Sejarah Ansor Itu Bela Palestina, tetapi Sikap Abu Janda yang Bela Israel Jadi Bikin Malu NU

ORBITINDONESIA.COM - Dalam acara debat TV yang dipandu Aiman Witjaksono pada Selasa malam, Abu Janda ngotot membela Israel. Ia seakan meremehkan perjuangan rakyat Palestina dan bahkan menyebut Israel bukan penjajah.

Perdebatan memanas hingga pada satu titik Aiman bersuara keras dan memintanya keluar dari forum. Jarang terjadi moderator debat harus sampai mengusir narasumber di siaran publik.

Yang membuat banyak orang mengernyit, Abu Janda ternyata pernah mengikuti diklatsar Banser. Fakta ini cukup mengejutkan. Bahkan tokoh intelijen senior NU, KH As'ad Said Ali, pernah menyebutnya sebagai “penyusup” ke lingkungan Ansor dan NU. 

Saya pernah ketemu Abu Janda di Jombang saat acara nasional pada 2017.  Dalam diskusi saya dengan salah satu tokoh nasional NU yang punya integritas pada Agustus dan September 2025, beliau menjelaskan bahwa acara di Jombang itu selain terindikasi ada Hasbara juga kemungkinan sebagai "miqat"  atau titik penting, yang kemudian diikuti berbagai forum internasional dan kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional 2025. 

Kembali ke debat di TV, Abu Janda tetap bersikeras dan berbusa-busa ngomong yang busanya bisa saya simpulkan bahwa Palestina bukan dijajah, dan Israel bukan penjajah, sambil menolak argumentasi dengan gaya dan bahasa meremehkan akademisi seperti Prof. Ikrar Nusa Bakti, Feri Amsari dan Husein Gaza.

Padahal jika benar ia kader yang memahami sejarah & "tradisi" NU, ia pasti tahu sikap para pendiri NU terhadap Palestina. KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah sejak era Hindia Belanda (Indonesia belum merdeka) sudah menyerukan qunut nazilah untuk Palestina.

Pada masa itu, Nahdlatul Ulama bahkan sempat dipanggil oleh Hoofd Parket (Kejaksaan Agung kolonial) di Batavia karena doa qunut tersebut dianggap menyasar Inggris dan kekuatan Zionis.

Hadlaratus Syaikh Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa qunut nazilah bukanlah ajakan menghina pihak lain, melainkan doa solidaritas umat Islam sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad setiap kali umat menghadapi musibah dan penindasan.

Solidaritas Palestina yang awalnya diserukan lewat pidato KH Wahab Chasbullah tahun 1938 di Menes, kemudian menjadi "tradisi" dalam tubuh NU.

Dalam “Pekan Rajabiah”, yang diceritakan oleh KH Saifuddin Zuhri, warga NU memperingati tiga hal sekaligus: Isra’ Mi’raj, hari lahir NU, dan hari solidaritas Palestina. Pada masa itu dukungan moral dan material kepada rakyat Palestina menjadi bagian dari gerakan keagamaan kaum Nahdliyyin.

Sikap NU ini bahkan berlanjut setelah Indonesia merdeka. Sejarawan Andree Feillard mencatat bahwa ketika Kaisar Ethiopia Haile Selassie hendak berkunjung ke Indonesia, kalangan NU dan Ansor ikut menekan pemerintah karena Ethiopia dianggap terlalu dekat dengan Israel.

Bayangkan,  ada tamu dekat Israel saja Ansor bersikap tegas. Artinya sejak dulu, sikap anti-penjajahan Israel sudah menjadi garis moral yang jelas di lingkungan NU.

Karena itu, ketika ada orang yang pernah ikut diklatsar Banser tetapi justru membela Israel dan meremehkan perjuangan Palestina, publik wajar menyimpulkan: ia sudah tidak berada dalam garis perjuangan pendiri NU terkait isu besar umat Islam, Palestina.

Jika organisasi ingin menjaga marwah sejarahnya, marwah yang ditanam oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH  Wahab Chasbullah, maka Ansor layak melakukan satu langkah tegas: mencabut keanggotaan Abu Janda.

(Oleh Ainur Rafiq Al-Amin) ***