasional yang justru menentukan keberhasilan jangka panjang. Seorang agen bisa membangun jaringan, kepercayaan klien, dan prospek, tetapi tetap terlihat “tidak memenuhi target” karena indikatornya salah desain.
Di sisi lain, riset ini juga membantah prasangka klasik tentang perempuan dan pengasuhan. Sebanyak 44% perempuan yang masuk industri dengan anak kini tergolong high performers, dibanding 37% yang masuk tanpa anak.
Jalur kepemimpinan juga tidak kalah menarik. Sebanyak 42% perempuan yang masuk dengan anak kini berada di peran kepemilikan bisnis, dibanding 38% yang masuk tanpa anak.
Angka ini memperkuat argumen Barnes bahwa perbedaan bukan soal kapabilitas, melainkan kondisi awal dan struktur kerja yang mengelilingi pekerja. Dengan kata lain, “kualitas rekrutmen” tidak akan menyelamatkan organisasi jika ekosistemnya membuat orang kompeten kehabisan napas.
Riset ini memaksa industri real estate menatap cermin yang selama ini dihindari: keselamatan dan martabat kerja bukan bonus, melainkan prasyarat kinerja. Ketika perempuan tidak merasa aman saat inspeksi, bisnis sebenarnya sedang membiarkan risiko reputasi, risiko hukum, dan risiko kehilangan talenta tumbuh diam-diam.
Masalah pelaporan adalah alarm tentang ketidakpercayaan pada mekanisme internal. Jika korban memilih diam, itu bisa berarti prosedur tidak jelas, budaya menyalahkan korban, atau keyakinan bahwa melapor hanya akan merusak karier tanpa menghasilkan perubahan.
Industri sering menyederhanakan isu ini menjadi “pelatihan personal” seperti cara menghadapi klien agresif atau tips keamanan individu. Padahal yang dibutuhkan adalah desain sistem: protokol inspeksi, pendampingan, check-in, dokumentasi, dan konsekuensi tegas bagi pelanggar.
Soal KPI, temuan ini menyentil logika manajemen yang terlalu mengagungkan angka jangka pendek. Jika pipeline-building tidak dihargai, maka organisasi sedang memotong akar untuk mengejar buah, lalu heran ketika pohonnya mati.
Data tentang ibu bekerja juga menelanjangi bias yang sering tak diucapkan. Ketika perempuan yang masuk dengan anak justru menunjukkan persentase high performer dan kepemilikan bisnis yang lebih tinggi, yang runtuh adalah stereotip, bukan kemampuan mereka.
Karena itu, “menghindari percakapan” bukan sikap netral. Itu keputusan yang membuat lingkungan kerja inferior, memperkecil daya tarik perusahaan bagi agen perempuan terbaik, dan pada akhirnya menurunkan performa kolektif.
Studi Women in Real Estate memberi pesan yang sulit dibantah: budaya kerja yang aman dan adil bukan agenda moral semata, melainkan strategi bisnis. Ketika keselamatan, pelaporan, dan KPI dibenahi, yang diuntungkan bukan hanya perempuan, tetapi seluruh organisasi.
Pertanyaannya kini bukan apakah masalah itu ada, melainkan apakah pimpinan berani mengukurnya, mengakuinya, dan mengubahnya. Jika dua pertiga kasus masih menguap tanpa laporan, berapa banyak talenta yang sebenarnya sudah pergi dalam diam?
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Juli 2026)