Taufik Supriadi: Ketua RT yang Menyulap Got Menjadi Kolam Lele
Ketika kepemimpinan tak berhenti pada administrasi, tetapi tumbuh menjadi gerakan hidup bersama, maka perubahan tak lagi terdengar seperti wacana. Ia menjadi nyata, dekat, dan bisa dirasakan langsung oleh warga. Hal itulah yang tercermin dari langkah Taufiq Supriadi, sosok Ketua RT yang memilih bekerja melampaui tugas-tugas formal, ia memilih menghadirkan manfaat yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Di tengah kawasan permukiman padat, Taufiq memulai sesuatu yang tak biasa. Saluran got yang selama ini identik dengan genangan, bau, dan kesan kumuh, justru ia ubah menjadi kolam budidaya lele yang produktif. Gagasan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi dari kesederhanaan itulah lahir dampak yang tidak kecil. Sebab yang dibangun bukan hanya kolam ikan, melainkan juga cara pandang baru tentang bagaimana lingkungan sempit pun tetap bisa menjadi ruang tumbuh bersama yang memberikan nilai lebih untuk sesama. Bahkan pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat kawasan ini sebagai “kolam gizi” warga, sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan dan pencegahan stunting di lingkungan RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit.
Apa yang dilakukan Taufiq memperlihatkan bahwa kepemimpinan paling kuat sering kali lahir bukan dari ruang-ruang besar, melainkan dari keberanian membaca kebutuhan paling dekat. Saat banyak orang melihat keterbatasan lahan sebagai hambatan, ia justru melihat kemungkinan. Saat saluran air hanya dipandang sebagai bagian yang kotor dan harus dihindari, ia melihat peluang untuk menghidupkan fungsi baru yang lebih berguna bagi warga.
Dari situlah kepemimpinan Taufiq terasa berbeda. Ia tidak berhenti pada urusan administrasi lingkungan, rapat warga, atau pengesahan surat semata. Ia menghadirkan peran Ketua RT sebagai penggerak yang mampu menyatukan gagasan, kepedulian, dan tindakan nyata. Ia membuktikan bahwa memimpin lingkungan bukan hanya soal mengatur, tetapi juga tentang menghidupkan harapan di ruang yang selama ini nyaris tak dianggap.
Budidaya lele yang ia gagas pun bukan sekadar proyek simbolik. Inovasi itu menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih bersih, lebih produktif, dan lebih memiliki nilai bagi warga sekitar. Taufiq tidak membangun perubahan seorang diri. Gagasan yang ia bawa tumbuh bersama partisipasi warga, dari keterlibatan yang perlahan menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi semangat kolektif. Dari sana, got yang sebelumnya hanya dipandang sebagai saluran air, berubah menjadi simbol gotong royong yang bekerja dalam bentuk paling nyata. Bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup bersama yang benar-benar dijalankan.
Langkah yang berangkat dari lingkungan kecil itu pun, kemudian menarik perhatian yang lebih luas. Pada September 2025, Taufiq Supriadi diundang tampil dalam program Entrepreneur China di China Central Television (CCTV), Beijing, untuk memaparkan inovasi lingkungan berbasis warga yang ia bangun di Malaka Jaya. Kunjungan itu merupakan undangan resmi keduanya dari Tiongkok setelah sebelumnya hadir di Guangzhou. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan yang tumbuh dari tingkat RT pun dapat dibaca sebagai model perubahan yang relevan, bahkan di forum internasional. Karena itu, kisah Taufiq tidak berhenti sebagai cerita lokal yang viral, melainkan berkembang menjadi contoh bahwa inisiatif akar rumput dapat memiliki gema yang jauh lebih besar.
Namun, yang membuat langkah Taufiq layak dicatat bukan hanya semata karena sorotan tersebut. Nilai terbesarnya justru terletak pada keberanian memulai dari sesuatu yang kecil, lalu merawatnya hingga memberi manfaat yang lebih besar bagi banyak orang. Taufiq Supriadi memberi satu pelajaran penting: bahwa perubahan sosial tidak selalu menunggu kebijakan besar atau fasilitas memadai yang sempurna. Kadang, ia lahir dari kepedulian sederhana, dari ruang yang sempit, dan dari seseorang yang memilih untuk peduli dan mau bergerak untuk sesama.